Thursday, November 26, 2015

Hitam

Gagak
Suaramu perutku
Kala hanya semburat mentari yang terlihat

Gagak
Asingku pada tempat kau bersuara

Gagak
Aku cuma berani kopi o dan keladi
Tak lebih
Tak berani
Tak tahu

Gagak
Hitam kau
Sama hitamnya isi lipatan kulit
Menyaingi denting pinggan meja seberang

Gagak
Paruhmu tak kulihat membuka
Sama seperti mulut mereka
Tapi semangat mengunyah

Gagak
Aku kopi o keladi dulu
Memang tak seramai yang seberang

Tak apalah
Toh sehari saja esok tiada
Malu pun kusisih

(Batam 2015)

Saturday, August 15, 2015

Embun di Tengah Malam

Matahari telah lama mengangkat cahayanya saat itu
Bukan lagi sekadar cukup hingga hangatnya pun tak bersisa
Bulan yang malu-malu muncul mengganti

Tidak bulan maupun matahari yang hilang sebagai penanda
Hiruk pikuk dibawah cahaya buatan juga seperti lonceng bermula

Embun memulai memacu nafas
Embun memulai memeras peluh
Embun memulai cekatan pada karya

Wahai Embun

Beningmu tak sebanding orang-orang pada keranjang
Beningmu tak sebanding orang-orang pada lapak
Beningmu tak sebanding orang-orang pada basah beton
Apalagi
Beningmu tak sebanding orang-orang yang terbiasa cipratan lumpur bau

Wahai Embun

Wangimu memang tak pernah melintasi inderaku
Wangimu memang tak pernah membuatku menoleh padamu
Wangimu memang tak pernah kutahu seperti apa
Tapi yang pasti, engkau punya itu sebagai pelengkap beningmu

Wahai Embun

Ingin aku melontar kata dan tanya
Tapi sudahlah
Orang pada keranjang, lapak, beton basah dan yang terbiasa cipratan lumpur bau tentu sudah lebih dahulu
Dan
Mungkin saja engkau tak benar-benar ingin menjawabnya

Wahai Embun

Beningmu membuatku menoleh
Beningmu membuatku bertanya-tanya
Beningmu yang kusebut, adalah pertanda kekaguman
Atas pacu nafasmu
Atas peras peluhmu
Atas cekatanmu
Atas kehendakmu mengumpulkan rupiah

(Pontianak 2015)


Terjagalah dari Damai

Coba kau buka mata
Benarkah tenang itu manisnya buah
Di tanahmu kau tahu, belalang terus saja ada
Tapi tak anggap mengancam wangi ranum
Suara kami mungkin keras bagi telinga lembutmu
Hingga mencetus kami perusak damai lelapmu

Bukan kami mengorek lubang
Tak pula mengais ketenaran
Hanya mau berkata, terjagalah, pemetik tenang itu menunggu waktu

Rantai 2 Liontin

Dua liontin perak tak bercacat di tangan malaikat
Kilaunya bersekawanan meski tak sebentuk
Mengantar arti di satu saling lengkap
Dua liontin perak tak tampak cacat di tangan malaikat
Sedekat bersisian diletak pada pangkuan
Di kepalanya terpasang mahkota buat penyatu

Dua liontin perak tak cacat fisik di tangan malaikat
Tapi miliki hati mendobrak dogma norma
Mengandai satu rantai perak sambung ikat

Petuah

Sekumpulan pemuka melafal mantera
Kitab yang ditenteng, penderet rumusan angka ramalan
Selebihnya, mereka telah menyimpannya di luar kepala

 Mantera-mantera itu sepertinya tak asing dan  lama telah kudengar
Urutannya berbeda membuatnya ada terasa baru didapat
Pembedanya rumusan ramalan dan kalimat-kalimat indah lainnya

Para pemuka melafal mantera yang disusun dari kelihaian otak di balik altar
Entah benarkah menjiwai mantera itu, karena pemuka berkulit bersih
Pernahkah mereka mengulur tangan langsung mengurapi

Aku hanya berharap
Sebelum para pemuka melontar mantera
Mereka menjiwai apa yang mereka lontarkan
Agar tak jadi sebatas petuah yang habis ketika pesanan pengobatan tak lagi ada

  

Gadis Pelayan Resto


Salju tak lagi turun
Salju masih memutih luas hampar daratan
Salju kujamah malu ujung kuku
Ini kali lihat, pertama rasa, enggan pula mencecap

Kali itu, mungkin pertama, juga tak dua melebih
Gadis pelayan resto menyerupa salju
Anak cucu dari pangkat sekian 1800-an lalu, menderajat diri pada kelas bangsa yang tinggi
Membudak leluhur sekehendak hati hingga jajah, namun sejenak membalik
Seperti sama pada gaya leluhurku pada leluhurnya yang kini dilakoninya


Aku memandang bukan sekadar mengagum
Menanya hati, meninggi diri, bahwasannya keturunan itu melayanku
Menyelempang tangan merapat badan sekaligus membungkuk hormat dengan suara pelan
Dingin tak mampu usir congkak dada mendongak dagu
Aku pun berperilaku seperti leluhurnya dahulu pada leluhurku
Pun, ingin aku menjajah dan perilakunya membasuh mungkin luka hati

(Amsterdam, 2010)

Menjejak Tanah Leluhurku di Leluhurmu

Senyum sejenak
Menjejak tanah mantan
Memulai dari ratusan tahun silam
Di sini adalah adanya dirimu
Melebar layar menyapa tanahku

Jauh bangunmu dari bangun jajahmu
Leluhurmulah mengaya seperti kini dirimu
Pada tanahmu ada hakku kalau mau menuntut

Indah dirimu terbalut dingin putih
Merona urat, mengkerut otot saat itu
Jauhkan angkuh, karena leluhurku dan tanahnya jasa
Jejak ini buat menyambung rasa
Mencoba meresap darah leluhur mendasar di negrimu
Adakah kau coba lagi membagi
Sebagai penghapus dosa masa lalu leluhurmu


(Schiphol Airport, 2010)

Monday, July 27, 2015

Pesan Pendek

Salam ianya sampai setelah subuh
Ambangkan niat yang termaktub, lama baru tersimak

Malam pun lewat ketika menyadarinya
Andai saja awal, tentu dapatlah jadi pesan tulus
Nantilah….nanti saja….mungkin bukan saatnya

 (Nov2008)

Sifat Alammu

Hidupmu kau jejak di tumpukan buangan
Begitu mudah kau mengikat angin daripada saat sengaja kuletak
Mengapa?

Aku ingin kau punya tempat layak
Tapi sifat alammu meneguh pilihan
Mungkin engkau enggan aku mencampurimu

Jika satu saat aku harus mengulur tangan
Relakanlah tubuhmu kukasihi
Biarkanlah tinggi gemulaimu kunikmati
Hingga pada saatnya wangi ranum kembali kurenggut dari tangan-tanganmu

Salju Desember Kincir Angin

Gerakmu sesunyi hening air tak beriak
Membatu akibat terpaan badai lalu
Salju desember itu tak sama tahunan sebelumnya
Turun, terus menetap menyimpan tapak

Angin tak sapa kincir memutar pelan
Angin adanya menjahit kulit dari empat lapisan wol
Begitu pula bibir-bibir para asal kebanyakan

Kaumku, aku melihat menyambungmu
Mereka memegah kota dari sedikit jasa ibu
Sedikit hanyalah pembilang
Dari lebihnya mengisi perut mereka
Beginilah harusnya kita jika membuang dungu
Sama menderajat, mungkin melebih lagi
Tak harapan gerak dari angin memutar kincir

(Amsterdam, 2010)

Pekik Malam Setia

Sunyi itu bukan dusun
Senyap itu tidaklah desa
Kelamnya pun tiada rimba
Dengung gemuruh sayup-sayup tetap menyerta

Harusnya kau menempat diri bukan rumpun berhias
Tak ada penjejal perut hingga pagi menjemput
Wuok..!!
Pekikmu entah bermakna apa
Setia bersahabat pada mereka yang terlahir dan terbawa di kota

Rumahmu memang tipis lagi
Tak mampu jadi lumbung yang juga kian gersang
Entah masih pun tiada ketika turunan dari jiwaku dan dirimu mengganti tempat
Sama menyambung hari dari waktu yang mungkin kian bermusuh
Yang kupasti, adamu mungkin hanya akan ada di lembar-lembar warna
Pada tambahan punah dipengenal

Sejuk Putih

Sejuk hembusan itu mesin alam
Memutih hampar pun sejak di awal melayang
Ternoda hanya dari kerap jejak menapak

Melapis diri menerawang pandang pada luasnya bentang
Entah bagaimana jika selimut menyerupa dinding itu menutup pertiwi

Lihat saja pada anak-anak  bumi sejuta pulau
Pembatas dengan dunia luar hanya sekadar menutupi
Banyaknya pun semudah di tatap mata
Belum lagi yang hanya mengatap dari daun-daun angin

Mungkin perlulah sekali waktu itu berlaku
Buat meredam panas darah yang kian kerap muncul
Mengawal beragam alasan dari kepentingan segelintir

(Volendam, desember 2010)

Dreannali

Menyentak masih belum kau bunyi
Sekata sentuh
Menggeliat jawabmu
Bertahun tunggu

Gerakmu menarik sungging lebar
Membayang geliat nyata bila depan mata
Kami empumu
Rasa tak kata
Dari sejuta harap
Bertahun tunggu

Senyuman Setengah Jiwa

Pada cahaya tengadah menatap harap
Lama tanda bakti setengah jiwa bergelut waktu
Kesempurnaan diri kerap dipertanyakan dari tapa tahunan

Setengah jiwaku bertanya-tanya
Rundung duka menyergap sekerap tarikan nafas
Tak putus pekikan hati meminta berkat pada raga
Mata terpejam
Bibir terkatup rapat
Telapak mengatup erat
Dada mengalun pelan

Iba menyergap rasa pada setengah jiwa
Terpuruk rasa diri seperti tak berarti dalam ikatan
Tapi hebatnya, tak putus untuk tengadah

Jawab dari asa dan tanya menyentuh setengah jiwa
Gelora dada tak kuasa tertahan
Keyakinan diri dipertanyakan
Apakah benar?
Sederet pembukti dilepas mencari tahu

Dia ada
Senyumpun ada
Dahaga Setengah jiwaku dipupus
Jawaban itu turun dalam berkat raga

