Monday, July 27, 2015
Pesan Pendek
Diposting oleh bas andreas di 11:15 AM 0 komentar
Sifat Alammu
Begitu mudah kau mengikat angin daripada saat sengaja kuletak
Mengapa?
Aku ingin kau punya tempat layak
Tapi sifat alammu meneguh pilihan
Mungkin engkau enggan aku mencampurimu
Jika satu saat aku harus mengulur tangan
Relakanlah tubuhmu kukasihi
Biarkanlah tinggi gemulaimu kunikmati
Hingga pada saatnya wangi ranum kembali kurenggut dari tangan-tanganmu
Diposting oleh bas andreas di 11:14 AM 0 komentar
Salju Desember Kincir Angin
Membatu akibat terpaan badai lalu
Salju desember itu tak sama tahunan sebelumnya
Turun, terus menetap menyimpan tapak
Angin tak sapa kincir memutar pelan
Angin adanya menjahit kulit dari empat lapisan wol
Begitu pula bibir-bibir para asal kebanyakan
Kaumku, aku melihat menyambungmu
Mereka memegah kota dari sedikit jasa ibu
Sedikit hanyalah pembilang
Dari lebihnya mengisi perut mereka
Beginilah harusnya kita jika membuang dungu
Sama menderajat, mungkin melebih lagi
Tak harapan gerak dari angin memutar kincir
(Amsterdam, 2010)
Diposting oleh bas andreas di 11:13 AM 0 komentar
Pekik Malam Setia
Senyap itu tidaklah desa
Kelamnya pun tiada rimba
Dengung gemuruh sayup-sayup tetap menyerta
Harusnya kau menempat diri bukan rumpun berhias
Tak ada penjejal perut hingga pagi menjemput
Wuok..!!
Pekikmu entah bermakna apa
Setia bersahabat pada mereka yang terlahir dan terbawa di kota
Rumahmu memang tipis lagi
Tak mampu jadi lumbung yang juga kian gersang
Entah masih pun tiada ketika turunan dari jiwaku dan dirimu mengganti tempat
Sama menyambung hari dari waktu yang mungkin kian bermusuh
Yang kupasti, adamu mungkin hanya akan ada di lembar-lembar warna
Pada tambahan punah dipengenal
Diposting oleh bas andreas di 11:11 AM 0 komentar
Sejuk Putih
Memutih hampar pun sejak di awal melayang
Ternoda hanya dari kerap jejak menapak
Melapis diri menerawang pandang pada luasnya bentang
Entah bagaimana jika selimut menyerupa dinding itu menutup pertiwi
Lihat saja pada anak-anak bumi sejuta pulau
Pembatas dengan dunia luar hanya sekadar menutupi
Banyaknya pun semudah di tatap mata
Belum lagi yang hanya mengatap dari daun-daun angin
Mungkin perlulah sekali waktu itu berlaku
Buat meredam panas darah yang kian kerap muncul
Mengawal beragam alasan dari kepentingan segelintir
(Volendam, desember 2010)
Diposting oleh bas andreas di 11:11 AM 0 komentar
Dreannali
Sekata sentuh
Menggeliat jawabmu
Bertahun tunggu
Gerakmu menarik sungging lebar
Membayang geliat nyata bila depan mata
Kami empumu
Rasa tak kata
Dari sejuta harap
Bertahun tunggu
Diposting oleh bas andreas di 11:10 AM 0 komentar
Senyuman Setengah Jiwa
Lama tanda bakti setengah jiwa bergelut waktu
Kesempurnaan diri kerap dipertanyakan dari tapa tahunan
Setengah jiwaku bertanya-tanya
Rundung duka menyergap sekerap tarikan nafas
Tak putus pekikan hati meminta berkat pada raga
Mata terpejam
Bibir terkatup rapat
Telapak mengatup erat
Dada mengalun pelan
Iba menyergap rasa pada setengah jiwa
Terpuruk rasa diri seperti tak berarti dalam ikatan
Tapi hebatnya, tak putus untuk tengadah
Jawab dari asa dan tanya menyentuh setengah jiwa
Gelora dada tak kuasa tertahan
Keyakinan diri dipertanyakan
Apakah benar?
