Thursday, February 27, 2020

Aku Ingin

** Bahasa Kanak


Aku menitipkan matahari kepada tiang-tiang kelapa
Kusimpan panasnya di balik pelepah daun
Padahal ingin aku menggendongnya walau haus mengintip

Ilalang rindukah kau pada telapak kaki
Karena aku inginnya mendekapmu di dada
Ini kulit menyimpan wangi terik rela kau toreh

Hooee...!
Guntur meloncat-loncat dari dinding ke dinding
Bergema melewati jalan hitam beraspal
Dia terbang dari pintu gua merah marun
Terpeleset di atas porselin putih yang masih kokoh terpasang
Menyeruak diantara lembaran tirai hitam yang menari

Sungguh aku gentar tapi tak bergidik
Sang mata masih kupasang besar tegar
Bukanku ingin menghadang rangkaian guntur
Itu hanya perlu tahu, sebesar apakah awan hitam
Jadi aku tahu, harus secepat petir atau masih bisa berdendang pulang
Karena bertanya kenapa, aku tahu sebabnya
Daripada gelegar guntur tiba lagi

Aku menitipkan matahari di balik awan
Sampai selaksa pasukan langit menghampiri
Berebutan membuat gaduh yang ramai

Aku enggan bertanya karena mungkin jawabnya tidak
Aku memasang saja senyum ceria dengan tangan bermain tepi baju
"Papa, mandi di luar ya..", meski disitu bukan maksud

Aku tak ingin senyum, karena banyak makna
Aku tak ingin kata-kata untuk dapatkan tidak

Aku menunggu angguk
Sekali dan pelan
Aku menunggu kedip mata lembut
Dengan alis terangkat pelan

Cukup...
Itu cukup...
Sangat cukup membuat tubuh melesat mengikuti senang hati

Papa...
Gelegar petir akan kalah dari angguk kepalamu
Sergap pasukan langit jadi seperti sapuan bedak
Mari...
Kita basuh yang mengotori hari-hari kita

Aku ingin disitu
Disampingmu
Masuk duniaku
Melingkariku


(BasFeb2020)

Firasat Tua

Anonymous said...
Itu tulisannya yang tertera
Tak tergerak membalas meski berbasa basi

…. masih berharap firman itu tidak pernah ada... ?!?!
Tak kira dereten kata itu mengusiknya, dari puluhan rangkaian lain

11:59 PM penanda hadirnya
Emoticon icon belum kuakrabi waktu itu
Representasi gambar ekspresi wajah menggunakan karakter masih asing
Hanya senyum kecil manual
Sedikit saja tarikan dirasa disudut

Tahun-tahun usai itu pun seperti angin pantai
Tak ada lagi perihal Firasat itu
Aplikasi Winamp seperti purbakala
Begitu juga pelengkapnya "Imax Multimedia subwoofer system"
Berkekuatan "fullwoof BASS RD-s8200
Bongsor yang rongsok
Tak bisa harap Gema "bassboost" dengan "volume control" tertinggi
Hentakan Dance & Shout nya "Shaggy" dengan suara khasnya pun semakin jauh
Apalagi mengisah"Power DVD" yang tertancap di "Intel(R)"
Meski Cuma "Celeron(R) CPU.1.70GHz dengan 248 MB of RAM"
Pemancing tawa bagi……..dinasti 2020

Tapi tunggu, tunggu sejenak…
"Payroll Permata ATM" ku menunjukkan angka sisa yang tidak dapat dikuras lagi
Itu masih ada dan kerap berlaku
Setidaknya masih ada sampai balada ini kutiupkan
Masih ada sampai sembari menghitung masa purna
Sampai "streetgear Bodypack" yang kucabut dari saku belakang "Cardinal" biru tua menyandang almarhum
Oh..tidak…"Cardinal" biru tua itu memang sudah tua dan cacat
Tapi dia masih ada