Keyakinan Sang Peramal

Sang peramal menarik sungging di balik jubah berpotongan setengah
Telapak kanannya terjulur menunjuk lempeng kayu dingin
Sejurus  jemarinya mulai mengeluarkan gerakan mantra
Dia tengadah, kemudian membawa setengah jiwaku menghadap langit

Kerut di keningnya  menaik
Kehampaan ruang diperlihatkannya sembari memainkan alat mantra ketika itu
Sorot matanya tampak seperti kebingungan
Tak lama, setengah jiwaku pun kembali dengan sang peramal masih mengoceh
Kutangkap sang peramal seperti salah tingkah
Mungkin..belum pernah dia gagal dan meramu mantra sebelumnya sehingga yang keluar dari mulutnya pun tak begitu mampu menepis raguku
Sang peramal hanya dapat memberikan pilihan bergantung karena untuk mengajakku kembali mengunjunginya pun dia tak berani

Sang peramal keyakinannya tergerus?
Sang peramal mantranya tak kuat lagi?
Sang peramal menyesali diri?
Sang peramal mencatat gagal?
Sang peramal tak ambil pusing?

Setengah jiwaku kubawa lagi setelah bulan tak lagi datang
Raut sang peramal masih sama seperti saat kutinggal lama
Tersentak sedikit ketika tahu setengah jiwaku tak dijemput bulan
Lalulah, mantra pun mulai dirapal
Kembali setengah jiwaku menghadap langit
Sang peramal berubah mimik muka
Sepertinya dia senang
Mantra yang dilepasnya lama ada juga hasilnya
Namun tetap saja kelihatan ia salah tingkah

Biarlah..
Biarlah sang peramal merasa mantranya mumpuni
Aku tak hirau
Aku berharap mantra lain
Meski harus kutebus pundi berat

Bulan Tak Lagi Menjemput

Bulan tak lagi datang menjemput setengah jiwaku
Bulan tak lagi datang melepas jejak
Aku masih tak percaya
Aku tak ingin terlalu bersuka

Lama kuberteman bersama bulan
Jenuh rasa menerpa hati
Kuingin hanya matahari yang menemani
Tanpa bulan yang enggan melepas setengah jiwaku

Bulan mungkin mendengar resah hati
Bulan mungkin dibisiki para penguasa alam
Bulan memutuskan tak menemani
Bulan
Terima kasih engkau melepas setengah jiwaku saat ini
Sejenak, biarkan aku berteman dengan matahari

Bulan tak lagi datang menjemput setengah jiwaku
Membiarkanku mendapat kesukaan terang untuk waktu yang cukup lama
Ada saatnya kumerindumu bulan
Tapi nanti
Nanti saja
Kau pasti akan kupanggil
Lewat suara hati
 

Seribu

Seribu ada di lembaran
Menyata angka terombang ambing
Seribu ada di pulau
Menyata letak berpisah-pisah
Seribu ada di kelenteng
Menyata jumlah tak satu-satu
Seribu ada di masjid
Menyata banyak pada satu tempat
Seribu ada di gereja
Menyata kumpulan mendiri altar
Seribu ada di ibu
Menyata semua milik jangan mengkotak-kotak

(Manado 2011)

Seratus Nyawa Anakku

Anak-anakku
Pertiwi menanti gemulai gerakmu ketika kau menancap kaki kokoh
Anak-anakku
Tak mudah menerjang alam dari tempatmu berasal
Anak-anakku
Barisan yang kubuat akan menopang kekuatan kalian

Seratus nyawa anak-anakku kupertaruhkan di bumi asing
Belum cukup usia untuk kulepas berperang sendiri
Menantang kadar menggelegak nafas
Merentang tubuh di panas merajam kulit
Menjejak kaki pada selimut rapuh

Seratus nyawa berperang berbekal ilmu dangkal
Menyeruak rimbunan keinginan yang lebih dahulu ada
Disitulah lindungannya menyabung nyawa
Seratus nyawa jadi lentera pembuka
Seratus nyawa bakal jadi benteng terdepan
Menemukan jalan bagi seratus nyawa berikutnya
Nyawa dari anak-anakku yang suatu saat kupanggil kembali

Pasrah

Kini mata tersungging
dengan bibir melirik
Sekarang hidung berdehem
pada tenggorokan bersin
Membuat jantung keroncongan
di lambung berdegup

Entah dapatkah telinga ini
melihat sembari mata mendengarkan?
Yang ada,
tangan ini terus melangkah,
mengikuti arah kaki
menunjuk

Pakis Umbut

Tanah tani tak tampak sawah
Mungkin sekali jalan
ada di sisi lain
Padi pada lumbung mungkin dari ladang
Menyambung perut menutup lapar
Biarlah
Mungkin itu tradisi
Padi pada lereng bukit ladang

Hutan penyedia segala perlu
Tempatnya pula aneka hayati
Katanyalah

Tapi anehnya
Hanya pakis umbut pada piring makan
Dimana daun ubi dan cangkok manis?
Dimana pucuk muda daun perenggi

Tidakkah lagi
cangkul akrab pada kampung
Karena sesawi hijau
ada dapatku di kota mudah

NIR

Tiada sejalinan dari gemeretak jalan kayu
Baja yang jadi pasak menyatu tanah
Penjejak mungkin membekasi permukaan licin akibat kerap gesekan
Tapi apalah, jika alam menghapusnya hari ke hari