Sederet pembukti dilepas mencari tahu
Dia ada
Senyumpun ada
Dahaga Setengah jiwaku dipupus
Jawaban itu turun dalam berkat raga
Diposting oleh bas andreas di 11:09 AM 0 komentar
Keyakinan Sang Peramal
Telapak kanannya terjulur menunjuk lempeng kayu dingin
Sejurus jemarinya mulai mengeluarkan gerakan mantra
Dia tengadah, kemudian membawa setengah jiwaku menghadap langit
Kerut di keningnya menaik
Kehampaan ruang diperlihatkannya sembari memainkan alat mantra ketika itu
Sorot matanya tampak seperti kebingungan
Tak lama, setengah jiwaku pun kembali dengan sang peramal masih mengoceh
Kutangkap sang peramal seperti salah tingkah
Mungkin..belum pernah dia gagal dan meramu mantra sebelumnya sehingga yang keluar dari mulutnya pun tak begitu mampu menepis raguku
Sang peramal hanya dapat memberikan pilihan bergantung karena untuk mengajakku kembali mengunjunginya pun dia tak berani
Sang peramal keyakinannya tergerus?
Sang peramal mantranya tak kuat lagi?
Sang peramal menyesali diri?
Sang peramal mencatat gagal?
Sang peramal tak ambil pusing?
Setengah jiwaku kubawa lagi setelah bulan tak lagi datang
Raut sang peramal masih sama seperti saat kutinggal lama
Tersentak sedikit ketika tahu setengah jiwaku tak dijemput bulan
Lalulah, mantra pun mulai dirapal
Kembali setengah jiwaku menghadap langit
Sang peramal berubah mimik muka
Sepertinya dia senang
Mantra yang dilepasnya lama ada juga hasilnya
Namun tetap saja kelihatan ia salah tingkah
Biarlah..
Biarlah sang peramal merasa mantranya mumpuni
Aku tak hirau
Aku berharap mantra lain
Meski harus kutebus pundi berat
Diposting oleh bas andreas di 11:00 AM 0 komentar
Bulan Tak Lagi Menjemput
Bulan tak lagi datang melepas jejak
Aku masih tak percaya
Aku tak ingin terlalu bersuka
Lama kuberteman bersama bulan
Jenuh rasa menerpa hati
Kuingin hanya matahari yang menemani
Tanpa bulan yang enggan melepas setengah jiwaku
Bulan mungkin mendengar resah hati
Bulan mungkin dibisiki para penguasa alam
Bulan memutuskan tak menemani
Bulan
Terima kasih engkau melepas setengah jiwaku saat ini
Sejenak, biarkan aku berteman dengan matahari
Bulan tak lagi datang menjemput setengah jiwaku
Membiarkanku mendapat kesukaan terang untuk waktu yang cukup lama
Ada saatnya kumerindumu bulan
Tapi nanti
Nanti saja
Kau pasti akan kupanggil
Lewat suara hati
Diposting oleh bas andreas di 10:59 AM 0 komentar
Seribu
Menyata angka terombang ambing
Seribu ada di pulau
Menyata letak berpisah-pisah
Seribu ada di kelenteng
Menyata jumlah tak satu-satu
Seribu ada di masjid
Menyata banyak pada satu tempat
Seribu ada di gereja
Menyata kumpulan mendiri altar
Seribu ada di ibu
Menyata semua milik jangan mengkotak-kotak
(Manado 2011)
Diposting oleh bas andreas di 10:53 AM 0 komentar
Seratus Nyawa Anakku
Pertiwi menanti gemulai gerakmu ketika kau menancap kaki kokoh
Anak-anakku
Tak mudah menerjang alam dari tempatmu berasal
Anak-anakku
Barisan yang kubuat akan menopang kekuatan kalian
Seratus nyawa anak-anakku kupertaruhkan di bumi asing
Belum cukup usia untuk kulepas berperang sendiri
Menantang kadar menggelegak nafas
Merentang tubuh di panas merajam kulit
Menjejak kaki pada selimut rapuh
Seratus nyawa berperang berbekal ilmu dangkal
Menyeruak rimbunan keinginan yang lebih dahulu ada
Disitulah lindungannya menyabung nyawa
Seratus nyawa jadi lentera pembuka
Seratus nyawa bakal jadi benteng terdepan
Menemukan jalan bagi seratus nyawa berikutnya
Nyawa dari anak-anakku yang suatu saat kupanggil kembali
Diposting oleh bas andreas di 10:50 AM 0 komentar
Pasrah
Sekarang hidung berdehem
Membuat jantung keroncongan
Yang ada,
Diposting oleh bas andreas di 10:49 AM 0 komentar
Pakis Umbut
Mungkin sekali jalan
Padi pada lumbung mungkin dari ladang
Menyambung perut menutup lapar
Biarlah
Mungkin itu tradisi
Padi pada lereng bukit ladang
Hutan penyedia segala perlu
Tempatnya pula aneka hayati
Katanyalah
Tapi anehnya
Hanya pakis umbut pada piring makan
Dimana daun ubi dan cangkok manis?
