Monday, May 02, 2022
JANJI PEMABUK PADA DIRINYA
Diposting oleh bas andreas di 8:13 AM 0 komentar
Tuesday, February 23, 2021
GELEGAR YANG SUNYI
Kau melangkah tanpa sempat aku membuat tata bunyi
Surat buat kudengarkan untukmu itu, hanya kupajang
pada alamat yang Tukang Pos pun mengkerut kening
Sambil otaknya berbunyi,"mungkin dia sedang
mencoba gila"
Coretan yang awalnya di kertas bekas itu cuma
pindah-pindah
Meja tangan
Meja lantai
Meja kursi
Meja meja
Sambil aku menitip antara semu harap dan tidak, ia
terlihat
Lalu memanen kata
Hebat
Mantap
Bravo dan sodara-sodaranya yang lain
Kau pergi jauh di sana
Telah kau tinggalkan panggung tempatmu
Kau turun dari pentas usai lakon dari pertunjukkan
itu
Gelegar yang sunyi mengalun
Sedang di sini
Belum lagi niatku tercapai padamu
Hei, maaf
Gelegarmu adalah satu buah tentang rindu
Pekikmu adalah satu buah tentang kasih
Suaramu adalah satu buah tentang pesan
Aku satu dari sekian terbentuk olehmu
Diri miliki hati di situ, karena olahmu
Seperti kerikil kusam ditawari arti dari adanya
Meski karang cadas berseliweran membelah angin
Kau di sana berdiri gagah, menunggu
Tapi
Satu lagi maaf
Suara - suara di kepala itu menahan hembusan niat
Mengubahnya jadi angin bimbang
Aku cuma duduk saja
Cuma duduk
(17/10/20--23/2/21)
Diposting oleh bas andreas di 6:45 AM 0 komentar
Monday, February 22, 2021
BANGGA RASA INI
Aromamu
Menerpa
Dari balik pintu kaca bening
Merayu bulu bulu tubuh bersama dingin dan wangi ranjangmu
Senyum pagi itu ditebar juga untukmu
Riang jiwa menghampiri membawa tanya
Kutatapkah kau hari ini?
Kusentuhkah halusmu nanti?
Kurabakah kau?
Atau
Hanya baca surat-suratmu untuk pastikan kemana langkahmu?
Demi matahari membakar kepala
Aromamu yang menari diujung hidung
Benarkah asalnya dari depan mata?
Bukan dari bertarungnya ragam selera?
Takkan kubiarkan
Maka
Sabuk kepala bertuliskan persetan mengencang kuat
Rectoverso tak menarik sudut mata
Persis seperti kemarin
Kembali menjala keseriusan tarian jari
Sampai pada satu teluk kosong lelah
Lalu..
Untuk apa sang serius dibawa mengarungi lautan jika nurani sedang di atas bukit memanggil bulan menerangi semak untuk berjalan turun
Demi matahari membakar kepala
Di sini mereka menyimpan percaya
Di sini juga mereka ingin menuai tulus
Menyambung satu masa pada waktu
Mengeja hari dari hari
Memberi satu ruang kosong dada
Dan
Kutanya pada kalian di balik dinding-dinding sana
Siapa???