Langkah henti diujung gertak lapuk
Memelintir leher
Jika adalah seorang tauke
Engganlah dia nirlaba
Tapi penjejak itu hanyalah badan
Pemilik rasa mengatasnama yang tak berumus
Hanya adalah pada isi hati menyebut
Nirasa
Nir pada semua yang pernah ada

Negeri Hantu

Jangankan yang ada hidup
Yang tiada saja miskin
Tengoklah pakaian yang melekat..masih beruntung ada penutup aurat

Para hantu dari negeri seberang
Mereka berjas dan penampilan mentereng
Para mahluk halus lainnya, terlihat berpenampilan kebangsawanan dan ksatria
Menjadi penunggu dunia lain mereka kaya
Menyirat berada saat tarikan nafas ada

Negeriku
Pakaikanlah para hantumu gaun terbaik
Bangsaku
Kenakanlah para gentayanganmu jas rapi

Tanah ini harta menumpuk
Meski tak pembilang kaya
Teteskan saja ludahmu
Jadilah dia pohon

Sadar ketika mata pada hamparan tak bernyawa, jangan sesal
Koar yang ada sekarang bukannya menyeru anti
Adanya menghembus bejana imbang
Menjunjung harap tak ada melihat punah
Setidaknya
Biarkan para hantu tetap tersenyum
Memiliki rumah yang damai
Meski tak berpakaian layak
Mengobati luka hati semasa nafas mengalir badan

Kutitip Anakku Pak Tua

Pak Tua, kutitipkan anakku di kakimu tanpa bekal sedikitpun
Hanya di ujung kakimu saja agar ia tak mengganggu dewasa-dewasa lain
Pak Tua, kupercayakan anakku padamu dengan penanda kalung tali bermata alumunium
Ada namaku di situ agar kutahu anakku kelak ketika ia dewasa

Pak Tuan jangan beritahu dia siapa orang tuanya
Meski dia bertanya nama siapa yang ada di kalungnya
Biarlah suatu saat kala aku menjenguk engkau, kusapa dia dengan suaraku
Biarlah suatu ketika kudatangi engkau, kupeluk dia dan kupanggil dia anak
Atau Pak Tua
Biarlah aku tertegun takjub melihat ia berdiri tegap menjaga engkau yang dianggap ayahnya
Aku takkan iri pak tua

Jagalah anakku pak tua
Kuserahkan nasibnya padamu
Karena aku pun tak yakin benar apakah kumencintanya sepenuh hati
Jangan pula merasa bersalah pak tua
Ketika suatu saat tak kutemukan anakku di kakimu
Tak perlu meminta maaf pak tua
Jika kutemui dia sudah lama tak menghirup udara segar, menyusul sejawatnya yang telah lebih dulu melepas nyawa
Jika dia memang harus lebih awal mendahului aku menghadap sang khalik, izinkan aku mengusap kakimu pak tua
Sebagai maafku atas anakku dan dirimu
Karena sesungguhnyan akupun tak yakin menyayanginya
Jikapun kau bersedia, kuharap kalung pemberianku pada anakku tetap ada
Akan kupakaikan pada anak-anak lain agar aku tekenang padanya

Engkau Sendiri Anakku

 Engkau kini sendiri anakku
Satu dari ratus yang juga belum dewasa
Sodara-sodaramu setanah menyusul kerabat lain
Mereka yang lebih dahulu pergi dengan peristiwa sama

Perlahan engkau takkan lagi hidup sejenismu
Mereka-mereka yang akan menggantikan jenismu dan mengganti dengan kehiasan

Maaf anakku
Engkau memang terbiarkan untuk hidup sendiri
Tak ada asuh hari-hari sampai engkau dewasa
Sampai ketika dimana engkau membaktikan diri untukku

Entah nasib apa menunggumu nanti
Hanya kau seorang pu tak cukuplah untuk sepasukan
Mungkin kau akan tetap terbiarkan
Sampai satu ketika engkau mungkin dianggap hanya bentuk yang tak berguna

Maaf anakku
Maaf tak ada airmata haru untukmu
Maaf tak ada sebongkah atau bahkan secuil duka untukmu

Saturday, July 25, 2015

Laskar Penunggang Kuda

Kuda meringkik pelan dalam senyum para penunggang
Kuda menapak pelan dituntunan tangan para penunggang
Kuda dipasang di muka, membantu perang
Kuda dipasang di muka, dengan penunggang yang memimpin laskar dan panglima

Perang memanas dikala laskar dari tanah seberang mencoba keberuntungan
Perang itu, perang antara para dewa, mempertahankan tahta
Perang itu, perang antara para dewa, menguji ilmu
Perang itu, perang antara para dewa, mencari umat
Perang itu, perang antara para dewa, melebar kekuasaan
Perang itu, perang antara para dewa, yang memberi berkat pada kami laskarnya

Aku penunggang muda dengan kuda yang membuatku nyaman
Aku penunggang muda dengan pundi perak para dewa yang melebar senyum
Aku penunggang muda dengan dada membusung bangga atas puja-puja
Aku penunggang muda dengan jamuan setara dengan para dewa
Aku penunggang muda dengan selaksa harap para dewa
Aku penunggang muda dengan gundah atas titah perang para dewa
Aku penunggang muda dengan tertawaan hati
Aku penunggang muda dengan melampaui panglima yang sarat darah perang