Dimana pucuk muda daun perenggi
Tidakkah lagi
Karena sesawi hijau
Diposting oleh bas andreas di 10:47 AM 0 komentar
NIR
Penjejak mungkin membekasi permukaan licin akibat kerap gesekan
Tapi apalah, jika alam menghapusnya hari ke hari
Langkah henti diujung gertak lapuk
Memelintir leher
Jika adalah seorang tauke
Engganlah dia nirlaba
Tapi penjejak itu hanyalah badan
Pemilik rasa mengatasnama yang tak berumus
Hanya adalah pada isi hati menyebut
Nirasa
Nir pada semua yang pernah ada
Diposting oleh bas andreas di 10:46 AM 0 komentar
Negeri Hantu
Yang tiada saja miskin
Tengoklah pakaian yang melekat..masih beruntung ada penutup aurat
Para hantu dari negeri seberang
Mereka berjas dan penampilan mentereng
Para mahluk halus lainnya, terlihat berpenampilan kebangsawanan dan ksatria
Menjadi penunggu dunia lain mereka kaya
Menyirat berada saat tarikan nafas ada
Negeriku
Pakaikanlah para hantumu gaun terbaik
Bangsaku
Kenakanlah para gentayanganmu jas rapi
Tanah ini harta menumpuk
Meski tak pembilang kaya
Teteskan saja ludahmu
Jadilah dia pohon
Sadar ketika mata pada hamparan tak bernyawa, jangan sesal
Koar yang ada sekarang bukannya menyeru anti
Adanya menghembus bejana imbang
Menjunjung harap tak ada melihat punah
Setidaknya
Biarkan para hantu tetap tersenyum
Memiliki rumah yang damai
Meski tak berpakaian layak
Mengobati luka hati semasa nafas mengalir badan
Diposting oleh bas andreas di 10:45 AM 0 komentar
Kutitip Anakku Pak Tua
Pak Tua, kupercayakan anakku padamu dengan penanda kalung tali bermata alumunium
Ada namaku di situ agar kutahu anakku kelak ketika ia dewasa
Pak Tuan jangan beritahu dia siapa orang tuanya
Meski dia bertanya nama siapa yang ada di kalungnya
Biarlah suatu saat kala aku menjenguk engkau, kusapa dia dengan suaraku
Biarlah suatu ketika kudatangi engkau, kupeluk dia dan kupanggil dia anak
Atau Pak Tua
Biarlah aku tertegun takjub melihat ia berdiri tegap menjaga engkau yang dianggap ayahnya
Aku takkan iri pak tua
Jagalah anakku pak tua
Kuserahkan nasibnya padamu
Karena aku pun tak yakin benar apakah kumencintanya sepenuh hati
Jangan pula merasa bersalah pak tua
Ketika suatu saat tak kutemukan anakku di kakimu
Tak perlu meminta maaf pak tua
Jika kutemui dia sudah lama tak menghirup udara segar, menyusul sejawatnya yang telah lebih dulu melepas nyawa
Jika dia memang harus lebih awal mendahului aku menghadap sang khalik, izinkan aku mengusap kakimu pak tua
Sebagai maafku atas anakku dan dirimu
Karena sesungguhnyan akupun tak yakin menyayanginya
Jikapun kau bersedia, kuharap kalung pemberianku pada anakku tetap ada
Akan kupakaikan pada anak-anak lain agar aku tekenang padanya
Diposting oleh bas andreas di 10:43 AM 0 komentar
Engkau Sendiri Anakku
Diposting oleh bas andreas di 10:41 AM 0 komentar
Saturday, July 25, 2015
Laskar Penunggang Kuda
Diposting oleh bas andreas di 11:26 AM 0 komentar
Membunyi
Menghindar denting membising dengar
Garpu dapat mengalah patah enggan tusuk
Pada daging empuk bundar jati
Memiring batu si penanak bejana berkerak jelaga
Pada pijak sekarang, suara terbungkam pikir
Riuh rendah sekadar stereo hinggap lenyap
Segelintir mendengar bagai lagu merdu sebagiannya asal tak senyap saja
Tidak bisa menyalah, karena punya dendang beda merasa
Aku sendiri pun kerap mengasal bunyi mengabai nikmat sendiri
Kadang pula enggan bergoyang saat lirik sama disuarakan seberang muka
Benarkah di sini pentasku?
