Pak Elyas. Sosok ramah dan penuh senyum ini selalu mampu memecahkan suasana kaku. Dia pun selalu siap memberikan penjelasan dari pertanyaan yang dilontarkan. Sebagai Kepala Dusun di sebuah kampung bernama Bakul, Desa Labian, Pak Elyas menjalani hidupnya seperti kebanyakan warga di kampungnya.
-----------
Pagi itu, dengan menggunakan celana pendek dan baju kaos singlet, Pak Elyas mengajak
untuk pergi ke kebunnya. Menggunakan topi anyaman khas Dayak dan terselip parang pendek di pinggul, dengan sigap pak Elyas menapaki jalan tanah di Kampung Bakul tanpa menggunakan alas kaki. "Saya mau melihat saguer. Mau ikut," tanya pak Elyas. Tiga orang wartawan dari berbeda media langsung mengikuti di belakang pak Elyas. Ditengah perjalanan, pak Elyas mengajak seorang warga di desanya untuk melihat saguer. "Kalau mau lihat langsung dari atas, naik di tempat dia saja," katanya. Hanya sekira 15 menit menyusuri tepi sungai Labian, pak Elyas menunjuk sebuah pohon milik rekannya. Pohon yang ditunjuk pak Elyas adalah pohon enau. Ya, seperti kebanyakan di daerah lain, air dari pohon enau dapat dimanfaatkan untuk bahan konsumsi masyarakat. Saguer sendiri merupakan sebutan warga setempat untuk air pohon enau yang diambil sebagai minuman. Ada yang menyebutnya brem ataupun tuak tergantung kadar dari setiap saguer yang dihasilkan. Mengandalkan hanya sebatang bambu panjang, untuk dapat sampai ke tempat mengambil saguer. Pak Elyas pun menekankan tidak perlu khawatir saat berada di atas pohon enau. "Biasanya kami duduk ramai di atas sini sambil minum saguer," katanya meyakinkan bahwa tempat yang disediakan di atas pohon tidak akan rubuh. Air enau yang baru keluar dari batang bunga enau yang dipotong, sungguh manis rasanya. Warnanya pun bening. Menurut pak Elyas, kerap warga setempat memberikan potongan kulit kayu resak di dalam tempat penampungan air enau yang keluar. Kulit kayu resak yang sudah dikeringkan terlebih dahulu itu dibiarkan direndam di air enau yang kemudian akan berubah warna menjadi lebih keruh. Biasanya, jika pagi hari dipasangi tempat untuk menadah air enau, maka sore harinya, sudah dapat diambil. Cara mengiris batang bunga sebesar pergelangan tangan orang dewasa itu pun, dilakukan dengan perlahan. Tipis dan tidak perlu terburu-buru dan ada bagian irisan yang dibiarkan untuk menutupi bekas irisan. "Ada juga yang dibuat menjadi gula enau," jelasnya. Hanya saja, kebanyakan air enau diambil untuk kelengkapan hidangan. Rasa manis dan sedikit keras karena sudah direndam dengan kulit kayu resak, setidaknya harus membuat yang tidak biasa untuk berhati-hati meminumnya. Belum pasti benar, berapa sebenarnya kadar alkohol yang dikandung dalam minuman tradisional tersebut. Dijelaskan dia, memang ada yang tidak direndam dengan kulit kayu resak. Rasanya juga berbeda dengan jumlah rendaman kulit kayu resak. Rasa manis saguer, kata dia, hanya akan bertahan selama satu hari. Lewat satu hari, timbullah rasa asam dari air enau tersebut. Selain untuk menjamu tamu sehari-hari di rumah masing-masing, saguer juga digunakan untuk kepentingan ritual. Pada ritual di dalam Pamole Beo (Gawai Dayak Tamambaloh di Kampung Bakul), saguer dihidangkan dalam beberapa tatacara. Ada yang disebut Takaran. Salah satu prosesi takaran itu adalah meminum air saguer yang diberikan dalam sebuah mangkuk yang dilanjutkan juga dengan kelengkapan tatacara lainnya. Saguer digunakan sehari-hari, hingga untuk keperluan tatacara atau ritual adat. Tanpanya, hhmm...rasanya ada yang hilang.