Ya..panglima belum lama kusandang
Ya..panglima yang kusandang belumlah sarat darah perang
Ya..panglima yang diraih karena tak ada lagi yang lain
Ya..panglima yang dipanggul hanya karena kebiasaan

Awal musim itu, aku prajurit perang, dengan perang terbuka
Tengah musim itu, aku jadi panglima, dengan sedikit bekal laskar
Akhir musim itu, aku jadi penunggang kuda, memimpin panglima dan laskar
Sebuah musim dengan titah para dewa akibat serangan laskar tanah seberang

Terima kasih laskar tanah seberang
Terima kasih musuh para dewaku
Adamu buat adaku dititah para dewa
Adamu buat adaku ditambah pundi
Tapi sesungguhnya hai laskar tanah seberang
Kita adalah laskar biasa
Memainkan perangnya para dewa
Yang membakali ku kuda
Menjadikanku laskar penunggang kuda



Membunyi

Sendok mungkin saja berhenti mengaduk
Menghindar denting membising dengar
Garpu dapat mengalah patah enggan tusuk
Pada daging empuk bundar jati
Memiring batu si penanak bejana berkerak jelaga
Pada pijak sekarang, suara terbungkam pikir
Riuh rendah sekadar stereo hinggap lenyap
Segelintir mendengar bagai lagu merdu sebagiannya asal tak senyap saja
Tidak bisa menyalah, karena punya dendang beda merasa

Mungkin lirik nadaku penyejuk yang salah putar
Aku sendiri pun kerap mengasal bunyi mengabai nikmat sendiri
Kadang pula enggan bergoyang saat lirik sama disuarakan seberang muka
Benarkah di sini pentasku?

Mendenting bising sendok pengaduk harus bunyi pada kanan
Kirinya garpu mesti tak mengalah
Entah bagaimana melontar batu dari bejana
Aku mau membunyi merdu dari panggung pijakan kini


(Episode nahkoda penunggang kuda)


Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 5)

Mata putri malam menjingga dari putih setengah di separoh keriuhan tersisa
Tak sampai tengah malam, terkatup sepalingan kepala

Tak sempat  nahkoda penunggang kuda menikmati mesranya tatap putri malam
Deretan pembilang hitung
Mencipta banjir hidung
Tiada peka pada malam kidung
Antar nahkoda di pintu bingung

Ooo...malam pantai tak debur ombak
Nahkoda habis akal melontar tombak
Bukan karena dibekal legiun untuk merompak
Tapi belum terasah pada perang tak berotak

Nahkoda mau maju perang
Tak lagi sambil menunggang kuda
Tapi ragu apakah laut medannya
Atau mungkin juga takut pada yang tak patut

(Manado, 2011)

Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 4)

Derap kudaku lemah menjejak
Menelapak dinginnya buritan kapal
Kepalanya tertunduk lesu menatap perang
Sadar sepertiku meraih kemenangan yang tak pasti

Wahai kudaku
Aku penunggangmu
Bukan salahmu turun di medan laga yang tak buatmu berlari kencang
Telah lama pasukan perang laut kita tak bergairah mengangkat pedang
Mungkin mereka juga ada di ambang batas gelapnya pertempuran
Perang membuat pundi mereka terisi
Karena tak ada lahan pertanian yang bisa mereka garap

Entahlah wahai kudaku
Bisa saja ada perang lain yang dapat mereka lakukan jelas
Sementara ini
Mereka harus bertahan dahulu
Bertahan dari perang menjenuhkan
Bertahan dari nasib hidup di tengah perang
Membawa pundi yang tak seberapa
Pundi penyambung hidup hingga batas usia seorang prajurit

Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 3)

Mata ini masih mengantuk.
Mata ini masih terasa perih akibat torehan baris kata.
Tak cukup gurat hangat tertempa di muka menghapus timbangan rasa menggelegak yang muncul tiba-tiba setelah malam merangkak.
Hangat genggam jari sejiwa sebelah hanya menenangkan sesaat sebelum mengeram derit liuk besi. 
Sejuk pagi pun masih belum mampu menyingkirkan gelegak malam bersisa.

Aku tak terbiasa dan enggan bertutur seperti kanak yang terganggu rasa hatinya. Kemudian meringkuk melepas sesak dada sembari menuding asal tersakiti. Kesombongan menderaku untuk mengatup dan membiarkan suara-suara serta pekik-pekik penentangan tetap berada di tempatnya.
Aku tak mau menyeret para penguasa hatinya ikut bersekutu denganku.
Tidak untuk sekadar mengiyakan hingga bahkan melebihi diriku mengutuk.

Kau harusnya sadar
Peperanganmu di ladang gersang bukan perangku
Mantera sihirmu bukan pula tenaga raga mengayun pedangku.
Jangan engkau seret aku dalam perang ego mu pada para dewa
Melontar ketidakpuasan dengan mengorbankan prajurit yang sudah sakit
Usahlah meminta minum dari piala emas yang diberi para dewa
Karena pedangmu saja belumlah cukup meminum darah
Aku berdiri di buritan kapalpun karena keingintahuan belaka untuk berlabuh di tanah asing.

Maka ketika titah berbunyi, lembar lontar segera kuserahkan sendiri pada para dewa.
Aku menolak nahkoda karena aku adalah laskar penunggang kuda.
Namun titah tetaplah kuasa dewa, yang membuatku menjadi nahkoda sembari menunggang kuda di buritan kapal.
Gagah memang.
Tapi tahukah kau betapa limbungnya ketika berombak.
Kudaku yang sudah terbebani diriku masih harus mengimbang kaki.
Tahukah kau?
Aku nahkoda tanpa peta dan tanpa pundi emas dari para dewa. 
Aku hanya berbekal pundi perunggu yang berlubang tengahnya.

