Monday, October 31, 2016

Layar

Aku ingin menggantinya menjadi layar roman
Agar angin yang meniupnya terasa indah
Membawa perahu tak berkitir melaju tenang

Aku ingin menukarnya dengan layar roman
Agar tempias hembusan yang menyapa muka seperti kepunyaan mereka
Menggambarkan bahtera yang nyaman meski gelombang badai menari

Aku ingin punya layar roman
Layar yang tak kaku dan rusak ketika angin datang
Layar yang tak berat disinggahi air
Layar yang tak ringkih rapuh digenggam matahari

Aku ingin layar roman karena rasanya ia penuh warna
Biar lunas kapal tak buat kebas jiwa
Menawarkan hati suka ke pemilik kail dan jala

°°°°°°°°

Bas Andreas

Sunday, October 23, 2016

Hati Bijak


Kuikuti kau
Jadi kau
Kau ikutiku
Jadiku
Di sudut itu memang bukan tanah air adil
Tanah tetaplah tanah
Air pun begitu
Bukan seperti sudut sana yang ibu tanahnya adil itu memang semerata air

Di satu sisi pada sudut itu
Kuikuti kau untuk kata adil dari hati bijakmu yang dihiasi rinai bulir irisan hati

°°°°°°°°°°°°°°°

bas andreas

Saturday, October 15, 2016

Doa Malam Minggu

Dulu kewajiban itu ditunggu-tunggu
Wajib pada kau mentari
Wajib padanya rembulan
Wajib untukmu sang bintang
Wajib di satu kisah itu

Kini, aku malah bertanya mengapa kesannya jadi wajib
Untuk sepenggalan kata
Aku tak mau wajib karna keinginanku rela hati
Aku tak mau beban, karna kusuka ringan saja

Untungnya penyebut hari hingga tujuh
Untungnya bukan doa berpembilang 12 yang kubuat
Syukurnya berpembilang 365 tidak ku jadikan doa

Terima kasih menyampaikanku di putaran ke tujuh
Esoknya, aku kembali pada permohonan sebelumnya
Maaf seputaran tujuh itu dosa yang menguat dan mungkin pasti berulang.
Dan ketika hari itu tiba lagi
Izinkan kuulang doaku.

°°°°°°°°°°

Mengapa

Kawan layang
Lama ingin kumau jawab tanyamu tapi hanya buatku tunduk tengadah nanar
Jawaban untukku sendiri, supaya aku bisa menunjuk batu pijak untuk jari tanganku menari

Iya ya...
Hanya itu
Iya hanya itu saja jawabku dalam hati

Jariku lebih banyak menarikan abu-abu
Ada pun yang lain, hanya jadi bunga bunga trotoar yang hadir kasar dan kusam
Suram katamu

Batu pijakku tidaklah suram
Tapi mengapa hadir
Pada jari menari
Pada nada yang mengetuk serampangan

Kawan layang
Aku sadar disitu
Kesan itu yang kuat untuk mengalir
Entah karena hulunya kusam hingga akhirnya hilirpun suram

Kawan layang, kuserahkan pundi hati karena hanya itu yang bisa kuberikan atas tanyamu

°°°°°°°°°°°°

Friday, October 14, 2016

Doa Malam Sabtu

Malam ini aku tak menyambutmu pantas
Maaf itu tlah jadi kebiasaan, entah mengapa
Aku
Aku masih menyisakan hujat
Saat aku bersiap menyambutmu
Tapi
Terima kasih terimakasih

Terimakasih karna aku tak tahu dimana ujungnya
Dan masih memberiku waktu untuk menikmatinya

°°°°°°°°°°

Thursday, October 13, 2016

Doa Malam Jumat

Hai penguasa malam dan siang
Hai penguasa saat gelap dan terang
Malam ini aku menghujat karuniamu
Maaf, ampuni aku

Aku menghujat karuniamu
Aku menghujatmu, bukan??
Ampuni aku

Aku tak kuasa mau berkata-kata
Kau tau itu kurasa
Pasti
Aku hanya kuasa berhujat
Berharap kau dengar
Berharap kau yang mengubah
Ingin kau yang memperbaiki

Maaf aku menghujatmu
Tapi
Terima kasih terimakasih
Kau masih memberiku kesempatan untuk dosa seperti itu
Berilah lagi esok hari

