Monday, March 28, 2016

Sajak Buat Mana

Bila Mana suara menampar angin
Cepat jamahlah pepohonan agar bergoyang

Bila Mana dengus nafas menyentak
Maka tataplah hijau pepohonan biar penyejuk

Bila Mana gemeretak gigi menarik urat leher
Tengadahlan pada pepohonan tinggi untu melentur

Bila Mana kepalan tangan mengeras batu
Genggamlah anak-anak pepohonan biar melembut

Bila Mana kesumat tak lekang oleh panjat doa
Maka datangilah
Katakan padanya, "engkau buatku selalu berdosa"
Mintalah ia menanggalkan penutup hidupnya
Agar ia tahu
Tak semua domba percaya gembalanya
Tak semua domba berekor pendek
Bahwa adapula domba berekor seperti kuda

Keladi

Jingga
Jingga bulat
Jingga bulat turun

Sebentar
Sebentar sabarlah
Sebentar sabar tahanlah

Keladiku belum tiba

Jingga
Engkau turun penuh
Keladiku
Belum turun pula

Menghadap Punah

Bara masih menantang embun pada malam penuh koor jangkrik
Enyahkan dingin yang lambat laun pergi tak lagi melirik
Legam tubuh merebah pada papan yang berderik
Ingatannya seperti dilepas melayang tak kuasa ditarik
Angan-angan diterbangkan seakan penyambung hidup
Nilaipun terbayang usai baringkan empunya bara di tanah yang tercabik


Bara hanyalah sisa sebelum mereka benar-benar lenyap
Elegi mereka tak terdengar oleh hati di badan tegap
Lakon mereka sebenarnya bukan pembabat
Iming-iming yang mereka kejar dari para tuan dan pejabat
Ajakan
Nominal

Bersuara

Rakyat resah
Mereka gundah gulana
Lihatlah mereka sengsara hati, jjiwa dan raga

Dari atas panggung ini
Jelas terlihat mereka begitu
Ini suaraku untukmu bertindak

Rakyat amarah
Mereka menggugat
Lihatlah mereka sibuk mengasap dapur

Benarkah
Mereka resah gundah gulana sengsara hati jiwa raga
Betulkah
Ada amarah lalu menggugat sementara yang terlihat mereka tekun menyambung masa depan

Janganlah kau bersuara mewakili mereka
Itu suaramu, tidak mereka
Baik adanya jika dibait dan bermain rima
Setidaknya kau melekat pada pujangga
Bukan pada embel embel
Yang padanya pun kau mengais makan

Des,16 2015

Tuesday, March 01, 2016

Tipis

Lewat sehari setengah bulan
Semakin tipis
Meski ada tapi tak bisa diguna
Bisa saja
Tapi
Ada yang akan ditinggal
Dan menumpuk pada satu di depan

Kisah Satu Itu

Sang Ibu dijatuhi air mata lagi
Entah yang keberapa kalinya

Sang ibu mendapati anak-anaknya berteriak tak lagi nyaring
Tentang manis yang perlahan tak terjangkau
Tentang nyaman yang kian dihilangkan
Tentang sesuatu yang sulit tapi sebenarnya mudah mereka dapati

Demi satu mau diri yang tak diikuti mau lain penerima mau diri itu

Jangan beri kami contoh tentang ketidakseriusan, ketidakmauan
atau setidak-tidaknya jangan paksa kami untuk tak peduli.
Kalian akan sakit jika kami menjadi terbiasa seperti itu.