Mendenting bising sendok pengaduk harus bunyi pada kanan
Kirinya garpu mesti tak mengalah
Entah bagaimana melontar batu dari bejana
Aku mau membunyi merdu dari panggung pijakan kini
Diposting oleh bas andreas di 11:23 AM 0 komentar
Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 5)
Tak sampai tengah malam, terkatup sepalingan kepala
Tak sempat nahkoda penunggang kuda menikmati mesranya tatap putri malam
Deretan pembilang hitung
Mencipta banjir hidung
Tiada peka pada malam kidung
Antar nahkoda di pintu bingung
Ooo...malam pantai tak debur ombak
Nahkoda habis akal melontar tombak
Bukan karena dibekal legiun untuk merompak
Tapi belum terasah pada perang tak berotak
Nahkoda mau maju perang
Tak lagi sambil menunggang kuda
Tapi ragu apakah laut medannya
Atau mungkin juga takut pada yang tak patut
(Manado, 2011)
Diposting oleh bas andreas di 11:23 AM 0 komentar
Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 4)
Menelapak dinginnya buritan kapal
Kepalanya tertunduk lesu menatap perang
Sadar sepertiku meraih kemenangan yang tak pasti
Wahai kudaku
Aku penunggangmu
Bukan salahmu turun di medan laga yang tak buatmu berlari kencang
Telah lama pasukan perang laut kita tak bergairah mengangkat pedang
Mungkin mereka juga ada di ambang batas gelapnya pertempuran
Perang membuat pundi mereka terisi
Karena tak ada lahan pertanian yang bisa mereka garap
Entahlah wahai kudaku
Bisa saja ada perang lain yang dapat mereka lakukan jelas
Sementara ini
Mereka harus bertahan dahulu
Bertahan dari perang menjenuhkan
Bertahan dari nasib hidup di tengah perang
Membawa pundi yang tak seberapa
Pundi penyambung hidup hingga batas usia seorang prajurit
Diposting oleh bas andreas di 11:22 AM 0 komentar
Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 3)
Tak cukup gurat hangat tertempa di muka menghapus timbangan rasa menggelegak yang muncul tiba-tiba setelah malam merangkak.
Hangat genggam jari sejiwa sebelah hanya menenangkan sesaat sebelum mengeram derit liuk besi.
Kau harusnya sadar
Diposting oleh bas andreas di 11:20 AM 0 komentar
Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 2)
Galau dihalau menjauh
Kata diguna memapar
Menyibak resah pasukan perang laut
Pampasan perang darat harus dirasa di laut jua
Berdua mencoba merajut rasa
Sejenak, cukuplah mereda resah pasukan laut.
Tapi itu belumlah cukup.
Kalah, tenggelamlah raga
Menang, masih belumpun para dewa berbijak
Entah pertempuran apa yang dilaga
Menggantung asa dari nahkoda yang masih menunggang kuda diburitan?
Seberapa kuatlah aku?
