Monday, May 02, 2022

JANJI PEMABUK PADA DIRINYA

Jika suatu saat nanti 
aku masuk neraka
Aku akan menghasut para setan di sana Mencelakai orang yang membuatku masuk neraka. 
Sampai orang itu, 
masuk juga ke neraka. 
Kalau dia sudah masuk ke dalam neraka
Kuhasut lagi para setan untuk menyiksanya

Jika aku diizinkan 
memasuki surga nanti
Aku akan memohon kepada para malaikat Kudus
Melindungi dan menjaga orang yang membuatku bisa tinggal di surga
Sampai orang itu,
masuk juga ke dalam surga
Kalau dia sudah ada di surga
Kumohon lagi para malaikat Kudus menempatkannya sangat dekat di sisi Tuhan

Jika nanti di sana bertemu setan
Jika nanti di sana bertemu malaikat Kudus 
Secara bersamaan
Maka
Akan kuminta tutorial keluar-masuk neraka dan tutorial keluar-masuk surga
Serta tutorial pulang-pergi ke dunia

Tuesday, February 23, 2021

GELEGAR YANG SUNYI

Kau melangkah tanpa sempat aku membuat tata bunyi
Surat buat kudengarkan untukmu itu, hanya kupajang pada alamat yang Tukang Pos pun mengkerut kening
Sambil otaknya berbunyi,"mungkin dia sedang mencoba gila"

Coretan yang awalnya di kertas bekas itu cuma pindah-pindah
Meja tangan
Meja lantai
Meja kursi
Meja meja
Sambil aku menitip antara semu harap dan tidak, ia terlihat
Lalu memanen kata
Hebat
Mantap
Bravo dan sodara-sodaranya yang lain

Kau pergi jauh di sana
Telah kau tinggalkan panggung tempatmu
Kau turun dari pentas usai lakon dari pertunjukkan itu
Gelegar yang sunyi mengalun
Sedang di sini
Belum lagi niatku tercapai padamu

Hei, maaf
Gelegarmu adalah satu buah tentang rindu
Pekikmu adalah satu buah tentang kasih
Suaramu adalah satu buah tentang pesan

Aku satu dari sekian terbentuk olehmu
Diri miliki hati di situ, karena olahmu  
Seperti kerikil kusam ditawari arti dari adanya
Meski karang cadas berseliweran membelah angin
Kau di sana berdiri gagah, menunggu

Tapi
Satu lagi maaf
Suara - suara di kepala itu menahan hembusan niat
Mengubahnya jadi angin bimbang  
Aku cuma duduk saja
Cuma duduk 



(17/10/20--23/2/21)

Monday, February 22, 2021

BANGGA RASA INI

Hhhss hhffuu
Aromamu
Menerpa
Dari balik pintu kaca bening
Merayu bulu bulu tubuh bersama dingin dan wangi ranjangmu
 
Senyum pagi itu ditebar juga untukmu
Riang jiwa menghampiri membawa tanya
Kutatapkah kau hari ini?
Kusentuhkah halusmu nanti?
Kurabakah kau?
 
Atau
Hanya baca surat-suratmu untuk pastikan kemana langkahmu?
Demi matahari membakar kepala
 
Aromamu yang menari diujung hidung
Benarkah asalnya dari depan mata?
Bukan dari bertarungnya ragam selera?
Apakah hari ini?
Haruskah rasa kecamuk menjangkiti tekad

Hhuufft
Takkan kubiarkan
Maka
Sabuk kepala bertuliskan persetan mengencang kuat
Rectoverso tak menarik sudut mata
Persis seperti kemarin
Kembali menjala keseriusan tarian jari
Sampai pada satu teluk kosong lelah
Lalu..

Untuk apa sang serius dibawa mengarungi lautan jika nurani sedang di atas bukit memanggil bulan menerangi semak untuk berjalan turun

Aaaah
Demi matahari membakar kepala
 
Di sini mereka menyimpan percaya
Di sini juga mereka ingin menuai tulus
Menyambung satu masa pada waktu
Mengeja hari dari hari

Tapaku mengulang menyusun nafas
Memberi satu ruang kosong dada
Dan
Kutanya pada kalian di balik dinding-dinding sana
Siapa???
Ya, iya, 
Iya di sana
 
Lihat, nafas-nafas itu teratur menata diri
Di situ, ada juga jasa ini
Membuat mereka senyum menanti
Menitipkan hak aman nyaman menimang nafas
 
Ya
Karena satu ini
Salah satunya


(Bas Andreas/22/2/2021) 

BUKAN KONGLOMERAT

Daun daun pakis tersibak pelan
Angin membantunya menggeliat seolah menyingkir debu jalanan
Masih malu-malu menegak diri, membujur kaku
Hingga jari lembut menjentik embun melekat

Memaksanya terpisah
Membawanya pindah
Menjauh dari legam tanah
Tempat pijakannya pun rebah

Begitu juga pada yang muncul baru
Menggulung lengkung


Senyum kaummu dulu, ramai itu
Sampai sebagian diputuskan berganti peran
Atau bahkan
Rebah menjadi alas

Bersahabat dengan mereka
Yang diundang datang, menetap, menemani berbaring

Apa peduliku dari atas sini
Di sana tempatku
Dulunya pun sama dengan pembaringanmu kini

Dari tempatku merakit senyum
Banyak tawa tawa ditumpahkan
Selaksa hati ria menari

Meski belum tentu juga pakis-pakis menjadi kaum alas perut mereka
Bisa jadi
Mereka tak tahu, apa kau
Dari mana datang kau menyelip di tempat rapi
Mungkin juga mengisi sudut-sudut kosong teduh

Kemudian hari
Hilang
Lenyap
Tergantikan

Aku menyapamu lewat kertas dan logam
Masih jauh jamanmu dipinang tanpa mereka
Aku menghampirimu dengan piring pada jari-jari
Menawarkan senyum kepada perut satu hari rasa syukur
Bahwa

Kau ada pada arus-arus darah yang membawaku menyapa kau lagi
Pada pagi
Pada siang
Pada malam
Sebelum mengikuti gayamu melengkung bergulung
Terus menganyam senyum sampai pada satu tempat yang sama

Aku mendulang massa pada masa hingga kulit lebih dari coklat
Enggan menyerah pada kalah hendak menempel rapat

Diwarisi doktrin yang diubah menjadi jejak-jejak kodrat
Melayang menemukan tempat
Menyingkirkan kesumat
Kalau takdir bukan sang konglomerat

Ini diri
Berdiri di sini
Menisik mimpi
Sambil bergurau pada hari
Tak mau melepasnya pergi

(Bas Andreas/22/2/2021)

 

Tuesday, October 06, 2020

Bung

Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan

Bung
Matahari berubah warna lagi, hari itu
Kemarin dan esok seperti itu ia pergi untuk mengulang datang
Menunggu hentak nafasmu, mengantarnya pergi

Hari itu
Sebelum ia benar lalu
Gelegarmu merayap dinding
Ia menitipkan pesan
Gelegarmu menyapu lantai
Ia mengikat gurat gurat hidup
Gelegarmu mengusir segala debu
Bahkan berkawan nafas, bagai menggeser karang
Gelegarmu menggergaji jiwa
Disitu
Tak pernah kubagi tanya apa inginmu

Bung...
Aku mau teriak lagi
Ya, hari ini,
Hari
Ini
Sama seperti teriakmu yang kutoreh dulu
Kujadikan pekikku yang gaungnya kaleng rombeng

Yooo...
Lehermu menegang urat, memanggil ajak
Bau tembakau kretek menyertai, mendampingi kepul
Anak manusia pun berlaku gontai
Seph...seph..seph..
Kaki kaki mereka menyeret alas seakan enggan
Kuku jaripun kau adu gigi

Yo yo yo
Teriakmu mengantar jiwa jiwa menemukan sarang
Sebelum hentakan hentakan nafas itu dibagi bagi
Kau bakar di sana
Meraut sisa sisa semangat yang ditampung dari lelah harian

Bung
Seperti yang kau ajarkan
Wahai itu wahai
Darah itu darah
Mati itu mati
Hadirkan itu kalau meminta misteri
Karna mereka juga melekat nyawa
Tak pernah kau ajar berkata cinta
Tapi kau hadirkan

Bung
Aku masih di sini, Bung
Begini

Bung
Aku mau teriak lagi
Seperti yang kau ajarkan

(6/10/2020)

Cuma Syair


Pabila para dewa memanggil satu saat
Aku bakal melempar kata memohon
Utuslah aku pada perang kering itu
Walau mereka membekali hanya sedikit
Aku mau detik akhir kusaksikan, jika memang itu
Biarkan aku masih berdiri di sana, jika itu terjadi

Pabila para dewa terpaksa memilih punggawa
Aku mau di situ dan segera tengoklah aku ini
Ambillah, ini pedangmu
Genggamlah, ini tombakmu
Rengkuhlah, ini busur anak panahmu
Bawa, kan kuukir selarik senyummu

Titah kuharap adalah maju perang
Kuberi tangan berurat urat yang kaku ini
Mengayuh perahu di lautan lumpur
Kaki ini pancang meski lapuk mengintip
Tapi bisa menghunjam tanah kerontang
Dipasang pada tubuh yang pernah didera gigil terik

Ooo...perang apakah ini?
Daya menunjukkan sisi takluknya
Gaya berdiri di atas goyah

Tak urung membuat ciut
Berharap pertempuran itu pada bentuk nyanyian lama
Bahkan masih mengalir walau pendulang usaikan peran

Ooo..berharap ini hanya sekali lewat
Ooo..berharap ini sekisah perjalanan
Ooo..harap cuma berakhir pada syair
Kukabarkan pada kalian agar tahu, aku pernah didalamnya

(Bas5/5/20)

Tuesday, April 28, 2020

Musim Lusinan Lengah


(Episode Nyanyian Laskar Tanpa Coda)


Semusim itu
Kusajikan murka pada sang setengah dewa
Entah jiwa-jiwa penasaran mana yang menggandeng
Taman dekat tahta para dewa kusinggahi
Ingin persembahkan langsung dari lengan ini
Namun untungnya sang setengah dewa sedang pada sisi Nya

Semusim itu
Kuterbang meninggalkan taman dekat tahta dewa
Kuhampiri penjaga barak para laskar
"Sampaikan pada setengah dewa, lobangi pundi pakailah batu karang"
Pesan mesra kutitip
Hasilnya tak pernah kuintip

Semusim itu
Kuberbaju sombong
Menempelinya dengan rajutan bodoh
Merangkai dari lusinan lengah
Enggan memanggul kata menyerah
Padahal kuasa dari para dewa masih dipinta


(Bas2642020)

Nyanyian Laskar Tanpa Coda

Jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Ia telah padam lama
Tapi sepertinya Coda belum disematkan pada lagu
Tentu Crescendo meminta izin ditimang untuk awal sekisah lagi

Aku melambaikan jemari di kisah laut
Bahtera kutinggalkan
Nahkoda kuletakkan
Kuda kubawa berlari menuju perang lama
Perang darat yang kuakrabi sejak awal berdiri di sana

Aku melambaikan jemari pada perang laut
Dayaku setengah maka kutinggalkan dia
Para dewa kutantang, waktu itu
Mereka bersikukuh, waktu itu
Dan, aku bukan nahkoda penunggang kuda lagi

Waktu itu, tiada pesan kutinggalkan
Bahwa jangan rindu pada nyanyian berisi kesah
Tak pula kujanjikan nyanyian sebagai laskar penunggang kuda
Mereka kutinggalkan begitu saja mengembang layar
Sampai mereka menemui kata karam


(Bas2642020)

Telanjang


Aku tanpa lembar berdiri di depanmu
Menantang tegapnya kau yang pula berbalut kulit
Telanjang, dibatasi jeruji barisan kayu kayu hidup
Terpisah karena hak milik yang terbagi

Aku telanjang menatapmu kosong
Sejenak kolam kepala tak beriak, senyap
Hanya mata melahap hijaumu tanpa pikir
Sebelum kau menyusul rebah

Aku benar telanjang, tentang kau
Tak kutangkap lirihmu soal hari
Karena cerita di jari mereka
Kuasa jadi sebutan yang buat hanya bisa berdiri

Telanjang aku, ya...dari tempat teduh
Dengan dengung jadi teman sejenak
Menunjukkan padamu kulit benar polos
Sama seperti dengan yang akhirnya menabur andai


(Bas2642020)

Wednesday, April 01, 2020

Ketika #dirumahsaja


Dia membaca "Mantra Ayah"
Dia membaca di pintu masuk rumah
Dia membaca di rumah tepi jalan, seratusan meter dari batas kota

Dia membaca bait-bait  bahasa yang asing baginya
Dia membaca puisi karya penyair yang dikenalnya
Dia membaca karya sastra bertajuk "Mantra Ayah"

Dia melafal "Mantra Ayah" dengan membaca
Dia melafal "Mantra Ayah" karena #dirumahsaja
Dia melafal "Mantra Ayah" lalu tertangkap dengar

Aku menyebut menuliskanmu dialek berbeda
Aku mengerek mengibarkan kredoku
Pada yang disebut Jubata, empunya tujuh sifat

Jubata Ne' Pajaji
Jubata Ne' Panampa'
Jubata Ne' Nange
Jubata Ne' Panitah
Jubata Ne' Pangorok
Jubata Ne' Pangingu
Jubata Ne' Pangedokng

Bahwa...
Tahu kan, kami pada #dirumahsaja ?
Jadi...
Tahu kan, pinta kami manusia ?
........terimakasih


(Bas1Apr20)


Monday, March 30, 2020

Laki-laki Mengusir Kemam

Laki-laki itu mengatur telapak mendekat
Langkah kecil cepat, diam sesaat
Laki-laki itu lalu berbalik seakan menghapus jejak kaki
Menjauh, sekonyong-konyong melompat berbalik lagi

Gumam tak bertegur sapa bersama bibir, meluncur
Bunyinyapun ditekan sengaja
Laki-laki tak berani menantang pandang mata
Ia rebah dipangkuan dengan berkumur gumam

Matahari kali lain kembali menatap mengawasi
Laki-laki itu lari kecil mengguncang lemak pinggang
Ditemani gemam lagi yang tak akrab dengan bibir
Mata ini hanya dipasang tajam, mengawasi senyumnya yang ditekuk malu

Satu kali, laki-laki memupuk nyali mengusir kemam
Ia bertutur mesra pada pundak ini yang telanjang
Merangkul lembut sisi punggung hingga telinga menangkap jelas
Ia buang gentar dan malu dengan tekad bulat

Ah.. Tuhan...terimakasih

Lelakiku...
Rinduku pada manjamu yang lama hilang
Tiada berani menghampiri karena lakon yang kau hadapi

Lelakiku...
Surat ini kutulis saat lewat tiga musim kau disebut balita
Izinkan kusampaikan maaf atas hari-hari keras padamu

(Bas29Mar20)