Daun daun pakis tersibak pelan
Angin membantunya menggeliat seolah menyingkir
debu jalanan
Masih malu-malu menegak diri, membujur kaku
Hingga jari lembut menjentik embun melekat
Memaksanya terpisah
Membawanya pindah
Menjauh dari legam tanah
Tempat pijakannya pun rebah
Menggulung lengkung
Senyum kaummu dulu, ramai itu
Sampai sebagian diputuskan berganti peran
Atau bahkan
Rebah menjadi alas
Bersahabat dengan mereka
Yang diundang datang, menetap, menemani
berbaring
Apa peduliku dari atas sini
Di sana tempatku
Dulunya pun sama dengan pembaringanmu kini
Dari tempatku merakit senyum
Banyak tawa tawa ditumpahkan
Selaksa hati ria menari
Meski belum tentu juga
pakis-pakis menjadi kaum alas perut mereka
Bisa jadi
Mereka tak tahu, apa kau
Dari mana datang kau menyelip di tempat rapi
Mungkin juga mengisi sudut-sudut kosong teduh
Kemudian hari
Hilang
Lenyap
Tergantikan
Aku menyapamu lewat kertas dan logam
Masih jauh jamanmu dipinang tanpa mereka
Aku menghampirimu dengan piring pada jari-jari
Menawarkan senyum kepada perut satu hari rasa
syukur
Bahwa
Kau ada pada arus-arus darah
yang membawaku menyapa kau lagi
Pada pagi
Pada siang
Pada malam
Sebelum mengikuti gayamu melengkung bergulung
Terus menganyam senyum sampai pada satu tempat
yang sama
Aku mendulang massa pada masa hingga kulit lebih
dari coklat
Enggan menyerah pada kalah hendak menempel rapat
Diwarisi doktrin yang diubah menjadi jejak-jejak
kodrat
Melayang menemukan tempat
Menyingkirkan kesumat
Kalau takdir bukan sang konglomerat
Ini diri
Berdiri di sini
Menisik mimpi
Sambil bergurau pada hari
Tak mau melepasnya pergi
(Bas Andreas/22/2/2021)



0 komentar:
Post a Comment