Perang laut yang kuingin lepaskan memainkan pedang usang
Perang laut yang kupimpin dari atas kuda menebas ombak berbalik
Perang laut..bukan tidak menjanjikan
Diposting oleh bas andreas di 11:15 AM 0 komentar
Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 1)
Diposting oleh bas andreas di 11:12 AM 0 komentar
Mendoa
Mewakil untai puji, minta dan yang tak terkata
Lima kali Salam ucap dilanjut
Berharap jadi peneguh bahwa itu sungguh
Kemuliaan pada akhir ditutup
Segala hormat menutup panjat
Menitip yakin pada percaya tak ditinggal
Meski pernah dikurang hingga sengaja untai ajaran tak dirangkai
Sesaat sesal meluka hati
Sekejap muncul dari luka hati yakin
Pada kerap dengar sejak kanak
Gembala pada domba menyayang
Takkan biar terlepas pandang
Di satu manusia tak lepas sifat
Mengingat cukuplah mewakil Bapa Salam Kemuliaan
Diposting oleh bas andreas di 11:10 AM 0 komentar
Rinduku
Aku hanya ingin
Meski yang terdengar hanya gumam diri sendiri
Toh,
Aku merindu bukan altar
Atau megahnya pintu dan bangunan tempat para pendoa
Aku merindu bukan pada kewajiban
Aku merindu
Diposting oleh bas andreas di 11:10 AM 0 komentar
Sang Penafkah dari Pelanggan Lahat
Diposting oleh bas andreas di 11:07 AM 0 komentar
Semeja Ngopi Kota
Tak usik masing-masing duduk semeja
Sapa tak dilontar hingga beranjak pergi
Semeja ngopi kota memasang ego
Mau berbagi petak kayu tapi miskin kata
Entah jika semeja ngopi kampung
Gelas-gelas mungil semeja ngopi kota
Dimanakah keramahan pagi dari deru debu
Aku padaku, dia padanya
Kenal, baru menyapa
Asing, masing-masing membising
Aku rindu kicau bukan rekaman
Aku rindu sejuk bukan dari mesin
Aku rindu sapa tulus bukan menyelidik
Aku rindu ramah bukan mengasal bunyi
Diposting oleh bas andreas di 11:06 AM 0 komentar
Tuan Mulus
Diposting oleh bas andreas di 11:03 AM 0 komentar
Trotoar
Diposting oleh bas andreas di 11:02 AM 0 komentar
Tarian Ular Pagi Hari
Mereka masih menelan susah payah hasil pagutan bersama
Lenggok sepasang ular mulai terlihat bergesekkan dari seberang batuan yang kuerami
Entah untuk menurunkan mangsa ke perut terdalam, atau sebab dari gesekan kecil sisik sepasang ular
Tariannya mulai terbentuk lebih berani
Tak hirau sejumlah binatang hutan juga melepas pagi dengan memangsa isi hutan
Seketika aku terperangah dari batuan yang kuerami
Tarian sang ular bergesek perlahan namun penuh hasrat
Tak pernah kulihat sepasang ular begitu beraninya menari di depan tatapan mahluk hutan lainnya
Biasanya, mereka bersembunyi di lindungan batu, semak perdu tebal atau tempat aman lainnya
Dogma-dogma ular berani mereka libas untuk sebuah tarian
Dogma-dogma ular tak berarti bagi sepasang ular itu
Dogma-dogma ular yang jadi kebiasaan-kebiasaan itu pun luntur
Kebiasaan-kebiasaan sumber budayanya para ular itupun tak lagi diguna
Sepasang ular membuat tapa ku terusik
Untunglah tarian itu berhenti cepat sebelum darahku mendidih
Mereka pergi
Mereka lenyap dalam lubang kayu yang menggelinding perlahan
Mungkin mereka mencari tempat
Tempat melepas hasrat yang bebas dogma
Tempat dimana mereka bisa menempa budaya sendiri
Diposting oleh bas andreas di 11:01 AM 0 komentar
Lima Ratus Dolar Sing
Besarnya tidak sebanding bekal
Lima ratus gemerincing kosong karena lipatan
Derajatnya meninggi dari nama dolar sing
Gemuk tambun ibu melebih kurus dirinya
Solek buat dirinya dipilih dari ibu
Isi kepala ibu kalah cerdas kecuali mungkin licik
Nyatanya memang tubuh kurusnya merona pikat pandang
Aku hanya bisa melontar kata
"Di sini aku diundang, tak masuk kau berurusan petinggi mu"
Haah..bukanlah ancaman di negeriku bila itu
Lima ratus dolar sing tak seberapa dari percaya
Ibu
Mereka tak segemuk dirimu
Ibu
Ratapmu tak terdengar mendapat kasih
Anakmu berdiri pada nyata tak sebanding engkau dengan kurus dirinya
Diposting oleh bas andreas di 10:58 AM 0 komentar
Kurang Ajar Indah Nian
Kurang ajar...mata mengantuk
Kurang ajar...nafasku sengal
Kurang ajar...terima kasih
Kurang ajar..indah nian
Diposting oleh bas andreas di 10:55 AM 0 komentar
Kawanku
Rapi itu tak indah bagimu
Mengapa kawanku?
Hijau itu tak segar buatmu
Bagaimana kawanku ?
Sejuk itu panas gerah padamu
Merimba supaya anak cucumu tak dahaga?
Tapi engkau pun mau mereka sarjana
Langkahmu di simpang galau
Maju engkau tak temukan kampungmu asal
Tetap semula, engkau melihat orang mengibar kaya tiang bendera
Diposting oleh bas andreas di 10:53 AM 0 komentar
Kalbu Tenang Bersunyi
Mengelupas
Terpangkas
Riak
Terbelah
Keruh
Bukan karikatur atau sketsa bocah pemegang pensil
Bukan pula terpaan lumpur roda gila penjejak bumi
Lihatlah
Legam memudar membawa terang semu pencerah masa
Dari lagu tak bernada si penyendiri
Sisi ini belum lagi usai
Tapi remuk dari keserakahan meluas menggelontorkan pekik yang tak terdengar
Mereka Tak punya air mata penunjuk bukti terluka
Mereka tak punya mata penanda resah akan terbujur kaku
Mereka tak punya kaki menghindar gemuruh tak peduli
Mereka hanya pasrah meski pernah berikan kedamaian pada leluhurnya
Diposting oleh bas andreas di 10:51 AM 0 komentar
Genggam Penghuni Langit
Bayang-bayang tak tergambar kala merapat pandang
Alur tersusun layaknya hari berpindah pindah
Dijalani pada bekal hati menyimpan pesona memberkahi diri
Sekali itu adalah sekali adanya, tak kira singgah, mustahil berulang
Tapi ketika genggam penghuni langit menjemari, adanya mematri hati tersengal-sengal
Kata terlontar pada kalimat-kalimat tak makna
Demikianpun, mencipta tarikan bibir seperti tulus tunduk tengadah
Tak sadar bungsu jari menyapa, memanggil kerabatnya untuk bersekutu
Sekali dua mengira jarak penyebab sapa tak dihirau
Ayunan berikutnya mencoba ditaut sejenak
Tak dinyana, persekutuan jari dapatkan jawaban mengait
Rasa hati coba meyakin diri pada sekali ayunan kembali
Mengait sengaja, menyentak dada, menghentikan laju ayunan
Persekutuan jari sigap menyerta
Mulanya satu saling menekuk, kemudian kerabat lainnya menyerbu sisi
Ianya menerbit tarikan tulus berpura di wajah
Tapi genggam memberi isyarat
Sudi menyerta membentuk sekutu pula
Rasa tak bergambar
Yang ada kesukaan menebas batas kagum
Memompa alir darah bukan pada tempatnya
Apalagi sekutu jari
Lama berlaku
Membentuk alur baru dari satu cerita
Berakhir kala pandang membuka
Menyisa dada memompa nafas
Diposting oleh bas andreas di 10:48 AM 0 komentar
Galau Tuan Pagi
Menemani tari tembakau di jari
Sekali matahari terbit itu, sama sebelumnya
Membengkok tulang hingga terik
Kopi tuan pagi mengepul aroma
Menggambar tak bertuju dari lamun mata
Sejak lama telah berlaku
Masih saja sama tak habis putar di kepala
Diposting oleh bas andreas di 10:47 AM 0 komentar
Dia (Di si)ni
Diposting oleh bas andreas di 10:45 AM 0 komentar
Dunia Bawah
Di tempatmu mata mewakil hati
Aku tidak pada gaya nafasmu
Pun bersahabat dari rasa takjub
Menyisih rentang membatas suka
Adamu takdir di bawah
Adaku takdir di atas
Mengharap tak rusak sejalanan jaman
Diposting oleh bas andreas di 10:40 AM 0 komentar
Delapan
Diposting oleh bas andreas di 10:26 AM 0 komentar


