Tuesday, August 14, 2007

Nuan


Nuan melihat
Nuan merasakannya
Nuan juga yang mengabadikan
Nuan pula yang bakal bercerita
Nuan kepada bini, anak, cucu
Nuan kepada sodara
Nuan kepada nuan-nuan lain
Tentang keindahannya
Tentang bergidik ketika ditengahnya
Tentang para, nasib dan hal lainnya
Karna mungkin dia akan sulit abadi dan musnah punah
Yang hanya akan dapat dilihat lewat hasil nuan mengintip lensa

Friday, June 29, 2007

Meinyum


Tak banyak..
Tak lebih
Hanya sedikit kok...
Mula-mulanya tentu
Lalu.....
Gaung Gong
Irama Kenong
Tabuhan Gendang berbolong
Semakin membuat bengong
Darahmu ditoreh
Darahmu bening
Darahmu manis
Darahmu wangi khas
Darahmu keras ketika kulit resak dicebur
Lalu darahmu berubah keruh
Meinyuuummm...
Hhhmmmmmm...


Note: Sesuai resep, dosis yang diperbolehkan 1 x jangan banyak-banyak...
bisa-bisa...

zwani.com myspace graphic comments

Saguer

Pak Elyas. Sosok ramah dan penuh senyum ini selalu mampu memecahkan suasana kaku. Dia pun selalu siap memberikan penjelasan dari pertanyaan yang dilontarkan. Sebagai Kepala Dusun di sebuah kampung bernama Bakul, Desa Labian, Pak Elyas menjalani hidupnya seperti kebanyakan warga di kampungnya.
-----------
Pagi itu, dengan menggunakan celana pendek dan baju kaos singlet, Pak Elyas mengajak untuk pergi ke kebunnya. Menggunakan topi anyaman khas Dayak dan terselip parang pendek di pinggul, dengan sigap pak Elyas menapaki jalan tanah di Kampung Bakul tanpa menggunakan alas kaki.
"Saya mau melihat saguer. Mau ikut," tanya pak Elyas. Tiga orang wartawan dari berbeda media langsung mengikuti di belakang pak Elyas. Ditengah perjalanan, pak Elyas mengajak seorang warga di desanya untuk melihat saguer. "Kalau mau lihat langsung dari atas, naik di tempat dia saja," katanya. Hanya sekira 15 menit menyusuri tepi sungai Labian, pak Elyas menunjuk sebuah pohon milik rekannya. Pohon yang ditunjuk pak Elyas adalah pohon enau. Ya, seperti kebanyakan di daerah lain, air dari pohon enau dapat dimanfaatkan untuk bahan konsumsi masyarakat. Saguer sendiri merupakan sebutan warga setempat untuk air pohon enau yang diambil sebagai minuman. Ada yang menyebutnya brem ataupun tuak tergantung kadar dari setiap saguer yang dihasilkan. Mengandalkan hanya sebatang bambu panjang, untuk dapat sampai ke tempat mengambil saguer. Pak Elyas pun menekankan tidak perlu khawatir saat berada di atas pohon enau. "Biasanya kami duduk ramai di atas sini sambil minum saguer," katanya meyakinkan bahwa tempat yang disediakan di atas pohon tidak akan rubuh. Air enau yang baru keluar dari batang bunga enau yang dipotong, sungguh manis rasanya. Warnanya pun bening. Menurut pak Elyas, kerap warga setempat memberikan potongan kulit kayu resak di dalam tempat penampungan air enau yang keluar. Kulit kayu resak yang sudah dikeringkan terlebih dahulu itu dibiarkan direndam di air enau yang kemudian akan berubah warna menjadi lebih keruh. Biasanya, jika pagi hari dipasangi tempat untuk menadah air enau, maka sore harinya, sudah dapat diambil. Cara mengiris batang bunga sebesar pergelangan tangan orang dewasa itu pun, dilakukan dengan perlahan. Tipis dan tidak perlu terburu-buru dan ada bagian irisan yang dibiarkan untuk menutupi bekas irisan. "Ada juga yang dibuat menjadi gula enau," jelasnya. Hanya saja, kebanyakan air enau diambil untuk kelengkapan hidangan. Rasa manis dan sedikit keras karena sudah direndam dengan kulit kayu resak, setidaknya harus membuat yang tidak biasa untuk berhati-hati meminumnya. Belum pasti benar, berapa sebenarnya kadar alkohol yang dikandung dalam minuman tradisional tersebut. Dijelaskan dia, memang ada yang tidak direndam dengan kulit kayu resak. Rasanya juga berbeda dengan jumlah rendaman kulit kayu resak. Rasa manis saguer, kata dia, hanya akan bertahan selama satu hari. Lewat satu hari, timbullah rasa asam dari air enau tersebut. Selain untuk menjamu tamu sehari-hari di rumah masing-masing, saguer juga digunakan untuk kepentingan ritual. Pada ritual di dalam Pamole Beo (Gawai Dayak Tamambaloh di Kampung Bakul), saguer dihidangkan dalam beberapa tatacara. Ada yang disebut Takaran. Salah satu prosesi takaran itu adalah meminum air saguer yang diberikan dalam sebuah mangkuk yang dilanjutkan juga dengan kelengkapan tatacara lainnya. Saguer digunakan sehari-hari, hingga untuk keperluan tatacara atau ritual adat. Tanpanya, hhmm...rasanya ada yang hilang.