Tak ingatkah engkau pundi perakku yang dibawakan bangau saat mengarungi samudera, adapula kau rasa?
Pundi itu kusisih karena kita masih di laut bebas.
Kusimpanpun mungkin hilang kala ombak menerjang buritan.
Aku menyisih pundi agar isi kepala mu tahu, kita berperang tanpa tombak panjang.
Aku hanya mau kau mengerti, dengan pedang usangmu, sudah cukup baik jika kita mampu menahan musuh.
Itu saja dulu.
Jangan kau harap tameng baja berlukis.
Jangan kau harap lembing bermata tajam.
Jangan kau harap anak panah berbusur terik.
Karena tak ada semua itu sampai sang dewa melihat kita menjejak kaki bukit.

Pakai saja dulu pedang dan perisai usangmu.
Jangan dengki melihat kilauan pedangku.
Toh kau menggunakan penutup dada yang lebih  mengkilat dariku yang kau dapat dari perang lainnya.
Pakai juga isi kepalamu dan timbang rasamu
Karena itu lebih dari segala perangkat perang
Dungu hanya milik keledai malas yang mesti diseret-seret
Dan segeralah sadar
Aku nahkoda yang tetap menunggang kuda di buritan kapal, tanpa pundi emas dari para dewa

Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 2)


Kabar mengejutkan datang dari juru hitung
Para dewa ternyata telah lama menanggalkan berkatnya pada para pasukan
Aku tercengang
Bukan hanya menanggalkan berkatnya, tapi juga para dewa tetap menghitung jumlah saji sembah yang harus kami bakar dalam pemujaan
Padahal, dari atas sana mereka tahu pasukan berperang pada kondisi apa adanya
Dan kalau sudah tahu, mengapa pula pasukan itu tak diputuskan untuk ditarik
Kemudian ditempatkan pada pertempuran lain yang lebih memadai perangkat perangnya.

Kabar itu kuterima ketika sebagai laskar penunggang kuda, aku mendapatkan jatah pampasan perang darat.
Tak hanya itu, satu panglimaku pun kebagian, karena dia dulunya panglima yang juga berjasa di peperangan darat itu.
Sampai pada satu saat, dia mendapat tugas memimpin pasukan untuk pertempuran laut. Sebuah pertempuran yang dijanjikan hal muluk
Tapi ternyata belakangan dibiarkan mengarungi samudera sendirian
Memang tak sepenuhnya sendirian, karena para dewa masih mengulur tangan tapi muka berpaling ke kawasan lain.

Aku tergamam memegang daun lontar yang diberikan juru hitung.
Galau juga melanda ketika menerima hasil pampasan perang.
Perang musim sebelumnya, aku tak galau menerimanya
Ya..perang dimana tempatku sebagai laskar penunggang kuda kerap menuai gemilang Meski sedikit, namun  pertempuran itu selalu membuatku bergairah melakoninya.
Tak peduli kudaku lelah.
Dia pun tetap bersemangat, meski kami berdua kadang jenuh melihat dan menginjak darah berceceran.
Demikian pula ketika kudaku kubawa dalam perang darat dan laut sekaligus.
Dia masih mampu meski lelah mendera.

Aku dan satu panglimaku bersepakat.
Galau dihalau menjauh
Kata diguna memapar
Menyibak resah pasukan perang laut
Pampasan perang darat harus dirasa di laut jua
Berdua mencoba merajut rasa

Sejenak, cukuplah mereda resah pasukan laut.
Tapi itu belumlah cukup.
Kabar juru hitung kusampaikan
Mereka juga terperangah
Mereka juga membayang nasib di medan perang
Kalah, tenggelamlah raga
Menang, masih belumpun para dewa berbijak
Entah pertempuran apa yang dilaga
Menggantung asa dari nahkoda yang masih menunggang kuda diburitan?
Seberapa kuatlah aku?

Perang laut yang kupunya buta peta
Perang laut yang kuingin lepaskan memainkan pedang usang
Perang laut yang kupimpin dari atas kuda menebas ombak berbalik
Perang laut..bukan tidak menjanjikan
Ia hanya butuh uluran berkat lagi daripara dewa

Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 1)


Aku adalah laskar penunggang kuda
Dari atas kudaku, para dewa masih bisa kulawan ketika tak sepaham diriku
Meski secara sadar, aku tetap membutuhkan berkat dan rahmat mereka

Aku adalah laskar penuggang kuda
Perang darat demi perang darat mampu kulalui
Memang bukan hanya aku sendiri, ada tiga lainnya dalam laskar yang memegang persenjataan khas masing-masing
Aku adalah laskar penunggang kuda dengan bekal sejumlah panglima yang sarat pengalaman
Setidaknya mereka berpengalaman di medan perang, jauh sebelum aku bergabung dalam laskar
Aku adalah satu diantara laskar kuda
Junjunganku seorang jendral perang yang mumpuni

Aku adalah laskar penunggang kuda
Bermedan darat yang perangnya cukup nyaman
Hingga sampai pada penghujung satu musim, sebuah perang laut harus kutempuh
Perang laut menanti, begitu pula perang darat
Maka
Aku menjadi nahkoda yang tetap menunggang kuda