Yang melambaikan tangan, "folder" khusus itu
Yang ikut berpisah, lagu-lagu yang ku copy melalui " "Nero Startmart" dari "LiteOn Combo Drive CD-RW & DVD-ROM"
"New Folder" yang ku "rename" menjadi "00.roman" itu hanya menjadi folder yang kerap ku tinggal memang benar-benar tinggal dan tertinggal

Tak ada lagi perihal folder itu hanya membuat hati tergerus
Tak ada lagi perihal Ada sedikit keinginan
Tak ada lagi perihal Dari lirik "Firasat" itu untuk menjadi kenyataan
Pun
Tak ada lagi perihal "Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi, Firasatku ingin kau cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi"
Tak ada lagi perihal…

Karna dia
Firasat yang tergerus dari banyak cerita
Firasat usang akibat akibat berkibarannya waktu
Karena ia
Firasat Tua


(Bas31Jan2020)


Monday, February 17, 2020

TIGA SERDADU

 Tiga serdadu di bawah tiang kayu
Tiga serdadu memegang tombak
Tiga serdadu baju perang melekat indah
Tiga serdadu terlihat tegap perkasa
Tiga serdadu atur susun tempat
Tiga serdadu itu pangkat berbeda.... tampak nya...
Karena satu beda gaya, mungkin asal usul berlainan.
Aaii..Sudahlah...
 
Satu serdadu itu memang tampil wibawa
Angkuh pun ada tersirat dengan tatap mata menyimpan lembut
Garis muka itu pun garis muka menahan senyum seorang bangsawan
Kau serdadu hanya kulit wajah saja terbuka
Ujung rambut sampai jari kaki terbalut baju kebesaran orang kaya
Mungkin masa itu nyamuk pun enggan tawa ria
Jera karena yang dihinggapi seperti batu susah terluka
Kunobatkan kau pemimpin dua serdadu
Mungkin bajumu buatku memutus
 
Satu serdadu lagi tak kalah wibawa
Tapi tampangmu mengesankan keras bercampur tegas ksatria
Daging tubuhmu jadi cukup bukti soal tempaan yang didapat
Kau seperti dihadirkan kasar tak berbelas kasih
Kulitmu hanya dilindungi bagian pentingnya
Kusematkan lembing menemanimu berperisai
Jagalah pemimpin tempatmu
 
Satu serdadu terakhir tak menarik hati perdana tiba
Kau hadir berwajah lembut meski tubuhmu tampil kerasnya
Rupawan rupamu dengan senyum manis bak anak manusia mentah perang
Dan serdadu...
Itu...
Itu tameng bukan penopang tubuh lelah
Itu tombak bukannya galah pengambil buah
Tempatmu diatur tak jauh dari dua rekanmu
Bersama di bawah tiang kayu
Berperan mengawasi tiang kayu
Tiang kayu itu
Tiang kayu salib
 
Aahh…bukan karakter kalian hendak kubongkar
Aku hendak mengisah kalian dalam ceritaku sendiri
Tapi ragu berkibar
Sebab, pernah kunikmati naskah tersusun 
Bahwa kalian sejatinya ada dikisahkan
Sejenak jari berhenti mengokang gerak
Diam...
Dangkal kau...
Ejek pada diri
 
Beruntung naskah bentuknya coretan
Kuletakkan saja pada satu kisah yang ada
Lalu…
Ini yang kudapat
Kuteruskan padamu
Kubagikan padamu
Kuceritakan untukmu
 
Longinus
Perwira centurion
Ia yang menikam lambung
Menerima penyembuhan sakit mata dari darah dan air
 
Longinus dan dua anak buah
Menolak godaan uang suap
Menolak diam tentang mukjizat
 
Longinus percaya pada juru selamat
Mereka menerima baptis
Mereka meninggalkan dinas militer
 
Longinus tinggalkan Yudea
Bersama dua rekannya ke Kapadokia
Mereka mengisah peristiwa Bukit Golgota
Mereka dicari
Mereka tak disenangi
Mereka menunjukkan iman yang kuat
Mereka mau menderita
Mereka martir suci
 
Longinus...
Hanya kepalanya dibawa
 
Longinus
Kepalanya dilempar ke atas tumpukan sampah di luar tembok
 
Longinus teks apokripa
Tombakmu pun bawa kisah-kisah
Lancea et Clavus Domini
Satu nama di satu kisah dari ragam lain
 
Longinus dan dua prajurit di dioramaku
Tiga serdadu itu sebuah cerita kasih pula
 
Longinus sang santo
Semoga iman semakin diperteguh


(BasFeb2020)
 
 

Friday, February 14, 2020

Suara Elang


Suara elang memecah debu-debu pukul sebelas
Suara elang hadir lagi ketika matahari makin garang memeluk tubuh
Lama ia pergi memilih tempatnya
Lama...suaranya tak menyibak daun-daun pohon tinggi
Lama.....suaranya tak menyapa rumput penandanya mengawasi


Lagi
Siang itu pekiknya lantang
Di terang itu dia membumbung berputar ikuti angin
Mungkin sama seperti waktu itu dia membawa pertanda
Tapi paham sedang berlayar


Kali ini sendiri dia mengabarkan pesan
Buat terka menyisih paham dengan mata membaca bunyi alam


Waspada apa yang dipasang, mendengar lagu angkasa dari atas bumi ini
Sekali itu ia datang
Sekali lain aku terbaring
Menemani bulir air mendinginkan kulit
Menjala barisan debu yang patuh mendatangi hari


Waspada apa yang mau dilaku
Sekali ini dia datang
Sekali lagi aku mengatur otak


Wahai elang
Hitam terlihat kau dari balik perisaiku
Kau menyentuh awan
Kau penerima pesan sebelum kau sampaikan padaku


Wahai elang
Tak jauh dari batas kota tempat jejak tapak kaki menghilang
Tak kupahami ocehanmu
Maka tak ada kredo pengiringmu
Meski itu
Senangku ada pada hadirmu


Perisaiku basah sejenak
Mengganti peluk matahari, dia lantas bersatu tubuh pada tanah
Dia turun menjawab risau hati pada pekik elang
Dia melontar kata kalau hari ini masih aman


Perisaiku dijamahnya ramah
Seratusan lain dari sifatnya selain aramah
Hadirnya menanda masa masih bersahabat


Wahai elang
Ia menjawab pekikmu, kah ?
Adakah kau dongkol melebihiku
Apakah panggilmu membuatnya singgah
Karena
Kemarin tiada engkau merentang sayap
Tetapi ia menjejak daun daun
Kemarin tiada ocehanmu di langit biru
Tapi riuhnya ada menggesek batu tanah


Dulu kau mungkin memaki karena dia enggan datang
Nyaring gerutumu meningkahi gurauan pipit pada laku alam


Mereka tiba beriring
Terbiasa pada bising
Biasa tergiring
Hingga pernah hinggapi kotor piring
Sampai memasang cengkraman pada yang menjulang miring


Duhai elang
Tatap matamu tajam tenang
Isyarat sarat berdarah dingin menggetar tulang
Berlakukah saat itu mengulang ?
Pada tubuh yang menumpuk sisi sisi usang


Kau elang
Jadilah juga pembawa pesan dari daratan berdebu
Beri warta di sini meminta lebih
Kekuatan hilang setengahnya di tengah ragam nafsu menundukkan garis nafas


Lantangkan suara elangmu balik
Kabarkan mata tombak haus tempat
Siarkan mata pedang ingin menari
Tuturkan mata panah mau dipinang
Menjejer ragam puja puji


Ya, aku mau sombong di atas tungkai kokoh
Sebab aku bersahabat bersama pongah
Sungguh, angkuh itu menghapus satu sisi haus
Percayalah, itu api hidup membakar darah



(BasFeb2020)