Firasat

Alunan "Firasat" kembali terdengar
Begitu fasih "Marcel" membawakan lirik itu
Begitu mendayu membawa pikiranku jauh melayang
Berpikir seandainya lagu itu kunyanyikan di depan belahan hati yang kini tlah pergi
Meski cintanya dan ku masih satu

"4;07" durasinya tak terasa, singkat dan habis sekali dengar
Sesingkat cerita kasih yang ku jalani
Sepilu kenyataan yang harus dia hadapi
Begitukah jalan hidup?
Medio "Winamp" yang kumainkan
Dilengkapi "Imax Multimedia subwoofer system"
Berkekuatan "fullwoof BASS RD-s8200"
Masih tak mampu menghapus sedih
Sedih akan gambaran peristiwa yang ada di depan mataku
Yah…Peristiwa yang kurekonstruksi berdasarkan "BAP" layaknya petugas
Kejadian demi kejadian
Menjadi satu, utuh seperti aku yang melihat langsung
Gema "bassboost" dengan "volume control" tertinggi
Semakin membantu degup jantung
Sebenarnya dapat membantu cepat aliran darah ke jantung
Jika yang terdengar adalah "Shaggy" dengan suara khasnya
Dengan "Dance & Short" miliknya yang menyentak
Bisa membuatku bergairah, bergoyang ikuti hentakan, bahkan berkeringat mengikuti gerak
Dari tarian yang kulihat melalui "Power DVD" yang tertancap di "Intel(R)"
Meski Cuma "Celeron(R) CPU.1.70GHz dengan 248 MB of RAM"
Lebih dari cukup bagiku untuk sekedar mencari kepuasan batin
Tetapi itu dulu
Dulu ketika dia masih disisi
Walau saldo "Payroll Permata ATM" ku menunjukkan angka sisa yang tidak dapat dikuras lagi
Walau "streetgear Bodypack" yang kucabut dari saku belakang "Cardinal" biru tua hanya berisi belasan ribuan saja
Ajaibnya aku masih merasakan indahnya hidup
Kau tentu pernah merasa seperti itu
Merasakan cinta dan begitu terbayang jelas bentuk mahligai hidup yang akan dijalani
Bahagianya saat itu…..
Kini….
Semuanya semu
Cinta yang saling terpaut tak bakal bertemu
Entah mengapa tercipta sebuah firman
"Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tak boleh dipisahkan oleh manusia"
Firman yang kerap digunakan untuk menguatkan sebuah tali nikah
Maaf…
Maaf jika sempat terbersit menyesali firman itu ada
Karena firman itu dibuat dan ditebus dengan darah
Yang diikuti dan dipatuhi kaum Nasrani hingga kini
Kubiarkan "Firasat" itu berlalu begitu saja
Kubiarkan telinga ini mendengar sederet lantun lainnya
Sialnya….
Semua lagu yang ku simpan dalam "folder" khusus itu
Merupakan lagu-lagu yang ku copy melalui "Nero Startmart" dari "LiteOn Combo Drive CD-RW & DVD-ROM" yang kupersembahkan untuknya
Sebagai pengingat dikala sepi
Sebagai penghibur hati
Sebagai pengingat diriku
Sebagai pengganti suaraku
Kini…. "New Folder" yang ku "rename" menjadi "00.roman" itu hanya menjadi folder yang kerap ku tinggal
Jarang untuk kembali ku dengar, meski didalamnya ada 36 lantun dari berbagai pelantun
Karena folder itu hanya membuat hati tergerus
Ada sedikit keinginan
Dari lirik "Firasat" itu untuk menjadi kenyataan
"Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi, Firasatku ingin kau cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi"

Friday, March 30, 2007

zwani.com myspace graphic comments
sempat lupa account sendiri...eheuheuehueh...kuoplok....