Wednesday, March 18, 2020

Romansa Pemabuk di Hari Itu

Berkata pagi, pada sapa kota pasir putih
Selembar catatan diawali riak gerak berat kaki
Melempar dan mengasal kata berlantun
Di situ mendapati garis merah tertumpuk pada ufuk timur arah mata angin

Ramah membantu alur cerita dari prolog tak bermakna
Menjaga dialog untuk karisma yang asalnya dari entah
Garis - garis terbang liar dari tempatnya dilepaskan
Tidak cukup kuat menutupi bias garis merah

Kata-kata mati terputus disumbat gelagat
Memilih bertingkah didampingi decak halus
Sementara menutup senyum dan mengukirnya pada bola mata
Sinopsis gelap kasta berbeda berjalan

Fragmen hulu pesisir mencipta episode awal
Satu dongeng tak ditutur mengulang berani
Santun didera cambuk gila

Menikmati sesat sesaat
Sesat sesaat
Sesat
Keranjingan
Keranjingan sumbang
Melepaskan keranjingan sumbang

Liar berlari menunggangi dahsyat
Sadar hanya kosa kata pada kamus kata dan laku
Hiruk pikuk dijadikan penutup
Senyum menerabas garis merah
Menjadikannya ikat kepala bertuliskan persetan

Garis merah siap ada
Sempat tersenggol enggan meluntur
Setia menunggu pergolakan
Tahu di seberang berdiri di mercu suar menitip awas
Menunggu kemudian melangkah mengatup nurani
Ditemani deru meniti debu garis-garis sendiri

Warna pagi
Datang lagi
Di tanah tinggi
Mengulang pagi
Bergelagat lagi
Menggila tinggi

Secatatan diterbangkan merpati berkalung selendang merah
Gentar tersibak kepak ribuan
Garis memilih melebar, terpasang melintang pandang, disisihkan
Hendak menjadikannya titianpun muka berpaling

Rela melayang membumbung tanpa dahan pijakan
Menggantung harap pada rindu yang diinginkan
Bersisian pemberhentian di tepi perigi epilog
Tak berkata cukup, tak pula menitikkan usai

Selarik garis terentang tak berdengung
Legatonya tergantung sunyi sehening stakato

(BasMar2020)

0 komentar: