Friday, February 14, 2020

Suara Elang


Suara elang memecah debu-debu pukul sebelas
Suara elang hadir lagi ketika matahari makin garang memeluk tubuh
Lama ia pergi memilih tempatnya
Lama...suaranya tak menyibak daun-daun pohon tinggi
Lama.....suaranya tak menyapa rumput penandanya mengawasi


Lagi
Siang itu pekiknya lantang
Di terang itu dia membumbung berputar ikuti angin
Mungkin sama seperti waktu itu dia membawa pertanda
Tapi paham sedang berlayar


Kali ini sendiri dia mengabarkan pesan
Buat terka menyisih paham dengan mata membaca bunyi alam


Waspada apa yang dipasang, mendengar lagu angkasa dari atas bumi ini
Sekali itu ia datang
Sekali lain aku terbaring
Menemani bulir air mendinginkan kulit
Menjala barisan debu yang patuh mendatangi hari


Waspada apa yang mau dilaku
Sekali ini dia datang
Sekali lagi aku mengatur otak


Wahai elang
Hitam terlihat kau dari balik perisaiku
Kau menyentuh awan
Kau penerima pesan sebelum kau sampaikan padaku


Wahai elang
Tak jauh dari batas kota tempat jejak tapak kaki menghilang
Tak kupahami ocehanmu
Maka tak ada kredo pengiringmu
Meski itu
Senangku ada pada hadirmu


Perisaiku basah sejenak
Mengganti peluk matahari, dia lantas bersatu tubuh pada tanah
Dia turun menjawab risau hati pada pekik elang
Dia melontar kata kalau hari ini masih aman


Perisaiku dijamahnya ramah
Seratusan lain dari sifatnya selain aramah
Hadirnya menanda masa masih bersahabat


Wahai elang
Ia menjawab pekikmu, kah ?
Adakah kau dongkol melebihiku
Apakah panggilmu membuatnya singgah
Karena
Kemarin tiada engkau merentang sayap
Tetapi ia menjejak daun daun
Kemarin tiada ocehanmu di langit biru
Tapi riuhnya ada menggesek batu tanah


Dulu kau mungkin memaki karena dia enggan datang
Nyaring gerutumu meningkahi gurauan pipit pada laku alam


Mereka tiba beriring
Terbiasa pada bising
Biasa tergiring
Hingga pernah hinggapi kotor piring
Sampai memasang cengkraman pada yang menjulang miring


Duhai elang
Tatap matamu tajam tenang
Isyarat sarat berdarah dingin menggetar tulang
Berlakukah saat itu mengulang ?
Pada tubuh yang menumpuk sisi sisi usang


Kau elang
Jadilah juga pembawa pesan dari daratan berdebu
Beri warta di sini meminta lebih
Kekuatan hilang setengahnya di tengah ragam nafsu menundukkan garis nafas


Lantangkan suara elangmu balik
Kabarkan mata tombak haus tempat
Siarkan mata pedang ingin menari
Tuturkan mata panah mau dipinang
Menjejer ragam puja puji


Ya, aku mau sombong di atas tungkai kokoh
Sebab aku bersahabat bersama pongah
Sungguh, angkuh itu menghapus satu sisi haus
Percayalah, itu api hidup membakar darah



(BasFeb2020)

0 komentar: