Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan
Bung
Matahari berubah warna lagi, hari itu
Kemarin dan esok seperti itu ia pergi untuk mengulang datang
Menunggu hentak nafasmu, mengantarnya pergi
Hari itu
Sebelum ia benar lalu
Gelegarmu merayap dinding
Ia menitipkan pesan
Gelegarmu menyapu lantai
Ia mengikat gurat gurat hidup
Gelegarmu mengusir segala debu
Bahkan berkawan nafas, bagai menggeser karang
Gelegarmu menggergaji jiwa
Disitu
Tak pernah kubagi tanya apa inginmu
Bung...
Aku mau teriak lagi
Ya, hari ini,
Hari
Ini
Sama seperti teriakmu yang kutoreh dulu
Kujadikan pekikku yang gaungnya kaleng rombeng
Yooo...
Lehermu menegang urat, memanggil ajak
Bau tembakau kretek menyertai, mendampingi kepul
Anak manusia pun berlaku gontai
Seph...seph..seph..
Kaki kaki mereka menyeret alas seakan enggan
Kuku jaripun kau adu gigi
Yo yo yo
Teriakmu mengantar jiwa jiwa menemukan sarang
Sebelum hentakan hentakan nafas itu dibagi bagi
Kau bakar di sana
Meraut sisa sisa semangat yang ditampung dari lelah harian
Bung
Seperti yang kau ajarkan
Wahai itu wahai
Darah itu darah
Mati itu mati
Hadirkan itu kalau meminta misteri
Karna mereka juga melekat nyawa
Tak pernah kau ajar berkata cinta
Tapi kau hadirkan
Bung
Aku masih di sini, Bung
Begini
Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan
(6/10/2020)
Tuesday, October 06, 2020
Bung
Diposting oleh bas andreas di 7:27 AM 0 komentar
Cuma Syair
Pabila para dewa memanggil satu saat
Aku bakal melempar kata memohon
Utuslah aku pada perang kering itu
Walau mereka membekali hanya sedikit
Aku mau detik akhir kusaksikan, jika memang itu
Biarkan aku masih berdiri di sana, jika itu terjadi
Pabila para dewa terpaksa memilih punggawa
Aku mau di situ dan segera tengoklah aku ini
Ambillah, ini pedangmu
Genggamlah, ini tombakmu
Rengkuhlah, ini busur anak panahmu
Bawa, kan kuukir selarik senyummu
Titah kuharap adalah maju perang
Kuberi tangan berurat urat yang kaku ini
Mengayuh perahu di lautan lumpur
Kaki ini pancang meski lapuk mengintip
Tapi bisa menghunjam tanah kerontang
Dipasang pada tubuh yang pernah didera gigil terik
Ooo...perang apakah ini?
Daya menunjukkan sisi takluknya
Tak urung membuat ciut
Berharap pertempuran itu pada bentuk nyanyian lama
Bahkan masih mengalir walau pendulang usaikan peran
Ooo..berharap ini hanya sekali lewat
Ooo..berharap ini sekisah perjalanan
Ooo..harap cuma berakhir pada syair
Kukabarkan pada kalian agar tahu, aku pernah didalamnya
(Bas5/5/20)
Diposting oleh bas andreas di 7:17 AM 0 komentar
Tuesday, April 28, 2020
Musim Lusinan Lengah
Kusajikan murka pada sang setengah dewa
Entah jiwa-jiwa penasaran mana yang menggandeng
Taman dekat tahta para dewa kusinggahi
Ingin persembahkan langsung dari lengan ini
Namun untungnya sang setengah dewa sedang pada sisi Nya
Kuterbang meninggalkan taman dekat tahta dewa
Kuhampiri penjaga barak para laskar
"Sampaikan pada setengah dewa, lobangi pundi pakailah batu karang"
Pesan mesra kutitip
Hasilnya tak pernah kuintip
Kuberbaju sombong
Menempelinya dengan rajutan bodoh
Merangkai dari lusinan lengah
Enggan memanggul kata menyerah
Padahal kuasa dari para dewa masih dipinta
Diposting oleh bas andreas di 7:29 AM 0 komentar
Nyanyian Laskar Tanpa Coda
Ia telah padam lama
Tapi sepertinya Coda belum disematkan pada lagu
Tentu Crescendo meminta izin ditimang untuk awal sekisah lagi
Bahtera kutinggalkan
Nahkoda kuletakkan
Kuda kubawa berlari menuju perang lama
Perang darat yang kuakrabi sejak awal berdiri di sana
Dayaku setengah maka kutinggalkan dia
Para dewa kutantang, waktu itu
Mereka bersikukuh, waktu itu
Dan, aku bukan nahkoda penunggang kuda lagi
