Monday, February 22, 2021

BUKAN KONGLOMERAT

Daun daun pakis tersibak pelan
Angin membantunya menggeliat seolah menyingkir debu jalanan
Masih malu-malu menegak diri, membujur kaku
Hingga jari lembut menjentik embun melekat

Memaksanya terpisah
Membawanya pindah
Menjauh dari legam tanah
Tempat pijakannya pun rebah

Begitu juga pada yang muncul baru
Menggulung lengkung


Senyum kaummu dulu, ramai itu
Sampai sebagian diputuskan berganti peran
Atau bahkan
Rebah menjadi alas

Bersahabat dengan mereka
Yang diundang datang, menetap, menemani berbaring

Apa peduliku dari atas sini
Di sana tempatku
Dulunya pun sama dengan pembaringanmu kini

Dari tempatku merakit senyum
Banyak tawa tawa ditumpahkan
Selaksa hati ria menari

Meski belum tentu juga pakis-pakis menjadi kaum alas perut mereka
Bisa jadi
Mereka tak tahu, apa kau
Dari mana datang kau menyelip di tempat rapi
Mungkin juga mengisi sudut-sudut kosong teduh

Kemudian hari
Hilang
Lenyap
Tergantikan

Aku menyapamu lewat kertas dan logam
Masih jauh jamanmu dipinang tanpa mereka
Aku menghampirimu dengan piring pada jari-jari
Menawarkan senyum kepada perut satu hari rasa syukur
Bahwa

Kau ada pada arus-arus darah yang membawaku menyapa kau lagi
Pada pagi
Pada siang
Pada malam
Sebelum mengikuti gayamu melengkung bergulung
Terus menganyam senyum sampai pada satu tempat yang sama

Aku mendulang massa pada masa hingga kulit lebih dari coklat
Enggan menyerah pada kalah hendak menempel rapat

Diwarisi doktrin yang diubah menjadi jejak-jejak kodrat
Melayang menemukan tempat
Menyingkirkan kesumat
Kalau takdir bukan sang konglomerat

Ini diri
Berdiri di sini
Menisik mimpi
Sambil bergurau pada hari
Tak mau melepasnya pergi

(Bas Andreas/22/2/2021)

 

0 komentar: