Tuesday, October 06, 2020

Bung

Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan

Bung
Matahari berubah warna lagi, hari itu
Kemarin dan esok seperti itu ia pergi untuk mengulang datang
Menunggu hentak nafasmu, mengantarnya pergi

Hari itu
Sebelum ia benar lalu
Gelegarmu merayap dinding
Ia menitipkan pesan
Gelegarmu menyapu lantai
Ia mengikat gurat gurat hidup
Gelegarmu mengusir segala debu
Bahkan berkawan nafas, bagai menggeser karang
Gelegarmu menggergaji jiwa
Disitu
Tak pernah kubagi tanya apa inginmu

Bung...
Aku mau teriak lagi
Ya, hari ini,
Hari
Ini
Sama seperti teriakmu yang kutoreh dulu
Kujadikan pekikku yang gaungnya kaleng rombeng

Yooo...
Lehermu menegang urat, memanggil ajak
Bau tembakau kretek menyertai, mendampingi kepul
Anak manusia pun berlaku gontai
Seph...seph..seph..
Kaki kaki mereka menyeret alas seakan enggan
Kuku jaripun kau adu gigi

Yo yo yo
Teriakmu mengantar jiwa jiwa menemukan sarang
Sebelum hentakan hentakan nafas itu dibagi bagi
Kau bakar di sana
Meraut sisa sisa semangat yang ditampung dari lelah harian

Bung
Seperti yang kau ajarkan
Wahai itu wahai
Darah itu darah
Mati itu mati
Hadirkan itu kalau meminta misteri
Karna mereka juga melekat nyawa
Tak pernah kau ajar berkata cinta
Tapi kau hadirkan

Bung
Aku masih di sini, Bung
Begini

Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan

(6/10/2020)

Cuma Syair


Pabila para dewa memanggil satu saat
Aku bakal melempar kata memohon
Utuslah aku pada perang kering itu
Walau mereka membekali hanya sedikit
Aku mau detik akhir kusaksikan, jika memang itu
Biarkan aku masih berdiri di sana, jika itu terjadi

Pabila para dewa terpaksa memilih punggawa
Aku mau di situ dan segera tengoklah aku ini
Ambillah, ini pedangmu
Genggamlah, ini tombakmu
Rengkuhlah, ini busur anak panahmu
Bawa, kan kuukir selarik senyummu

Titah kuharap adalah maju perang
Kuberi tangan berurat urat yang kaku ini
Mengayuh perahu di lautan lumpur
Kaki ini pancang meski lapuk mengintip
Tapi bisa menghunjam tanah kerontang
Dipasang pada tubuh yang pernah didera gigil terik

Ooo...perang apakah ini?
Daya menunjukkan sisi takluknya
Gaya berdiri di atas goyah

Tak urung membuat ciut
Berharap pertempuran itu pada bentuk nyanyian lama
Bahkan masih mengalir walau pendulang usaikan peran

Ooo..berharap ini hanya sekali lewat
Ooo..berharap ini sekisah perjalanan
Ooo..harap cuma berakhir pada syair
Kukabarkan pada kalian agar tahu, aku pernah didalamnya

(Bas5/5/20)

Tuesday, April 28, 2020

Musim Lusinan Lengah


(Episode Nyanyian Laskar Tanpa Coda)


Semusim itu
Kusajikan murka pada sang setengah dewa
Entah jiwa-jiwa penasaran mana yang menggandeng
Taman dekat tahta para dewa kusinggahi
Ingin persembahkan langsung dari lengan ini
Namun untungnya sang setengah dewa sedang pada sisi Nya

Semusim itu
Kuterbang meninggalkan taman dekat tahta dewa
Kuhampiri penjaga barak para laskar
"Sampaikan pada setengah dewa, lobangi pundi pakailah batu karang"
Pesan mesra kutitip
Hasilnya tak pernah kuintip

Semusim itu
Kuberbaju sombong
Menempelinya dengan rajutan bodoh
Merangkai dari lusinan lengah
Enggan memanggul kata menyerah
Padahal kuasa dari para dewa masih dipinta


(Bas2642020)

Nyanyian Laskar Tanpa Coda

Jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Ia telah padam lama
Tapi sepertinya Coda belum disematkan pada lagu
Tentu Crescendo meminta izin ditimang untuk awal sekisah lagi

Aku melambaikan jemari di kisah laut
Bahtera kutinggalkan
Nahkoda kuletakkan
Kuda kubawa berlari menuju perang lama
Perang darat yang kuakrabi sejak awal berdiri di sana

Aku melambaikan jemari pada perang laut
Dayaku setengah maka kutinggalkan dia
Para dewa kutantang, waktu itu
Mereka bersikukuh, waktu itu
Dan, aku bukan nahkoda penunggang kuda lagi

Waktu itu, tiada pesan kutinggalkan
Bahwa jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Tak pula kujanjikan nyanyian sebagai laskar penunggang kuda
Mereka kutinggalkan begitu saja mengembang layar
Sampai mereka menemui kata karam


(Bas2642020)

Telanjang


Aku tanpa lembar berdiri di depanmu
Menantang tegapnya kau yang pula berbalut kulit
Telanjang, dibatasi jeruji barisan kayu kayu hidup
Terpisah karena hak milik yang terbagi

Aku telanjang menatapmu kosong
Sejenak kolam kepala tak beriak, senyap
Hanya mata melahap hijaumu tanpa pikir
Sebelum kau menyusul rebah

Aku benar telanjang, tentang kau
Tak kutangkap lirihmu soal hari
Karena cerita di jari mereka
Kuasa jadi sebutan yang buat hanya bisa berdiri

Telanjang aku, ya...dari tempat teduh
Dengan dengung jadi teman sejenak
Menunjukkan padamu kulit benar polos
Sama seperti dengan yang akhirnya menabur andai


(Bas2642020)

Wednesday, April 01, 2020

Ketika #dirumahsaja


Dia membaca "Mantra Ayah"
Dia membaca di pintu masuk rumah
Dia membaca di rumah tepi jalan, seratusan meter dari batas kota

Dia membaca bait-bait  bahasa yang asing baginya
Dia membaca puisi karya penyair yang dikenalnya
Dia membaca karya sastra bertajuk "Mantra Ayah"

Dia melafal "Mantra Ayah" dengan membaca
Dia melafal "Mantra Ayah" karena #dirumahsaja
Dia melafal "Mantra Ayah" lalu tertangkap dengar

Aku menyebut menuliskanmu dialek berbeda
Aku mengerek mengibarkan kredoku
Pada yang disebut Jubata, empunya tujuh sifat

Jubata Ne' Pajaji
Jubata Ne' Panampa'
Jubata Ne' Nange
Jubata Ne' Panitah
Jubata Ne' Pangorok
Jubata Ne' Pangingu
Jubata Ne' Pangedokng

Bahwa...
Tahu kan, kami pada #dirumahsaja ?
Jadi...
Tahu kan, pinta kami manusia ?
........terimakasih


(Bas1Apr20)


Monday, March 30, 2020

Laki-laki Mengusir Kemam

Laki-laki itu mengatur telapak mendekat
Langkah kecil cepat, diam sesaat
Laki-laki itu lalu berbalik seakan menghapus jejak kaki
Menjauh, sekonyong-konyong melompat berbalik lagi

Gumam tak bertegur sapa bersama bibir, meluncur
Bunyinyapun ditekan sengaja
Laki-laki tak berani menantang pandang mata
Ia rebah dipangkuan dengan berkumur gumam

Matahari kali lain kembali menatap mengawasi
Laki-laki itu lari kecil mengguncang lemak pinggang
Ditemani gemam lagi yang tak akrab dengan bibir
Mata ini hanya dipasang tajam, mengawasi senyumnya yang ditekuk malu

Satu kali, laki-laki memupuk nyali mengusir kemam
Ia bertutur mesra pada pundak ini yang telanjang
Merangkul lembut sisi punggung hingga telinga menangkap jelas
Ia buang gentar dan malu dengan tekad bulat

Ah.. Tuhan...terimakasih

Lelakiku...
Rinduku pada manjamu yang lama hilang
Tiada berani menghampiri karena lakon yang kau hadapi

Lelakiku...
Surat ini kutulis saat lewat tiga musim kau disebut balita
Izinkan kusampaikan maaf atas hari-hari keras padamu

(Bas29Mar20)