Para dewa menitah sabda yang kusanggupi
Alasannya, perang laut butuh nahkoda
Nahkoda lama mereka copot dan tempatkan di perang udara
Parahnya, para dewa menitah sabda juga lewat daun lontar
Sesuatu yang tak kuinginkan tertulis
Mauku, biarkan saja hanya berupa titah yang keluar dari bibir

Aku adalah laskar penunggang kuda
Yang masih bisa melawan para dewa
Aku adalah laskar penunggang kuda
Yang juga menjadi nahkoda di perang laut
Dan disitulah aku tak bisa melawan dewa
Tapi anehnya, para dewa pun tak bersikeras padaku di perang laut
Apakah karena para dewa tak menurunkan berkatnya padaku untuk perang laut
Setidaknya, itu pun menjadi senjata bagiku bagi para dewa ketika mereka bersikeras

Aku adalah nahkoda satu bahtera
Perangku adalah perang laut
Aku adalah laskar penunggang kuda
Perangku adalah perang darat
Dua perang kulakoni
Jadilah aku
Nahkoda Penunggang Kuda



Mendoa

Satu kali Bapa pemula dilepas
Mewakil untai puji, minta dan yang tak terkata

Lima kali Salam ucap dilanjut
Berharap jadi peneguh bahwa itu sungguh
 
Kemuliaan pada akhir ditutup
Segala hormat menutup panjat

Menitip yakin pada percaya tak ditinggal
Meski pernah dikurang hingga sengaja untai ajaran tak dirangkai
Sesaat sesal meluka hati
Sekejap muncul dari luka hati yakin
Pada kerap dengar sejak kanak
Gembala pada domba menyayang
Takkan biar terlepas pandang
Di satu manusia tak lepas sifat
Mengingat cukuplah mewakil Bapa Salam Kemuliaan

Rinduku

Aku enggan menghadap altar
Karena doa
adalah urusanku denganNya
Aku hanya ingin
tak ada yang tahu
saat aku berkalimat bersama Sang Kuasa
Meski yang terdengar hanya gumam diri sendiri
Toh,
Dia akan menjawab
suatu hari dengan caraNya

Aku merindu bukan altar
Atau megahnya pintu dan bangunan tempat para pendoa
Aku merindu bukan pada kewajiban
dan gaung koor indah
dan doa serempak

Aku bukan hanya merindu
pada simbol tubuh dan darah
Aku merindu
pada yang Dia tahu
apa yang kurindukan

Sang Penafkah dari Pelanggan Lahat

Jejeran rumah masa depan itu rapi dan teratur.
Warna sama, putih keabu-abuan, menyiratkan keheningan tersendiri.
Villa bagi mereka yang sudah bermigrasi ke dunia lain itu merupakan lakon harian sang arsitek yang tak pernah menyentuh bangku strata.

Kau berdiri di terik matahari siang sambil mengamati satu persatu segi dibentuk.
Peluh itu memang aku lihat perlahan menetes di bilahan pelipis.
Sebandinglah dengan hasil yang akan didapat nanti.
Begitu usai, berlanjutlah nafas hidup hari-harimu dari kedukaan sebuah keluarga dari nafas yang dihembus terakhir kali.
Begitu juga mungkin dari kedukaanku yang akan membuat nafas hidup hari-harimu berlanjut.

Dapat dikata mulia jika bukan disebut penafkah lahat.
Mulia bukan sekadar melakoni jubah penafkah dari satu kematian ke kematian lain.
Mungkin saja senyuman tersungging di sudut bibir ketika pelanggan lahat memesan tempat. Tapi jauh di lubuk terdalam, terbersit pun engkau enggan berharap datangnya pengisi lahat. “Kualat kalau berniat atau berharap...,” katamu.

Mungkin juga kau sangat jarang melihat pelanggan lahat yang terbaring.
Entah balita, muda remaja atau telah merenta.
Yang ditemukan adalah deretan angka penanda lama hidup yang dipesan cetak.
Sampai pada akhirnya sang penafkah satu hari diuji. Pelanggan lahatnya adalah pemasadepannya.
Muda pemasadepan itu harus mengikuti jejak pelanggan lahat sang penafkah terdahulu.
Belum cukuplah merasai indah dunia, atau bahkan menyerap hasil dari keringat sang penafkah.
Pemasadepan itu mungkin jadi harapan penafkah lahat untuk tak lagi bergumul dengan keindahan bentuk dari sebuah kedukaan di masa tuanya. Pemasadepan harus menjejal tanah sebelum sang penafkah menuai bangga.
Ratap tak cukup sehari dua. Hitungan jari tak tercukup kau gambarkan rasa duka dengan menyambangi lahat pemasadepanmu.
“Saat itu bukan lagi sedih, tetapi sempat kesal....dia masih kecil,” katamu.

Waktu berlalu, sang penafkah dan insan hatinya merela.
Meski pernah tergerus batinnya, sang penafkah menetap hati melayani pelanggan-pelanggan lahat berikutnya. Sang penafkah dari pelanggan lahat menjadi panggilan hidup. Kelak, jika saatnya tiba, entah siapakah yang melayani sang penafkah melepas jubah, menjati diri pelanggan lahat.