°°°°°°°°°

Wednesday, October 12, 2016

Doa Malam Kamis

Maaf hai penguasa malam
Aku bosan
Karna lebih banyak dosa dari jasa hari ini

°°°°°°°°°°

Bas Andreas

Tuesday, October 11, 2016

Doa Malam Rabu

Sekali ini serupa kemarin
Fasik dan bajik membaur
Syukur atas afwah yang turun atas diri

Ini malam masih dibekali sisa sisa kerakusan dan ketidakpeduluan
Sesudut itu belum lagi perkasa di ratusan jumlah detik
Lelah tak ingin, karena masih ingin bersahabat denganmu malaikat pencatat

Aku ingin semula agar titipan yang kuminta tak mendapat terbatas
Izinkan aku mendaya dua tangan kakiku
Untuk kudapat senyum kecil mereka pertanda puas
Tapi
Apapun hari ini
Terima kasih terimakasih

°°°°°

Bas Andreas

Monday, October 10, 2016

Aku

Hei aku, simpan buruk mukamu pada mereka
Karena mereka mungkin tak seburuk mukamu

Hei aku, asah hujatmu jadi mutiara sejuk saja
Mungkin mereka lebih penyejuk daripada doa yang pernah kau dengar

Hoi aku, siapakah kau menjadikan di depanmu seperti sampah dari belakangmu?
Bisa mereka sampah, tapi laikkah kau menutup hidung?

Hoi...aku
Lihat kakimu, lihat jejakmu pada tanah tempat kau hirup hidup
Ada hitam dalam kerumunan putih
Ada merah dalam kesejukkan biru
Coklat pun di sana dalam kedamaian hijau
Kotor pada bersih
Keruh dalam jernih
Dosa selimuti suci

Hai aku
Bukan menyapa untuk memanggil
Hanya mengajak melangkah setapak
Biar merasa
Beda jika berpindah
Supaya tahu
Mengapa harus kau simpan buruk mukamu dan asah hujatmu

°°°°°°°°°

Bas Andreas

Doa Malam Selasa

Air mata bumantara tak ada malam ini
Taring taring pawana pun tak menggigit kuat
Ada banyak pula tak ada tak ada
Tapi yang masih ada
Malaikat pencatat

Terima kasih terimakasih
Aku tahu kau ada disitu
Kau tepati harapanku

Terima kasih terimakasih
Ada dosa dan jasa yang bisa kubuat hari ini
Seperti kemarin, izinkan aku seperti doa hari lalu
Aku tak punya cukup waktu meminta dan memuja
Sekejap lagi, kau pun akan buka lembar catatan baru

Tapi
Terima kasih terimakasih
Ya

Bas Andreas

Sunday, October 09, 2016

Doa Malam Senin

Embun mengambil peran menghapus terik
Menutup catatan malaikat separuh hari
Syukurlah masih ada ragam kisah
Syukurlah ragam rasa masih beradu
Syukurlah warna beda masih bertemu
Syukurlah tubuh masih mendeyut
Agar malaikat mencatat lagi separuh sisa hari

Terima kasih terimakasih
Karena
Minggu harusnya kumengaltar tapi tidak
Minggu biasanya aku menghirup ria tapi tidak
Minggu dulunya, dulu tak seperti kini

Tapi
Terima kasih terimakasih

Izinkan aku membuat malaikat terus  mencatat tingkahku
Bolehkan aku mencipta lagi dosa dan jasa
Biarkan aku merangkai kata ini lagi esok hari

Terima kasih terimakasih
Ya

Thursday, September 08, 2016

Asem

Asem...
Bikin pusing
Taukah? Hebatmu orang menilai
Tak seperti itu kau
Kala dengar kata bijak
Padahal untukmu sendiri tidak
Asem..!
Sakit ini sakit
Kesal ini kesal
Rautmu tak seperti bunga mulutmu
Dimana hati?
Taukah?
Setengah ini kau tolak
Sama artinya tak kau terima semua
Asem...!!
Kau buat aku sepertimu
Malah lebih buruk dari yang kau cipta
Apa yang ada dalam balutan daging dan tulangmu
Darahmu tak sanggup dinginkan ego
Asem..
Kenapa itu tak kelihatan diawal
Asem...
Kenapa bahasa sesal keluar
Asem!!!