Thursday, March 26, 2020

Di Situ Bisikan Lirik



Mangkok seng garpu tiga
Kau tertawa lebar pada langit miskin bintang
Usai peran sejentikan perdu putri malu
Melumuri kau titipan harapan bekal hati
Menyisakan jejak gampang dikenal

Tarian hari itu semata membeda rasa
Pekik tertahan merobek malam sebelum kau berlomba-lomba dikais
Memberimu tanda dari sisa yang berbekas
Pengganti lambang bintang jasa pada tubuhmu

Mata-mata sayu memancar isyarat puas
Mengirim pesan untuk tempat berlabuh esok hari
Mendung bisa disisih dengan memilih hentakan nafas
Jadi, mungkin mereka bunyikan terompet yang sama
Bisa juga melagukan syair berisi kenangan

Hari itu...
Mereka memanggul tambahan beban lagi
Kemudian...
Sejenak diletakkan berdamai dengan lelah
Pula...
Membiarkan bumi mendengar degup
Dan...
Berharap ia mau menyampaikan bisikan lirik
Di situ...
Mangkok seng garpu tiga


(Bas26Mar20)

Wednesday, March 18, 2020

Romansa Pemabuk di Hari Itu

Berkata pagi, pada sapa kota pasir putih
Selembar catatan diawali riak gerak berat kaki
Melempar dan mengasal kata berlantun
Di situ mendapati garis merah tertumpuk pada ufuk timur arah mata angin

Ramah membantu alur cerita dari prolog tak bermakna
Menjaga dialog untuk karisma yang asalnya dari entah
Garis - garis terbang liar dari tempatnya dilepaskan
Tidak cukup kuat menutupi bias garis merah

Kata-kata mati terputus disumbat gelagat
Memilih bertingkah didampingi decak halus
Sementara menutup senyum dan mengukirnya pada bola mata
Sinopsis gelap kasta berbeda berjalan

Fragmen hulu pesisir mencipta episode awal
Satu dongeng tak ditutur mengulang berani
Santun didera cambuk gila

Menikmati sesat sesaat
Sesat sesaat
Sesat
Keranjingan
Keranjingan sumbang
Melepaskan keranjingan sumbang

Liar berlari menunggangi dahsyat
Sadar hanya kosa kata pada kamus kata dan laku
Hiruk pikuk dijadikan penutup
Senyum menerabas garis merah
Menjadikannya ikat kepala bertuliskan persetan

Garis merah siap ada
Sempat tersenggol enggan meluntur
Setia menunggu pergolakan
Tahu di seberang berdiri di mercu suar menitip awas
Menunggu kemudian melangkah mengatup nurani
Ditemani deru meniti debu garis-garis sendiri

Warna pagi
Datang lagi
Di tanah tinggi
Mengulang pagi
Bergelagat lagi
Menggila tinggi

Secatatan diterbangkan merpati berkalung selendang merah
Gentar tersibak kepak ribuan
Garis memilih melebar, terpasang melintang pandang, disisihkan
Hendak menjadikannya titianpun muka berpaling

Rela melayang membumbung tanpa dahan pijakan
Menggantung harap pada rindu yang diinginkan
Bersisian pemberhentian di tepi perigi epilog
Tak berkata cukup, tak pula menitikkan usai

Selarik garis terentang tak berdengung
Legatonya tergantung sunyi sehening stakato

(BasMar2020)

Thursday, March 12, 2020

Lagu Tidur Untukku


Tahukah engkau lagu tidurku itu darimu
Sejenak aku mendengar, melarung raga lalu melompati lirikan pagi
Lagu tidurku lagu sederhana ragam syair
Narasinya pendek sesingkat bunyi kelapa tua yang gugur
Engkau nyanyikan di ujung tidur supaya panjang lelap lagi
Usir kantuk dari lambannya mengatup kelopak pulas

Lagu tidurku rindu lagu menenangkan hati
Lagu tidurku buat mengusir tanya dimana suara
Mencari kemana para pemiliknya mengisi pagi
Karena cairnya menggenangi ruang datangnya matahari 
Yakin hari itu tak ada kaca kaca sudut mata

Tahukah engkau senyap itu bukan lagu
Dia lebih rajin menganyam kesunyian

Sunyi itu hanya untuk telinga bukan hati
Hati yang ditaburi madu pada selang hari menuai ramai

Untukku bernyanyilah bersama tawa
Pulas mataku mengayun bait bersajak pendek
Lagukanlah damai tenang
Sekali menghentak tak mengapa
Ingin juga santapan aneka
Membawa layar tak mengibar buang sauh jauh

(12Mar2020)


Thursday, February 27, 2020

Aku Ingin

** Bahasa Kanak


Aku menitipkan matahari kepada tiang-tiang kelapa
Kusimpan panasnya di balik pelepah daun
Padahal ingin aku menggendongnya walau haus mengintip

Ilalang rindukah kau pada telapak kaki
Karena aku inginnya mendekapmu di dada
Ini kulit menyimpan wangi terik rela kau toreh

Hooee...!
Guntur meloncat-loncat dari dinding ke dinding
Bergema melewati jalan hitam beraspal
Dia terbang dari pintu gua merah marun
Terpeleset di atas porselin putih yang masih kokoh terpasang
Menyeruak diantara lembaran tirai hitam yang menari

Sungguh aku gentar tapi tak bergidik
Sang mata masih kupasang besar tegar
Bukanku ingin menghadang rangkaian guntur
Itu hanya perlu tahu, sebesar apakah awan hitam
Jadi aku tahu, harus secepat petir atau masih bisa berdendang pulang
Karena bertanya kenapa, aku tahu sebabnya
Daripada gelegar guntur tiba lagi

Aku menitipkan matahari di balik awan
Sampai selaksa pasukan langit menghampiri
Berebutan membuat gaduh yang ramai

Aku enggan bertanya karena mungkin jawabnya tidak
Aku memasang saja senyum ceria dengan tangan bermain tepi baju
"Papa, mandi di luar ya..", meski disitu bukan maksud

Aku tak ingin senyum, karena banyak makna
Aku tak ingin kata-kata untuk dapatkan tidak

Aku menunggu angguk
Sekali dan pelan
Aku menunggu kedip mata lembut
Dengan alis terangkat pelan

Cukup...
Itu cukup...
Sangat cukup membuat tubuh melesat mengikuti senang hati

Papa...
Gelegar petir akan kalah dari angguk kepalamu
Sergap pasukan langit jadi seperti sapuan bedak
Mari...
Kita basuh yang mengotori hari-hari kita

Aku ingin disitu
Disampingmu
Masuk duniaku
Melingkariku


(BasFeb2020)

Firasat Tua

Anonymous said...
Itu tulisannya yang tertera
Tak tergerak membalas meski berbasa basi

…. masih berharap firman itu tidak pernah ada... ?!?!
Tak kira dereten kata itu mengusiknya, dari puluhan rangkaian lain

11:59 PM penanda hadirnya
Emoticon icon belum kuakrabi waktu itu
Representasi gambar ekspresi wajah menggunakan karakter masih asing
Hanya senyum kecil manual
Sedikit saja tarikan dirasa disudut

Tahun-tahun usai itu pun seperti angin pantai
Tak ada lagi perihal Firasat itu
Aplikasi Winamp seperti purbakala
Begitu juga pelengkapnya "Imax Multimedia subwoofer system"
Berkekuatan "fullwoof BASS RD-s8200
Bongsor yang rongsok
Tak bisa harap Gema "bassboost" dengan "volume control" tertinggi
Hentakan Dance & Shout nya "Shaggy" dengan suara khasnya pun semakin jauh
Apalagi mengisah"Power DVD" yang tertancap di "Intel(R)"
Meski Cuma "Celeron(R) CPU.1.70GHz dengan 248 MB of RAM"
Pemancing tawa bagi……..dinasti 2020

Tapi tunggu, tunggu sejenak…
"Payroll Permata ATM" ku menunjukkan angka sisa yang tidak dapat dikuras lagi
Itu masih ada dan kerap berlaku
Setidaknya masih ada sampai balada ini kutiupkan
Masih ada sampai sembari menghitung masa purna
Sampai "streetgear Bodypack" yang kucabut dari saku belakang "Cardinal" biru tua menyandang almarhum
Oh..tidak…"Cardinal" biru tua itu memang sudah tua dan cacat
Tapi dia masih ada

Yang melambaikan tangan, "folder" khusus itu
Yang ikut berpisah, lagu-lagu yang ku copy melalui " "Nero Startmart" dari "LiteOn Combo Drive CD-RW & DVD-ROM"
"New Folder" yang ku "rename" menjadi "00.roman" itu hanya menjadi folder yang kerap ku tinggal memang benar-benar tinggal dan tertinggal

Tak ada lagi perihal folder itu hanya membuat hati tergerus
Tak ada lagi perihal Ada sedikit keinginan
Tak ada lagi perihal Dari lirik "Firasat" itu untuk menjadi kenyataan
Pun
Tak ada lagi perihal "Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi, Firasatku ingin kau cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi"
Tak ada lagi perihal…

Karna dia
Firasat yang tergerus dari banyak cerita
Firasat usang akibat akibat berkibarannya waktu
Karena ia
Firasat Tua


(Bas31Jan2020)


Monday, February 17, 2020

TIGA SERDADU

 Tiga serdadu di bawah tiang kayu
Tiga serdadu memegang tombak
Tiga serdadu baju perang melekat indah
Tiga serdadu terlihat tegap perkasa
Tiga serdadu atur susun tempat
Tiga serdadu itu pangkat berbeda.... tampak nya...
Karena satu beda gaya, mungkin asal usul berlainan.
Aaii..Sudahlah...
 
Satu serdadu itu memang tampil wibawa
Angkuh pun ada tersirat dengan tatap mata menyimpan lembut
Garis muka itu pun garis muka menahan senyum seorang bangsawan
Kau serdadu hanya kulit wajah saja terbuka
Ujung rambut sampai jari kaki terbalut baju kebesaran orang kaya
Mungkin masa itu nyamuk pun enggan tawa ria
Jera karena yang dihinggapi seperti batu susah terluka
Kunobatkan kau pemimpin dua serdadu
Mungkin bajumu buatku memutus
 
Satu serdadu lagi tak kalah wibawa
Tapi tampangmu mengesankan keras bercampur tegas ksatria
Daging tubuhmu jadi cukup bukti soal tempaan yang didapat
Kau seperti dihadirkan kasar tak berbelas kasih
Kulitmu hanya dilindungi bagian pentingnya
Kusematkan lembing menemanimu berperisai
Jagalah pemimpin tempatmu
 
Satu serdadu terakhir tak menarik hati perdana tiba
Kau hadir berwajah lembut meski tubuhmu tampil kerasnya
Rupawan rupamu dengan senyum manis bak anak manusia mentah perang
Dan serdadu...
Itu...
Itu tameng bukan penopang tubuh lelah
Itu tombak bukannya galah pengambil buah
Tempatmu diatur tak jauh dari dua rekanmu
Bersama di bawah tiang kayu
Berperan mengawasi tiang kayu
Tiang kayu itu
Tiang kayu salib
 
Aahh…bukan karakter kalian hendak kubongkar
Aku hendak mengisah kalian dalam ceritaku sendiri
Tapi ragu berkibar
Sebab, pernah kunikmati naskah tersusun 
Bahwa kalian sejatinya ada dikisahkan
Sejenak jari berhenti mengokang gerak
Diam...
Dangkal kau...
Ejek pada diri
 
Beruntung naskah bentuknya coretan
Kuletakkan saja pada satu kisah yang ada
Lalu…
Ini yang kudapat
Kuteruskan padamu
Kubagikan padamu
Kuceritakan untukmu
 
Longinus
Perwira centurion
Ia yang menikam lambung
Menerima penyembuhan sakit mata dari darah dan air
 
Longinus dan dua anak buah
Menolak godaan uang suap
Menolak diam tentang mukjizat
 
Longinus percaya pada juru selamat
Mereka menerima baptis
Mereka meninggalkan dinas militer
 
Longinus tinggalkan Yudea
Bersama dua rekannya ke Kapadokia
Mereka mengisah peristiwa Bukit Golgota
Mereka dicari
Mereka tak disenangi
Mereka menunjukkan iman yang kuat
Mereka mau menderita
Mereka martir suci
 
Longinus...
Hanya kepalanya dibawa
 
Longinus
Kepalanya dilempar ke atas tumpukan sampah di luar tembok
 
Longinus teks apokripa
Tombakmu pun bawa kisah-kisah
Lancea et Clavus Domini
Satu nama di satu kisah dari ragam lain
 
Longinus dan dua prajurit di dioramaku
Tiga serdadu itu sebuah cerita kasih pula
 
Longinus sang santo
Semoga iman semakin diperteguh


(BasFeb2020)
 
 

Friday, February 14, 2020

Suara Elang


Suara elang memecah debu-debu pukul sebelas
Suara elang hadir lagi ketika matahari makin garang memeluk tubuh
Lama ia pergi memilih tempatnya
Lama...suaranya tak menyibak daun-daun pohon tinggi
Lama.....suaranya tak menyapa rumput penandanya mengawasi


Lagi
Siang itu pekiknya lantang
Di terang itu dia membumbung berputar ikuti angin
Mungkin sama seperti waktu itu dia membawa pertanda
Tapi paham sedang berlayar


Kali ini sendiri dia mengabarkan pesan
Buat terka menyisih paham dengan mata membaca bunyi alam


Waspada apa yang dipasang, mendengar lagu angkasa dari atas bumi ini
Sekali itu ia datang
Sekali lain aku terbaring
Menemani bulir air mendinginkan kulit
Menjala barisan debu yang patuh mendatangi hari


Waspada apa yang mau dilaku
Sekali ini dia datang
Sekali lagi aku mengatur otak


Wahai elang
Hitam terlihat kau dari balik perisaiku
Kau menyentuh awan
Kau penerima pesan sebelum kau sampaikan padaku


Wahai elang
Tak jauh dari batas kota tempat jejak tapak kaki menghilang
Tak kupahami ocehanmu
Maka tak ada kredo pengiringmu
Meski itu
Senangku ada pada hadirmu


Perisaiku basah sejenak
Mengganti peluk matahari, dia lantas bersatu tubuh pada tanah
Dia turun menjawab risau hati pada pekik elang
Dia melontar kata kalau hari ini masih aman


Perisaiku dijamahnya ramah
Seratusan lain dari sifatnya selain aramah
Hadirnya menanda masa masih bersahabat


Wahai elang
Ia menjawab pekikmu, kah ?
Adakah kau dongkol melebihiku
Apakah panggilmu membuatnya singgah
Karena
Kemarin tiada engkau merentang sayap
Tetapi ia menjejak daun daun
Kemarin tiada ocehanmu di langit biru
Tapi riuhnya ada menggesek batu tanah


Dulu kau mungkin memaki karena dia enggan datang
Nyaring gerutumu meningkahi gurauan pipit pada laku alam


Mereka tiba beriring
Terbiasa pada bising
Biasa tergiring
Hingga pernah hinggapi kotor piring
Sampai memasang cengkraman pada yang menjulang miring


Duhai elang
Tatap matamu tajam tenang
Isyarat sarat berdarah dingin menggetar tulang
Berlakukah saat itu mengulang ?
Pada tubuh yang menumpuk sisi sisi usang


Kau elang
Jadilah juga pembawa pesan dari daratan berdebu
Beri warta di sini meminta lebih
Kekuatan hilang setengahnya di tengah ragam nafsu menundukkan garis nafas


Lantangkan suara elangmu balik
Kabarkan mata tombak haus tempat
Siarkan mata pedang ingin menari
Tuturkan mata panah mau dipinang
Menjejer ragam puja puji


Ya, aku mau sombong di atas tungkai kokoh
Sebab aku bersahabat bersama pongah
Sungguh, angkuh itu menghapus satu sisi haus
Percayalah, itu api hidup membakar darah



(BasFeb2020)

Thursday, January 30, 2020

Pertanyaan Minggu



Pa…hari Minggu kerjakah ?
Tanya itu singgah lagi
Tanya itu dibunyikan lagi
Tanya itu mengalun lagi dengan ragam makna

Pa…hari Minggu kerjakah ?
Awal mula tersirat satu saja
Pa…hari Minggu kerjakah ?
Berikut itu lagi mengundang pikir

Merindukah ?
Tentang apa?
Banyak yang tercecer tak terkumpul sejak Minggu tak dirajut baik
Banyak yang tergantikan dari Minggu yang tergerus

Tanya itu pasti dirindukan lagi
Tanya itu jadi cerita satu masa
Bahwa ada tanya dilontar
Bahwa tanya itu ada karena hatinya inginkan yang harusnya ada


(Basnov2019)