Saturday, August 15, 2015

Embun di Tengah Malam

Matahari telah lama mengangkat cahayanya saat itu
Bukan lagi sekadar cukup hingga hangatnya pun tak bersisa
Bulan yang malu-malu muncul mengganti

Tidak bulan maupun matahari yang hilang sebagai penanda
Hiruk pikuk dibawah cahaya buatan juga seperti lonceng bermula

Embun memulai memacu nafas
Embun memulai memeras peluh
Embun memulai cekatan pada karya

Wahai Embun

Beningmu tak sebanding orang-orang pada keranjang
Beningmu tak sebanding orang-orang pada lapak
Beningmu tak sebanding orang-orang pada basah beton
Apalagi
Beningmu tak sebanding orang-orang yang terbiasa cipratan lumpur bau

Wahai Embun

Wangimu memang tak pernah melintasi inderaku
Wangimu memang tak pernah membuatku menoleh padamu
Wangimu memang tak pernah kutahu seperti apa
Tapi yang pasti, engkau punya itu sebagai pelengkap beningmu

Wahai Embun

Ingin aku melontar kata dan tanya
Tapi sudahlah
Orang pada keranjang, lapak, beton basah dan yang terbiasa cipratan lumpur bau tentu sudah lebih dahulu
Dan
Mungkin saja engkau tak benar-benar ingin menjawabnya

Wahai Embun

Beningmu membuatku menoleh
Beningmu membuatku bertanya-tanya
Beningmu yang kusebut, adalah pertanda kekaguman
Atas pacu nafasmu
Atas peras peluhmu
Atas cekatanmu
Atas kehendakmu mengumpulkan rupiah

(Pontianak 2015)


Terjagalah dari Damai

Coba kau buka mata
Benarkah tenang itu manisnya buah
Di tanahmu kau tahu, belalang terus saja ada
Tapi tak anggap mengancam wangi ranum
Suara kami mungkin keras bagi telinga lembutmu
Hingga mencetus kami perusak damai lelapmu

Bukan kami mengorek lubang
Tak pula mengais ketenaran
Hanya mau berkata, terjagalah, pemetik tenang itu menunggu waktu

Rantai 2 Liontin

Dua liontin perak tak bercacat di tangan malaikat
Kilaunya bersekawanan meski tak sebentuk
Mengantar arti di satu saling lengkap
Dua liontin perak tak tampak cacat di tangan malaikat
Sedekat bersisian diletak pada pangkuan
Di kepalanya terpasang mahkota buat penyatu

Dua liontin perak tak cacat fisik di tangan malaikat
Tapi miliki hati mendobrak dogma norma
Mengandai satu rantai perak sambung ikat

Petuah

Sekumpulan pemuka melafal mantera
Kitab yang ditenteng, penderet rumusan angka ramalan
Selebihnya, mereka telah menyimpannya di luar kepala

 Mantera-mantera itu sepertinya tak asing dan  lama telah kudengar
Urutannya berbeda membuatnya ada terasa baru didapat
Pembedanya rumusan ramalan dan kalimat-kalimat indah lainnya

Para pemuka melafal mantera yang disusun dari kelihaian otak di balik altar
Entah benarkah menjiwai mantera itu, karena pemuka berkulit bersih
Pernahkah mereka mengulur tangan langsung mengurapi

Aku hanya berharap
Sebelum para pemuka melontar mantera
Mereka menjiwai apa yang mereka lontarkan
Agar tak jadi sebatas petuah yang habis ketika pesanan pengobatan tak lagi ada

  

Gadis Pelayan Resto


Salju tak lagi turun
Salju masih memutih luas hampar daratan
Salju kujamah malu ujung kuku
Ini kali lihat, pertama rasa, enggan pula mencecap

Kali itu, mungkin pertama, juga tak dua melebih
Gadis pelayan resto menyerupa salju
Anak cucu dari pangkat sekian 1800-an lalu, menderajat diri pada kelas bangsa yang tinggi
Membudak leluhur sekehendak hati hingga jajah, namun sejenak membalik
Seperti sama pada gaya leluhurku pada leluhurnya yang kini dilakoninya


Aku memandang bukan sekadar mengagum
Menanya hati, meninggi diri, bahwasannya keturunan itu melayanku
Menyelempang tangan merapat badan sekaligus membungkuk hormat dengan suara pelan
Dingin tak mampu usir congkak dada mendongak dagu
Aku pun berperilaku seperti leluhurnya dahulu pada leluhurku
Pun, ingin aku menjajah dan perilakunya membasuh mungkin luka hati

(Amsterdam, 2010)

Menjejak Tanah Leluhurku di Leluhurmu

Senyum sejenak
Menjejak tanah mantan
Memulai dari ratusan tahun silam
Di sini adalah adanya dirimu
Melebar layar menyapa tanahku

Jauh bangunmu dari bangun jajahmu
Leluhurmulah mengaya seperti kini dirimu
Pada tanahmu ada hakku kalau mau menuntut

Indah dirimu terbalut dingin putih
Merona urat, mengkerut otot saat itu
Jauhkan angkuh, karena leluhurku dan tanahnya jasa
Jejak ini buat menyambung rasa
Mencoba meresap darah leluhur mendasar di negrimu
Adakah kau coba lagi membagi
Sebagai penghapus dosa masa lalu leluhurmu


(Schiphol Airport, 2010)