Ya, iya,
Lihat, nafas-nafas itu teratur menata diri
Di situ, ada juga jasa ini
Membuat mereka senyum menanti
Menitipkan hak aman nyaman menimang nafas
Ya
Karena satu ini
Salah satunya
Diposting oleh bas andreas di 6:18 AM 0 komentar
BUKAN KONGLOMERAT
Daun daun pakis tersibak pelan
Angin membantunya menggeliat seolah menyingkir
debu jalanan
Masih malu-malu menegak diri, membujur kaku
Hingga jari lembut menjentik embun melekat
Memaksanya terpisah
Membawanya pindah
Menjauh dari legam tanah
Tempat pijakannya pun rebah
Menggulung lengkung
Senyum kaummu dulu, ramai itu
Sampai sebagian diputuskan berganti peran
Atau bahkan
Rebah menjadi alas
Bersahabat dengan mereka
Yang diundang datang, menetap, menemani
berbaring
Apa peduliku dari atas sini
Di sana tempatku
Dulunya pun sama dengan pembaringanmu kini
Dari tempatku merakit senyum
Banyak tawa tawa ditumpahkan
Selaksa hati ria menari
Meski belum tentu juga
pakis-pakis menjadi kaum alas perut mereka
Bisa jadi
Mereka tak tahu, apa kau
Dari mana datang kau menyelip di tempat rapi
Mungkin juga mengisi sudut-sudut kosong teduh
Kemudian hari
Hilang
Lenyap
Tergantikan
Aku menyapamu lewat kertas dan logam
Masih jauh jamanmu dipinang tanpa mereka
Aku menghampirimu dengan piring pada jari-jari
Menawarkan senyum kepada perut satu hari rasa
syukur
Bahwa
Kau ada pada arus-arus darah
yang membawaku menyapa kau lagi
Pada pagi
Pada siang
Pada malam
Sebelum mengikuti gayamu melengkung bergulung
Terus menganyam senyum sampai pada satu tempat
yang sama
Aku mendulang massa pada masa hingga kulit lebih
dari coklat
Enggan menyerah pada kalah hendak menempel rapat
Diwarisi doktrin yang diubah menjadi jejak-jejak
kodrat
Melayang menemukan tempat
Menyingkirkan kesumat
Kalau takdir bukan sang konglomerat
Ini diri
Berdiri di sini
Menisik mimpi
Sambil bergurau pada hari
Tak mau melepasnya pergi
(Bas Andreas/22/2/2021)
Diposting oleh bas andreas di 6:01 AM 0 komentar
Tuesday, October 06, 2020
Bung
Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan
Bung
Matahari berubah warna lagi, hari itu
Kemarin dan esok seperti itu ia pergi untuk mengulang datang
Menunggu hentak nafasmu, mengantarnya pergi
Hari itu
Sebelum ia benar lalu
Gelegarmu merayap dinding
Ia menitipkan pesan
Gelegarmu menyapu lantai
Ia mengikat gurat gurat hidup
Gelegarmu mengusir segala debu
Bahkan berkawan nafas, bagai menggeser karang
Gelegarmu menggergaji jiwa
Disitu
Tak pernah kubagi tanya apa inginmu
Bung...
Aku mau teriak lagi
Ya, hari ini,
Hari
Ini
Sama seperti teriakmu yang kutoreh dulu
Kujadikan pekikku yang gaungnya kaleng rombeng
Yooo...
Lehermu menegang urat, memanggil ajak
Bau tembakau kretek menyertai, mendampingi kepul
Anak manusia pun berlaku gontai
Seph...seph..seph..
Kaki kaki mereka menyeret alas seakan enggan
Kuku jaripun kau adu gigi
Yo yo yo
Teriakmu mengantar jiwa jiwa menemukan sarang
Sebelum hentakan hentakan nafas itu dibagi bagi
Kau bakar di sana
Meraut sisa sisa semangat yang ditampung dari lelah harian
Bung
Seperti yang kau ajarkan
Wahai itu wahai
Darah itu darah
Mati itu mati
Hadirkan itu kalau meminta misteri
Karna mereka juga melekat nyawa
Tak pernah kau ajar berkata cinta
Tapi kau hadirkan
Bung
Aku masih di sini, Bung
Begini
Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan
(6/10/2020)
Diposting oleh bas andreas di 7:27 AM 0 komentar
Cuma Syair
Pabila para dewa memanggil satu saat
Aku bakal melempar kata memohon
Utuslah aku pada perang kering itu
Walau mereka membekali hanya sedikit
Aku mau detik akhir kusaksikan, jika memang itu
Biarkan aku masih berdiri di sana, jika itu terjadi
Pabila para dewa terpaksa memilih punggawa
Aku mau di situ dan segera tengoklah aku ini
Ambillah, ini pedangmu
Genggamlah, ini tombakmu
Rengkuhlah, ini busur anak panahmu
Bawa, kan kuukir selarik senyummu
Titah kuharap adalah maju perang
Kuberi tangan berurat urat yang kaku ini
Mengayuh perahu di lautan lumpur
Kaki ini pancang meski lapuk mengintip
Tapi bisa menghunjam tanah kerontang
Dipasang pada tubuh yang pernah didera gigil terik
Ooo...perang apakah ini?
Daya menunjukkan sisi takluknya
Tak urung membuat ciut
Berharap pertempuran itu pada bentuk nyanyian lama
Bahkan masih mengalir walau pendulang usaikan peran
Ooo..berharap ini hanya sekali lewat
Ooo..berharap ini sekisah perjalanan
Ooo..harap cuma berakhir pada syair
Kukabarkan pada kalian agar tahu, aku pernah didalamnya
(Bas5/5/20)
Diposting oleh bas andreas di 7:17 AM 0 komentar
Tuesday, April 28, 2020
Musim Lusinan Lengah
Kusajikan murka pada sang setengah dewa
Entah jiwa-jiwa penasaran mana yang menggandeng
Taman dekat tahta para dewa kusinggahi
Ingin persembahkan langsung dari lengan ini
Namun untungnya sang setengah dewa sedang pada sisi Nya
Kuterbang meninggalkan taman dekat tahta dewa
Kuhampiri penjaga barak para laskar
"Sampaikan pada setengah dewa, lobangi pundi pakailah batu karang"
Pesan mesra kutitip
Hasilnya tak pernah kuintip
Kuberbaju sombong
Menempelinya dengan rajutan bodoh
Merangkai dari lusinan lengah
Enggan memanggul kata menyerah
Padahal kuasa dari para dewa masih dipinta
Diposting oleh bas andreas di 7:29 AM 0 komentar
Nyanyian Laskar Tanpa Coda
Ia telah padam lama
Tapi sepertinya Coda belum disematkan pada lagu
Tentu Crescendo meminta izin ditimang untuk awal sekisah lagi
Bahtera kutinggalkan
Nahkoda kuletakkan
Kuda kubawa berlari menuju perang lama
Perang darat yang kuakrabi sejak awal berdiri di sana
Dayaku setengah maka kutinggalkan dia
Para dewa kutantang, waktu itu
Mereka bersikukuh, waktu itu
Dan, aku bukan nahkoda penunggang kuda lagi
Bahwa jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Tak pula kujanjikan nyanyian sebagai laskar penunggang kuda
Mereka kutinggalkan begitu saja mengembang layar
Sampai mereka menemui kata karam
Diposting oleh bas andreas di 7:26 AM 0 komentar
Telanjang
Menantang tegapnya kau yang pula berbalut kulit
Telanjang, dibatasi jeruji barisan kayu kayu hidup
Terpisah karena hak milik yang terbagi
Sejenak kolam kepala tak beriak, senyap
Hanya mata melahap hijaumu tanpa pikir
Sebelum kau menyusul rebah
Tak kutangkap lirihmu soal hari
Karena cerita di jari mereka
Kuasa jadi sebutan yang buat hanya bisa berdiri
Dengan dengung jadi teman sejenak
Menunjukkan padamu kulit benar polos
Sama seperti dengan yang akhirnya menabur andai
Diposting oleh bas andreas di 7:23 AM 0 komentar
Wednesday, April 01, 2020
Ketika #dirumahsaja
Dia membaca "Mantra Ayah"
Dia membaca di pintu masuk rumah
Dia membaca di rumah tepi jalan, seratusan meter dari batas kota
Dia membaca bait-bait bahasa yang asing baginya
Dia membaca puisi karya penyair yang dikenalnya
Dia membaca karya sastra bertajuk "Mantra Ayah"
Dia melafal "Mantra Ayah" dengan membaca
Dia melafal "Mantra Ayah" karena #dirumahsaja
Dia melafal "Mantra Ayah" lalu tertangkap dengar
Aku menyebut menuliskanmu dialek berbeda
Aku mengerek mengibarkan kredoku
Pada yang disebut Jubata, empunya tujuh sifat
Jubata Ne' Pajaji
Jubata Ne' Panampa'
Jubata Ne' Nange
Jubata Ne' Panitah
Jubata Ne' Pangorok
Jubata Ne' Pangingu
Jubata Ne' Pangedokng
Bahwa...
Tahu kan, kami pada #dirumahsaja ?
Jadi...
Tahu kan, pinta kami manusia ?
........terimakasih
(Bas1Apr20)
Diposting oleh bas andreas di 9:07 AM 0 komentar
Monday, March 30, 2020
Laki-laki Mengusir Kemam
Diposting oleh bas andreas di 9:07 AM 0 komentar