Bahwa jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Tak pula kujanjikan nyanyian sebagai laskar penunggang kuda
Mereka kutinggalkan begitu saja mengembang layar
Sampai mereka menemui kata karam
Diposting oleh bas andreas di 7:26 AM 0 komentar
Telanjang
Menantang tegapnya kau yang pula berbalut kulit
Telanjang, dibatasi jeruji barisan kayu kayu hidup
Terpisah karena hak milik yang terbagi
Sejenak kolam kepala tak beriak, senyap
Hanya mata melahap hijaumu tanpa pikir
Sebelum kau menyusul rebah
Tak kutangkap lirihmu soal hari
Karena cerita di jari mereka
Kuasa jadi sebutan yang buat hanya bisa berdiri
Dengan dengung jadi teman sejenak
Menunjukkan padamu kulit benar polos
Sama seperti dengan yang akhirnya menabur andai
Diposting oleh bas andreas di 7:23 AM 0 komentar
Wednesday, April 01, 2020
Ketika #dirumahsaja
Dia membaca "Mantra Ayah"
Dia membaca di pintu masuk rumah
Dia membaca di rumah tepi jalan, seratusan meter dari batas kota
Dia membaca bait-bait bahasa yang asing baginya
Dia membaca puisi karya penyair yang dikenalnya
Dia membaca karya sastra bertajuk "Mantra Ayah"
Dia melafal "Mantra Ayah" dengan membaca
Dia melafal "Mantra Ayah" karena #dirumahsaja
Dia melafal "Mantra Ayah" lalu tertangkap dengar
Aku menyebut menuliskanmu dialek berbeda
Aku mengerek mengibarkan kredoku
Pada yang disebut Jubata, empunya tujuh sifat
Jubata Ne' Pajaji
Jubata Ne' Panampa'
Jubata Ne' Nange
Jubata Ne' Panitah
Jubata Ne' Pangorok
Jubata Ne' Pangingu
Jubata Ne' Pangedokng
Bahwa...
Tahu kan, kami pada #dirumahsaja ?
Jadi...
Tahu kan, pinta kami manusia ?
........terimakasih
(Bas1Apr20)
Diposting oleh bas andreas di 9:07 AM 0 komentar
Monday, March 30, 2020
Laki-laki Mengusir Kemam
Diposting oleh bas andreas di 9:07 AM 0 komentar
Thursday, March 26, 2020
Di Situ Bisikan Lirik
Usai peran sejentikan perdu putri malu
Melumuri kau titipan harapan bekal hati
Menyisakan jejak gampang dikenal
Pekik tertahan merobek malam sebelum kau berlomba-lomba dikais
Memberimu tanda dari sisa yang berbekas
Pengganti lambang bintang jasa pada tubuhmu
Mengirim pesan untuk tempat berlabuh esok hari
Mendung bisa disisih dengan memilih hentakan nafas
Jadi, mungkin mereka bunyikan terompet yang sama
Bisa juga melagukan syair berisi kenangan
Mereka memanggul tambahan beban lagi
Kemudian...
Sejenak diletakkan berdamai dengan lelah
Pula...
Membiarkan bumi mendengar degup
Dan...
Berharap ia mau menyampaikan bisikan lirik
Di situ...
Mangkok seng garpu tiga
Diposting oleh bas andreas di 8:32 AM 0 komentar
Wednesday, March 18, 2020
Romansa Pemabuk di Hari Itu
Selembar catatan diawali riak gerak berat kaki
Melempar dan mengasal kata berlantun
Di situ mendapati garis merah tertumpuk pada ufuk timur arah mata angin
Menjaga dialog untuk karisma yang asalnya dari entah
Garis - garis terbang liar dari tempatnya dilepaskan
Tidak cukup kuat menutupi bias garis merah
Memilih bertingkah didampingi decak halus
Sementara menutup senyum dan mengukirnya pada bola mata
Sinopsis gelap kasta berbeda berjalan
Satu dongeng tak ditutur mengulang berani
Santun didera cambuk gila
Sesat sesaat
Sesat
Keranjingan
Keranjingan sumbang
Melepaskan keranjingan sumbang
Sadar hanya kosa kata pada kamus kata dan laku
Hiruk pikuk dijadikan penutup
Senyum menerabas garis merah
Menjadikannya ikat kepala bertuliskan persetan
Sempat tersenggol enggan meluntur
Setia menunggu pergolakan
Tahu di seberang berdiri di mercu suar menitip awas
Menunggu kemudian melangkah mengatup nurani
Ditemani deru meniti debu garis-garis sendiri
Datang lagi
Di tanah tinggi
Mengulang pagi
Bergelagat lagi
Menggila tinggi
Gentar tersibak kepak ribuan
Garis memilih melebar, terpasang melintang pandang, disisihkan
Hendak menjadikannya titianpun muka berpaling
Menggantung harap pada rindu yang diinginkan
Tak berkata cukup, tak pula menitikkan usai
Legatonya tergantung sunyi sehening stakato
Diposting oleh bas andreas di 8:48 AM 0 komentar
Thursday, March 12, 2020
Lagu Tidur Untukku
Diposting oleh bas andreas di 8:16 AM 0 komentar
Thursday, February 27, 2020
Aku Ingin
Kusimpan panasnya di balik pelepah daun
Padahal ingin aku menggendongnya walau haus mengintip
Karena aku inginnya mendekapmu di dada
Ini kulit menyimpan wangi terik rela kau toreh
Guntur meloncat-loncat dari dinding ke dinding
Bergema melewati jalan hitam beraspal
Dia terbang dari pintu gua merah marun
Terpeleset di atas porselin putih yang masih kokoh terpasang
Menyeruak diantara lembaran tirai hitam yang menari
Sang mata masih kupasang besar tegar
Bukanku ingin menghadang rangkaian guntur
Itu hanya perlu tahu, sebesar apakah awan hitam
Jadi aku tahu, harus secepat petir atau masih bisa berdendang pulang
Karena bertanya kenapa, aku tahu sebabnya
Daripada gelegar guntur tiba lagi
Sampai selaksa pasukan langit menghampiri
Berebutan membuat gaduh yang ramai
Aku memasang saja senyum ceria dengan tangan bermain tepi baju
"Papa, mandi di luar ya..", meski disitu bukan maksud
Aku tak ingin kata-kata untuk dapatkan tidak
Sekali dan pelan
Aku menunggu kedip mata lembut
Itu cukup...
Sangat cukup membuat tubuh melesat mengikuti senang hati
Gelegar petir akan kalah dari angguk kepalamu
Sergap pasukan langit jadi seperti sapuan bedak
Mari...
Kita basuh yang mengotori hari-hari kita
Disampingmu
Masuk duniaku
Melingkariku
Diposting oleh bas andreas di 8:11 AM 0 komentar
Firasat Tua
Berkekuatan "fullwoof BASS RD-s8200
Meski Cuma "Celeron(R) CPU.1.70GHz dengan 248 MB of RAM"
Tak ada lagi perihal Ada sedikit keinginan
Tak ada lagi perihal Dari lirik "Firasat" itu untuk menjadi kenyataan
Diposting oleh bas andreas di 7:24 AM 0 komentar
Monday, February 17, 2020
TIGA SERDADU
Tiga serdadu memegang tombak
Tiga serdadu baju perang melekat indah
Tiga serdadu terlihat tegap perkasa
Tiga serdadu atur susun tempat
Tiga serdadu itu pangkat berbeda.... tampak nya...
Karena satu beda gaya, mungkin asal usul berlainan.
Aaii..Sudahlah...
Satu serdadu itu memang tampil wibawa
Angkuh pun ada tersirat dengan tatap mata menyimpan lembut
Garis muka itu pun garis muka menahan senyum seorang bangsawan
Kau serdadu hanya kulit wajah saja terbuka
Ujung rambut sampai jari kaki terbalut baju kebesaran orang kaya
Mungkin masa itu nyamuk pun enggan tawa ria
Jera karena yang dihinggapi seperti batu susah terluka
Kunobatkan kau pemimpin dua serdadu
Mungkin bajumu buatku memutus
Satu serdadu lagi tak kalah wibawa
Tapi tampangmu mengesankan keras bercampur tegas ksatria
Daging tubuhmu jadi cukup bukti soal tempaan yang didapat
Kau seperti dihadirkan kasar tak berbelas kasih
Kulitmu hanya dilindungi bagian pentingnya
Kusematkan lembing menemanimu berperisai
Jagalah pemimpin tempatmu
Satu serdadu terakhir tak menarik hati perdana tiba
Kau hadir berwajah lembut meski tubuhmu tampil kerasnya
Rupawan rupamu dengan senyum manis bak anak manusia mentah perang
Dan serdadu...
Itu...
Itu tameng bukan penopang tubuh lelah
Itu tombak bukannya galah pengambil buah
Tempatmu diatur tak jauh dari dua rekanmu
Bersama di bawah tiang kayu
Berperan mengawasi tiang kayu
Tiang kayu itu
Tiang kayu salib
Aahh…bukan karakter kalian hendak kubongkar
Aku hendak mengisah kalian dalam ceritaku sendiri
Tapi ragu berkibar
Sebab, pernah kunikmati naskah tersusun
Bahwa kalian sejatinya ada dikisahkan
Sejenak jari berhenti mengokang gerak
Diam...
Dangkal kau...
