Monday, October 23, 2017

Sekisah di Lubuk

** Jiwa Jiwa Damai

Mereka tenang menatap riak dari atas beranda kayu
Dari situ pula merenda cahaya hari hari di atas papan bergeretak
Sekisah lagi di lubuk dengan tongkat berderit dirunut
Menata barisan duta-duta kerajaan air
Menempanya, memberi wajah baru

Sekisah dari mereka yang menenun awan
Mengandalkan kemurahan hati dari kehendak rakus
Ketika tiba saatnya
Lagi
Salam perpisahan bisu diucap
Salam perjumpaan juga dilontar
Semusim mereka akrab
Satu musim lain melambaikan tangan

Lubuk sutradra mereka
Memainkan kisah bersamanya
Membuatnya sejengkal dirasa depa
Saling mempaut nurani  
Tak lepaskan sulam batin
Tak kendor rajut kasih
Memisah paksa mereka, jadi satu kejahatan perang

(basokt2017)

Demi Takdir Nafas


**Jiwa Jiwa Damai

Gelegak bergaul riak berbunyi tercabik
Nafas nafas beralun berat menghentak
Menyambungnya dari rangkai musim yang disepakati

Gelegak bergumul riak berulang hinggap memercik
Menyirami jantung kencang mendetak
Merangkainya membentuk benteng yang terberkati

Dari tempatku mengira bentuk kala meracik
Penimbul gelegak gesit menjari yang berontak
Menarik senyum pulang menjinjing yang dirahmati

Ah…mereka menjawab tatap dan harap
Ah…semata bukan penyambung nafas
Ah…ada tekad lestari karma itulah harap takdirnya

Teduh Petuah


**Jiwa Jiwa Damai


Jiwa jiwa melangkah ringan
Jiwa jiwa menjemput hangat
Jiwa jiwa tersenyum di kedamaian

Damai jiwa seberang sungai melintasi arus tenang
Mengajak larut
Membawa bersuka syukur
Mengangkat puja
Menjunjung tabik tinggi

Damai jiwa seberang sungai dalam kesukaan
Setia hadir dari memelihara pesan petuah
Menjadikannya warisan mulia leluhur
Menjadikannya penerang bagi kemurungan
Menghadirkan ketenangan
Menjadikan nafas irama perjalanan hidup

(basokt2017)

Saturday, October 21, 2017

Jiwa Jiwa Damai


Jiwa jiwa damai kusebut
Jiwa jiwa damai kunamai
Jiwa jiwa damai tak kalut
Jiwa jiwa damai tak dinodai

Jiwa jiwa damai aku damai
Jiwa jiwa damai aku tenang
Jiwa jiwa damai hatiku ramai
Jiwa jiwa damai jiwaku senang

Jiwa damai memayungi matahari memanggil sahabat hari dalam keteduhan
Jiwa damai menyelimuti bulan menawarkan tulus diatas keramahan

Membekas
Terpatri
Dikenang
Terceritakan
Ingin rasanya kembali


(basokt17)

Wednesday, October 18, 2017

Manusia 2000

73 tahunan dari 1900
Jangan bilang dari Bakulpura
Apalagi dari Permia dimana Pangaea dan Panthalassa masih satu-satunya
Awal tak numpang menafas
Awal mulanya kumpul dosa
Dari situ mereka mulai

Aku hanya mereka
Mereka hanya dari lembar tak terpakai hasil alih kekuasaan
Mereka seperti apakah
Mereka yang nantinya sepertiku
Maaf Penguasa Alam
Tak maksud mendului
Karna aku mereka
Mereka yang menghayal

Aku menurunkan pada abad 2000 yang akan meneruskan untuk babak lanjutan
Tuhan berkatilah

Usai Yang Tersisa

Usai dengan raungan melumurinya
Usai jemari sempat nakal menjentiknya
Usai menghentak jenjang tubuhnya
Usai dengan lelah dialunannya
Usai berjam-jam bersamanya
Usai angkasa berganti tempat dengannya

Yang tersisa dengung
Yang tersisa penat
Yang tersisa kebas
Yang tersisa bingung
Yang tersisa ayunan berat
Yang tersisa perasaan bebas

Malam menjadi temannya
Malam merupa kerubung di mukaku
Malam saksi kami tanya hati yang tercecer

Entah bagaimana dahulu kau bergumul
Entah bagaimana dahulu kau menyatu dengan tangis usia tahunan
Entah bagaimana dahulu kau jadi tempat pembaringan mereka

Kau permudah mereka
Kau jadi alat mereka
Kau seperti sekutu bagi mereka
Kau pun terancam
Kau bisa jadi hilang

Aku hanya mampu menebar mata
Aku hanya bisa bertanya
Aku hanya mampu menyambung hati karna kuasaku ujung kuku semata

Hulu satu ini jumpa
Hulu satu sisi ini asal
Hulu satu pada sisi ini nafas

Kawan Satu Hulu Sungai

Aku ditunggui
Sisa keanggunan tak bisa sembunyi
Menyimpan belahan-belahan kisah dari parutan hati yang diselubungi

Aku diselimuti dengan pandang matanya
Menyapa dengan menyatu bibirnya
Melarutkan khayalan tentang penguasa yang pernah ditemaninya

Sapanya masih tenang
Sorotnya tetap dingin

Aku masih ditunggui
Sampai kutarik peluknya membayar penat
Sampai ku tak tahu lakon yang berlaku

Begitu rupanya kau di sini
Begitu rasanya manjamu di sini
Begitu lakumu di sini

Kau enggan berontak
Kau pasrah dicabik
Kau bisu dengan caramu
Kau buat aku menekuk terkatup bingung berkata

Kujumpai dia pada hulu sungai
Kujumpai dia tanpa riuh cerita
Kujumpai dia di sisa para perkasa rimba

Sapanya masih tenang
Sorotnya tetap dingin
Sampai kutemui hangat matahari di pinggir danau

Tuesday, October 10, 2017

Hari Ini E-Dre


Anakku…
Kuajarkan kau baca puisi biarpun baru kenal abjad
Agar anakku….
Kamu bisa dan….
Kamu mengerti serta….
Kamu piawai….
Memberi nyawa pada kata-kata saat berkalimat
Mengisi makna pada kata-kata saat berkalimat
Mungkin berguna bagi kau nanti
Terlihat bersungguh-sungguh berkata
Terkesan yakin saat berkata
Tampak benar walau sedang dusta berkata

(Okt17)