___________
Bas Andreas
-----------------------

Wednesday, September 07, 2016

Ribut Mulut Ribut Hati

Lagi, malam yang tidak dingin menghangat
Otak
Beradu mau
Beradu maksud beradu
Sikap beradu sifat
Aku sudah hampir tidak perduli jika rasa yang ditanya
Tidak berguna merangkai kalimat karna bicara rela hati
Apalah diri dari mengira-ngira sebuah titah
Yang berlaku berjalanlah
Ada laku yang dijalankan
Disitu aku menjala diri
Sangkut belum waktunya dilepas
Sangkut belum tahu cara melepas
Sangkut belum kuat untuk lepas
Mengalah adalah bahasa hati dan jiwa
Lainnya karna daripada buang-buang tenaga
Atau bahkan adalah sikap acuh, terserah kau lah
Karena juga adalah bukan ribut mulut ribut hati

HATI

Hari ini
Masih di sini
Membiarkan diri
Pada tarung hati
Mengajak adu gigi
Sejak bangun pagi-pagi
Hingga lelap lagi nanti
Lelah menunggunya pergi

Aku ingin berkata-kata
Tapi niat seperti dihinggapi kusta
Mungkin sejengkal lagi gila
Pada hidup di depan mata

Sunday, July 31, 2016

Dreasli

Ini senyum untukmu
Ini bangga ada pula kubagi untukmu
Tak kira bukan tak harap
Datang menjawab kalimat bisu
Sepasang
Menemani jawaban terdahulu yang juga dari barisan tak bersuara

_____________
Bas
--------------------

Batas

Wahai angin ....
Ketika itu, kini dan mungkin saja nanti

Kau yang menjamah rumput
Kau yang meraba pohon
Kau yang menerpa batu
Kau yang merangkul hangat tubuh-tubuh

Jamahmu lembut
Rabamu pelan
Terpamu lemah
Rangkulmu menjadi detak

Wahai angin ....
Ketika itu, kini dan mungkin saja nanti

Kau menggenggam pengusik aroma
Kau bawa menembus tirai hati
Kau antar pada altar jiwa
Kau biarkan menjejak nafas

Aku tak kuasa menepismu angin
Aku tak mampu melenyapkan binar
Aku ingin lebih banyak waktu dalam sehari

Hanya sekadar seperti ketika itu, kini dan mungkin saja nanti

-

_____________
Bas
--------------------

Saturday, April 23, 2016

Bala Nada Laga Bala Raga



 Tapak datar
 tanda arah wajah
kala raga
sandangkan dahaga asa

Lapang dada
dalam balas
atas langkah tak makna
warna karya

Bapa..
adakah cara
dan bahasa nyata sang alam
Tanpa bala nada,
 kala tangan
angkat maaf

Bala raga tak nyaman
saat karya bahasa 
Bara dada tak ada harga
 agar tahta harapkan raga
Yang ada
hanya bahasa kata
pada gambar angkasa malam


Wednesday, April 20, 2016

Berikan Sisiku

Sekuat apapun kau, terkulai kala ia menghampiri
Tanpa suara meski mungkin sebelumnya ada pertanda yangg diabai
Rapuh sungguh
Oleng dalam gerak
Kau bahkan melontar sumpah serapah
Entah itu untuk hal yang tak perlu sama sekali

Sumpah..!
Tercerabut dari lincah
Riang semu
Ooo..terasa tumpul
Kau
Enyahlah cepat

Sadar, aku yang undang kau
Tapi ada pula yang kupanjatkan tiap usai memanggilmu
Ragu pula hati apa tiap usai selalu begitu
Onggokan itu akhirnya memberi tanda
Kepala menyimpannya tiga
Endotel dikawini... plak

Sumpah..!
Tercerabut dari lincah
Riang semu
Ooo..terasa tumpul
Kau
Enyahlah cepat

Berikan sisiku

21Apr16

_____________
Bas
--------------------

Monday, April 18, 2016

Kepul

Oohh pagi yang matahari
Madah pujian robusta-arabica menyapa panas
Oohh siang yang matahari
Lantun madah pujian berkarib asap
Oohh malam yang bulan
Madah pujian pun kumandang

Oohh
Madah pujian yang lenyap merdu

Disini bukan rindu
Disini tidaklah juga ingin
Disini adanya masih mau
Dari gemulai tarian putih
Dari kepul melentik mata
Dari segala yang ada ketika bermadah

Lama sudah
Kapankah kita?

