Friday, June 16, 2006

Ketika Harus Kuat

Reka jalanan mulai rencana
Ingatan tanda mendebur dada
Kerubung awan kepalanya
Angkasa menutup nur dimuka

Malam tak bintang
Angin sadar tak berpeluk
Yaaa..hanya ada direlung
Ambangkan jari tengadah

Seandainya nanar membias
Angan tersaput kisah
Papahan kawan melepas
Hentakan menyungkur
Injakan menggetar lutut
Relakan sedikit saja bayang
Akan cukuplah tenang batin

Saturday, June 10, 2006

Menjamah Kelam Terdalam


Larut malam menjamah kelam terdalam
Ijakan kaki masih menjadi maya dan tak berletak
Nafas belum melega sesaat dimulai
Amin…begitu penutup doa saat usai diterbangkan

Jamahan tangan terulur menyambut balik
Untaian kata tak lagi diguna sebagai penarik
Lantunan puja rayu tak terlontar untuk pemicu
Ikatan teranyam oleh waktu yang berjalan
Nanti...
Akan terbuktikan jawaban dari keinginan

Friday, June 02, 2006

Tak Berbalas

Anehkah jika terkenang kisah
Sebuah riwayat lama tentang kasih usang
Usang karena tak lagi berbalas
Bukan satu, tapi kasih usang dekade lama
Sebelum kisah terakhir yang juga kini usang tapi masih hangat
Dosa seperti menyerta
Tapi rasa itu yang dinanti
Aura yang muncul karena kisah lama
Atau aura yang sulit muncul sejak kisah terakhir
Kepalsuan
Itu yang dirasa..
Tapi tak kuasa berkata
Untuk ungkapkan hal sebenarnya

Thursday, June 01, 2006

Maaf Jika Salah Mengeja Namamu

Seluruh gaya tingkahmu
Enggan berlalu dan terpatri kuat
Virtualmu seakan muncul di depan mata
Entah mengapa bisa itu terjadi
Nuansa itu muncul setelah jarak tercipta
Terdampar di dua tempat berbeda
Indah karena mungkin tercipta di saat yang singkat
Namun berkesan hingga sekarang

Galau pernah kurasa
Untuk memastikan kebenaran hati ini
Suatu saat kurasa mungkin bisa terwujud
Tapi tak tahu bila kapan itu mungkin terjadi
Aku hanya mampu berkhayal ditemani senyum manismu
Pada hari-hari yang kulewati bersama dengan beragam kisah
Aku akui ada harapan kehadiran dirimu disisi
Dari lubuk hati terdalam itu pernah mencuat
Merenda birunya nuansa hati bersamamu
Indah seperti yang kuimpikan selama hidup ini berjalan

Bawalah aku keluar dari kebimbangan
Antarkan aku pada sebuah realita hidup
Sahabat seperti katamu merupakan sosok yang paling dapat membantu
Ibarat sebuah tempat yang dapat membuat damai
Lewati segala kisah mengejar atau meninggalkan impian yang tak nyata
Impian yang alamiah dialami setiap insan manusia
Untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, entah ada atau tidak
Seperti sebuah nasib yang digariskan bakal terjadi

Aku bukan mencari pelarian dari sebuah kehampaan
Namun sebuah arti dari lebih 30 tahun usia ini
Darimu salah seorang yang kukenal namun banyak tak kukenal jua
Ruang yang pisahkan kita untuk jauh berkenalan
Entahlah?.
Aku hanya berharap
Sebuah atau seribuan kalimat darimu untuk menjalani "logika" seperti katamu


(by : Bas Andreas 290405)

Saturday, May 27, 2006

jepretan-2koe (tatung)

jepretan-1koe

Friday, May 26, 2006

2 dari 2 coretankoe

Kemerdekaan Semu

Kemerdekaan semu menghinggap
Bukan diraih karena tetes perjuangan
Dengan motto “Sampai Titik Darah Penghabisan”
Atau gelora pembangkit semangat “Rawe-rawe ratas, malang-malang putung”
Entah benar atau tidak ejaan pun ku tak tahu

Kemerdekaan semu dirasa
Bukan karena ingin bebas dari belenggu jajahan
Tapi karena merasa lebih bebas
Entah mengapa...

