Tuesday, April 28, 2020

Musim Lusinan Lengah


(Episode Nyanyian Laskar Tanpa Coda)


Semusim itu
Kusajikan murka pada sang setengah dewa
Entah jiwa-jiwa penasaran mana yang menggandeng
Taman dekat tahta para dewa kusinggahi
Ingin persembahkan langsung dari lengan ini
Namun untungnya sang setengah dewa sedang pada sisi Nya

Semusim itu
Kuterbang meninggalkan taman dekat tahta dewa
Kuhampiri penjaga barak para laskar
"Sampaikan pada setengah dewa, lobangi pundi pakailah batu karang"
Pesan mesra kutitip
Hasilnya tak pernah kuintip

Semusim itu
Kuberbaju sombong
Menempelinya dengan rajutan bodoh
Merangkai dari lusinan lengah
Enggan memanggul kata menyerah
Padahal kuasa dari para dewa masih dipinta


(Bas2642020)

Nyanyian Laskar Tanpa Coda

Jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Ia telah padam lama
Tapi sepertinya Coda belum disematkan pada lagu
Tentu Crescendo meminta izin ditimang untuk awal sekisah lagi

Aku melambaikan jemari di kisah laut
Bahtera kutinggalkan
Nahkoda kuletakkan
Kuda kubawa berlari menuju perang lama
Perang darat yang kuakrabi sejak awal berdiri di sana

Aku melambaikan jemari pada perang laut
Dayaku setengah maka kutinggalkan dia
Para dewa kutantang, waktu itu
Mereka bersikukuh, waktu itu
Dan, aku bukan nahkoda penunggang kuda lagi

Waktu itu, tiada pesan kutinggalkan
Bahwa jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Tak pula kujanjikan nyanyian sebagai laskar penunggang kuda
Mereka kutinggalkan begitu saja mengembang layar
Sampai mereka menemui kata karam


(Bas2642020)

Telanjang


Aku tanpa lembar berdiri di depanmu
Menantang tegapnya kau yang pula berbalut kulit
Telanjang, dibatasi jeruji barisan kayu kayu hidup
Terpisah karena hak milik yang terbagi

Aku telanjang menatapmu kosong
Sejenak kolam kepala tak beriak, senyap
Hanya mata melahap hijaumu tanpa pikir
Sebelum kau menyusul rebah

Aku benar telanjang, tentang kau
Tak kutangkap lirihmu soal hari
Karena cerita di jari mereka
Kuasa jadi sebutan yang buat hanya bisa berdiri

Telanjang aku, ya...dari tempat teduh
Dengan dengung jadi teman sejenak
Menunjukkan padamu kulit benar polos
Sama seperti dengan yang akhirnya menabur andai


(Bas2642020)

Wednesday, April 01, 2020

Ketika #dirumahsaja


Dia membaca "Mantra Ayah"
Dia membaca di pintu masuk rumah
Dia membaca di rumah tepi jalan, seratusan meter dari batas kota

Dia membaca bait-bait  bahasa yang asing baginya
Dia membaca puisi karya penyair yang dikenalnya
Dia membaca karya sastra bertajuk "Mantra Ayah"

Dia melafal "Mantra Ayah" dengan membaca
Dia melafal "Mantra Ayah" karena #dirumahsaja
Dia melafal "Mantra Ayah" lalu tertangkap dengar

Aku menyebut menuliskanmu dialek berbeda
Aku mengerek mengibarkan kredoku
Pada yang disebut Jubata, empunya tujuh sifat

Jubata Ne' Pajaji
Jubata Ne' Panampa'
Jubata Ne' Nange
Jubata Ne' Panitah
Jubata Ne' Pangorok
Jubata Ne' Pangingu
Jubata Ne' Pangedokng

Bahwa...
Tahu kan, kami pada #dirumahsaja ?
Jadi...
Tahu kan, pinta kami manusia ?
........terimakasih


(Bas1Apr20)