Ejek pada diri
Beruntung naskah bentuknya coretan
Kuletakkan saja pada satu kisah yang ada
Lalu…
Ini yang kudapat
Kuteruskan padamu
Kubagikan padamu
Kuceritakan untukmu
Longinus
Perwira centurion
Ia yang menikam lambung
Menerima penyembuhan sakit mata dari darah dan air
Longinus dan dua anak buah
Menolak godaan uang suap
Menolak diam tentang mukjizat
Longinus percaya pada juru selamat
Mereka menerima baptis
Mereka meninggalkan dinas militer
Longinus tinggalkan Yudea
Bersama dua rekannya ke Kapadokia
Mereka mengisah peristiwa Bukit Golgota
Mereka dicari
Mereka tak disenangi
Mereka menunjukkan iman yang kuat
Mereka mau menderita
Mereka martir suci
Longinus...
Hanya kepalanya dibawa
Longinus
Kepalanya dilempar ke atas tumpukan sampah di luar tembok
Longinus teks apokripa
Tombakmu pun bawa kisah-kisah
Lancea et Clavus Domini
Satu nama di satu kisah dari ragam lain
Longinus dan dua prajurit di dioramaku
Tiga serdadu itu sebuah cerita kasih pula
Longinus sang santo
Semoga iman semakin diperteguh
(BasFeb2020)
Diposting oleh bas andreas di 7:59 AM 0 komentar
Friday, February 14, 2020
Suara Elang
Suara elang memecah debu-debu pukul sebelas
Suara elang hadir lagi ketika matahari makin garang memeluk tubuh
Lama ia pergi memilih tempatnya
Lama...suaranya tak menyibak daun-daun pohon tinggi
Lama.....suaranya tak menyapa rumput penandanya mengawasi
Lagi
Siang itu pekiknya lantang
Di terang itu dia membumbung berputar ikuti angin
Mungkin sama seperti waktu itu dia membawa pertanda
Tapi paham sedang berlayar
Kali ini sendiri dia mengabarkan pesan
Buat terka menyisih paham dengan mata membaca bunyi alam
Waspada apa yang dipasang, mendengar lagu angkasa dari atas bumi ini
Sekali itu ia datang
Sekali lain aku terbaring
Menemani bulir air mendinginkan kulit
Menjala barisan debu yang patuh mendatangi hari
Waspada apa yang mau dilaku
Sekali ini dia datang
Sekali lagi aku mengatur otak
Wahai elang
Hitam terlihat kau dari balik perisaiku
Kau menyentuh awan
Kau penerima pesan sebelum kau sampaikan padaku
Wahai elang
Tak jauh dari batas kota tempat jejak tapak kaki menghilang
Tak kupahami ocehanmu
Maka tak ada kredo pengiringmu
Meski itu
Senangku ada pada hadirmu
Perisaiku basah sejenak
Mengganti peluk matahari, dia lantas bersatu tubuh pada tanah
Dia turun menjawab risau hati pada pekik elang
Dia melontar kata kalau hari ini masih aman
Perisaiku dijamahnya ramah
Seratusan lain dari sifatnya selain aramah
Hadirnya menanda masa masih bersahabat
Wahai elang
Ia menjawab pekikmu, kah ?
Adakah kau dongkol melebihiku
Apakah panggilmu membuatnya singgah
Karena
Kemarin tiada engkau merentang sayap
Tetapi ia menjejak daun daun
Kemarin tiada ocehanmu di langit biru
Tapi riuhnya ada menggesek batu tanah
Dulu kau mungkin memaki karena dia enggan datang
Nyaring gerutumu meningkahi gurauan pipit pada laku alam
Mereka tiba beriring
Terbiasa pada bising
Biasa tergiring
Hingga pernah hinggapi kotor piring
Sampai memasang cengkraman pada yang menjulang miring
Duhai elang
Tatap matamu tajam tenang
Isyarat sarat berdarah dingin menggetar tulang
Berlakukah saat itu mengulang ?
Pada tubuh yang menumpuk sisi sisi usang
Kau elang
Jadilah juga pembawa pesan dari daratan berdebu
Beri warta di sini meminta lebih
Kekuatan hilang setengahnya di tengah ragam nafsu menundukkan garis nafas
Lantangkan suara elangmu balik
Kabarkan mata tombak haus tempat
Siarkan mata pedang ingin menari
Tuturkan mata panah mau dipinang
Menjejer ragam puja puji
Ya, aku mau sombong di atas tungkai kokoh
Sebab aku bersahabat bersama pongah
Sungguh, angkuh itu menghapus satu sisi haus
Percayalah, itu api hidup membakar darah
Diposting oleh bas andreas di 7:42 AM 0 komentar
Thursday, January 30, 2020
Pertanyaan Minggu
Diposting oleh bas andreas di 7:21 AM 0 komentar