18Apr16



_____________
Bas
--------------------

Raga

Raga
Aku ingin kau pulih

Raga
Aku ingin basah bersama matahari tanpa kaku

Raga
Hitunglah 10 langkah sejak sekarang

Raga
Ayo kita coba saja kehendak hati dan otak

Raga
Itu satu harap yang bisa kita buat

Raga
Kita susun satu satu

Raga
Topang kuat aku

Raga
Aku mau itu wujud

Raga
Izinkan aku membakarmu

Raga
Dari sana ada raga-raga yang pasti menikmati dayamu

Raga
Marilah, meski akupun tak cukup yakin


18Apr16


_____________
Bas
--------------------

Monday, March 28, 2016

Sajak Buat Mana

Bila Mana suara menampar angin
Cepat jamahlah pepohonan agar bergoyang

Bila Mana dengus nafas menyentak
Maka tataplah hijau pepohonan biar penyejuk

Bila Mana gemeretak gigi menarik urat leher
Tengadahlan pada pepohonan tinggi untu melentur

Bila Mana kepalan tangan mengeras batu
Genggamlah anak-anak pepohonan biar melembut

Bila Mana kesumat tak lekang oleh panjat doa
Maka datangilah
Katakan padanya, "engkau buatku selalu berdosa"
Mintalah ia menanggalkan penutup hidupnya
Agar ia tahu
Tak semua domba percaya gembalanya
Tak semua domba berekor pendek
Bahwa adapula domba berekor seperti kuda

Keladi

Jingga
Jingga bulat
Jingga bulat turun

Sebentar
Sebentar sabarlah
Sebentar sabar tahanlah

Keladiku belum tiba

Jingga
Engkau turun penuh
Keladiku
Belum turun pula

Menghadap Punah

Bara masih menantang embun pada malam penuh koor jangkrik
Enyahkan dingin yang lambat laun pergi tak lagi melirik
Legam tubuh merebah pada papan yang berderik
Ingatannya seperti dilepas melayang tak kuasa ditarik
Angan-angan diterbangkan seakan penyambung hidup
Nilaipun terbayang usai baringkan empunya bara di tanah yang tercabik


Bara hanyalah sisa sebelum mereka benar-benar lenyap
Elegi mereka tak terdengar oleh hati di badan tegap
Lakon mereka sebenarnya bukan pembabat
Iming-iming yang mereka kejar dari para tuan dan pejabat
Ajakan
Nominal

Bersuara

Rakyat resah
Mereka gundah gulana
Lihatlah mereka sengsara hati, jjiwa dan raga

Dari atas panggung ini
Jelas terlihat mereka begitu
Ini suaraku untukmu bertindak

Rakyat amarah
Mereka menggugat
Lihatlah mereka sibuk mengasap dapur

Benarkah
Mereka resah gundah gulana sengsara hati jiwa raga
Betulkah
Ada amarah lalu menggugat sementara yang terlihat mereka tekun menyambung masa depan

Janganlah kau bersuara mewakili mereka
Itu suaramu, tidak mereka
Baik adanya jika dibait dan bermain rima
Setidaknya kau melekat pada pujangga
Bukan pada embel embel
Yang padanya pun kau mengais makan

Des,16 2015

Tuesday, March 01, 2016

Tipis

Lewat sehari setengah bulan
Semakin tipis
Meski ada tapi tak bisa diguna
Bisa saja
Tapi
Ada yang akan ditinggal
Dan menumpuk pada satu di depan

Kisah Satu Itu

Sang Ibu dijatuhi air mata lagi
Entah yang keberapa kalinya

Sang ibu mendapati anak-anaknya berteriak tak lagi nyaring
Tentang manis yang perlahan tak terjangkau
Tentang nyaman yang kian dihilangkan
Tentang sesuatu yang sulit tapi sebenarnya mudah mereka dapati

Demi satu mau diri yang tak diikuti mau lain penerima mau diri itu

Jangan beri kami contoh tentang ketidakseriusan, ketidakmauan
atau setidak-tidaknya jangan paksa kami untuk tak peduli.
Kalian akan sakit jika kami menjadi terbiasa seperti itu.