Semeja Ngopi Kota

Gelas-gelas mungil disaji mengepul aroma
Tak usik masing-masing duduk semeja
Sapa tak dilontar hingga beranjak pergi

Semeja ngopi kota memasang ego
Mau berbagi petak kayu tapi miskin kata
Entah jika semeja ngopi kampung

Gelas-gelas mungil semeja ngopi kota
Dimanakah keramahan pagi dari deru debu
Aku padaku, dia padanya
Kenal, baru menyapa
Asing, masing-masing membising

Aku rindu kicau bukan rekaman
Aku rindu sejuk bukan dari mesin
Aku rindu sapa tulus bukan menyelidik
Aku rindu ramah bukan mengasal bunyi

Tuan Mulus

Senyum tuan tidaklah menawan.
Bagiku meski mungkin tulus tapi itu sebuah diplomasi mendapatkan pengakuan.
Panggung yang tuan duduki tak membuat tulus itu benar adanya kecuali terdekat tuan.
Meski sekilas aku akui tuan berwajah mulus dengan atribut rapi lainnya.
Tapi camkanlah, wahai sang Tuan mulus yang tak tulus disudut mataku, mungkin dirimu hanya cerdas karena deraan panggung tahunan.
Semakin tuan perbanyak bicara, semakin ruang kepala tuan terlihat tak dalam.

Wahai Tuan mulus dengan ruang kepala sempit.
Pernahkah tuan mulus mencerna panggung yang tuan lontarkan lewat bibir yang terkesan tertarik ke bawah.
Binar mata tuan yang menyala meminta pengesahan akan cerdasnya ruang kepala sempit yang bergaung.
Bijaklah meski bermaksud lelucon yang dilontar. Karena tuan bukan berada di panggung komedi hiburan dengan benang-benang anyaman mulus didera besi pemanas.
Berhentilah tuan pada satu titik meninggi diri seakan lebih mengenal bumi ini dengan segala hiruk pikuknya.
Toh tuan hanyalah berada dalam kandang sebagai satu jago yang bakal tergerus jaman.

Apalah arti tuan melontar kata tak bermakna yang justru mengkotak-kotak.
Tak sadarkah adanya tuan karena kami ada.
Nafas tuan dengan dada membusung dan dagu tengadah pun adalah berkat kami.
Tak elok rasanya mencoba menggerus damai yang memang sudah terkikis lewat lelucon murahan.
Bukan.
Itu bukanlah lelucon murahan dari tuan.
Tapi rasa hati tuan yang kalah dari panggung yang menopang tuan.
Cuiihh...tuan menyumpah primordial yang nyatanya tak sadar tuan  juga berlaku.
Lihat saja, tuan bakal membalik ujung meriam ketika biduk tak lagi muat menampung prajurit.
Jangankan menemui biduk berlayar lebar, yang tak bertiang pun mungkin ditumpangi hanya karena disitulah tuan menggantungkan saku dan gengsi.
Di saat itulah, aku akan menertawai tuan atas mulusnya wajah tuan yang memulas diri tulus.

Sadarlah, saat itu tak lagi lama.
Tengoklah sejarah pada panggung tuan yang tak pernah abadi sosok terpatri pada massa.
Mati tuan, hanyalah jadi cerita orang terdekat.

Trotoar

Hai trotoar
Para peminta seliweran mencari mangsa dari mangkuk kumal
Ada pula menjadikanmu pembaringan dari penat sahabat debu

Hai trotoar
Dimanapun engkau meletak, sahabatmu kebanyakan bukan kaya
Ada pula sesekali bertegur sapa, jika tempatmu dibuat indah

Hai trotoar
Engkau sekalipun tak memilih penjejak
Dari tapak kulit hingga besi yang melukamu

Hai trotoar
Kau menjadi tempat suci menjejak kaki para pendoa
Entah sampai kapan hingga engkau seharusnya pedestrian

Tarian Ular Pagi Hari

Liukan ular melepas hasrat belum lagi sempurna
Mereka masih menelan susah payah hasil pagutan bersama

Lenggok sepasang ular mulai terlihat bergesekkan dari seberang batuan yang kuerami
Entah untuk menurunkan mangsa ke perut terdalam, atau sebab dari gesekan kecil sisik sepasang ular
Tariannya mulai terbentuk lebih berani
Tak hirau sejumlah binatang hutan juga melepas pagi dengan memangsa isi hutan

Seketika aku terperangah dari batuan yang kuerami
Tarian sang ular bergesek perlahan namun penuh hasrat
Tak pernah kulihat sepasang ular begitu beraninya menari di depan tatapan mahluk hutan lainnya
Biasanya, mereka bersembunyi di lindungan batu, semak perdu tebal atau tempat aman lainnya
Dogma-dogma ular berani mereka libas untuk sebuah tarian
Dogma-dogma ular tak berarti bagi sepasang ular itu
Dogma-dogma ular yang jadi kebiasaan-kebiasaan itu pun luntur
Kebiasaan-kebiasaan sumber budayanya para ular itupun tak lagi diguna

Sepasang ular membuat tapa ku terusik
Untunglah tarian itu berhenti cepat sebelum darahku mendidih
Mereka pergi
Mereka lenyap dalam lubang kayu yang menggelinding perlahan
Mungkin mereka mencari tempat
Tempat melepas hasrat yang bebas dogma
Tempat dimana mereka bisa menempa budaya sendiri