Bebaskah?
Kemerdekaan...
Yah, itulah istilah yang kuguna
Kemerdekaan yang sebenarnya memalukan
Kemerdekaan yang sebenarnya tak boleh kuulang
Kemerdekaan yang bisa kebablasan
(2005)
(Nubuat Labirin Luka)

Hidup Saat Mati

Jejak telapak kaki dari kali
Mengkerut kering ditelah detik
Dan disana tergambar Nyata yang ada
Menumpah segala jalan
Tak bermakna dilicin porselin
Gemerincing logam berganti gemeretuk
Ketika menjatuhi kerak kering
Telapak kaki yang tinggalkan kesan
Gambaran sejuta nyata dihidup
Kekal hidup dibawa
Mati, habislah cerita
Ceritanya tak habis dimulut cucu
Terus bersambut dari luar garis
Sekarang pun telapak kaki
Tak berujung pangkal diletakkan
(2005)
(Nubuat Labirin Luka)

Dia Dia Dia

sinar

Sinar berbinar itu terasa mengental
Telak menikam satu sudut yang sebelumnya telah tertanam
Bulat menyeruakan ramah hati yang polos diusianya
Sembari menarik sudut bibir disembulan pipi bulat menggemas
Tahukah? Saat pertama kali kau hirup udara di dunia kujadikan kunci saat ku masuk dunia mayaku

Tak ada yang lebih istimewa dari binar yang terpancar
Hanya itu tapi terus menerpa mata yang menerawang
Hingga akhirnya binar itupun tersangkut dan menjadi bagian dan isi dari hati diluar ragaku
Tahukah? Tak pernah lepas kagum hingga ibaratnya sel darah, binar itu membelah diri berkembang biak

Serasa habis sudah bagian dari gelas yang ditumpahi cat
Kurasa sendiri bahwa gelas itu sudah penuh oleh binar yang pernah ada
Belakangan yang mengisinya pun tak mampu mengganti warna yang dibuat oleh binar itu
Rasa kesal sempat menyeruak, tapi rasa syukur juga menyerta
Karena masih diberikan rasa sebuah panorama keindahan hati layaknya dirasakan manusia

Lalu berlalu mengisah segala cerita
Meski diawal menyadari, namun tetap saja tak kuat di akhir
Tak ada harapan “happy ending” yang diharap saat mula dibuat
Yang ada hanya menyesakkan dada walau disadar sejak pertama
Tahukah? Sesak itu masih ada tapi itu bukan salah siapa-siapa

Keindahan yang ditawarkan lebih dari indah yang pernah singgah
Keceriaan yang dihadirkan lebih merona meski dihiasi pula kemuraman
Semuanya hadir kini hanya dibayang
Binar itu tak mungkin lagi ada untuk didekap
Ia menyeruak dibantin yang kini sulit merasa
Entah karena habis semua dimasa lalu, atau masih enggan melepas binar
Tahukah? Hanya ada istimewa yang ditinggal oleh binar,tak ada cela yang dirasa

Yah..nyaris tak ada cela yang tersisa
Serasi dengan bagian terakhir tanda pengenal sang binar yang diibaratkan logam mulia
Siapapun mendengar sebutan itu,sudah pasti akan menerawang membayangkan keindahan
Sulit ditemukan tapi memiliki aura yang begitu nyata
Binar yang kudapat itu hingga kini tak pernah hilang
Tersimpan rapi dan sewaktu-waktu muncul menggetar hati
Trimakasih atas binar yang masih mau bersinar
Utamanya kesediaan untuk terus berbinar