Friday, October 15, 2010

Beritahu Aku


Buta malam, kawat berduri
Satu-dua kaki tersendat menyanjung
Sederet pemisah detakkan nadi
Semburatnya pun tak kembali tampak
Dimana ?

Malamnya angin pulang ke bilik rumah
Mengais-ngais diatas piring yang telah retak tujuh
Tidak delapan karena dia berkehendak ganjil
Dimana pun
Akan sama seperti yang ada, dalam perisai semu

Menjadikan luka dari duka yang terluka
Menjadikan bahagia dari ria yang bahagia
Disitulah tempatnya
Disitulah nafasnya
Sama seperti dulu, ketika awal bermula
Dimana lagi tak ada tikungan liku bertanjak duri pedih menyair fana

Terang bulan tak lagi terang malam
Mengejar sang terbenam yang kian jauh
Menari diatas jutaan kepala tertunduk
Disanakah tempatnya?
Disanakah harusnya dia bersemayam

Sekali ini sama dengan sekali lalu
Kembali sama meski berbeda alur
Yang tercipta dari pribadi labil
Kendati dianggap tak labil lagi dalam bersikap

Yang ada sekarang dapatkah dihapus
Yang ada sekarang dapatkah diingkar
Yang ada sekarang dapatkah didusta
Yang ada sekarang yang ada
Tidak mengada-ada seperti adanya dahulu

Realita yang tak ada terbersit
Kendati pernah terucap
Namun sebenarnya tak diinginkan
Karena hanya merupakan isyarat
Agar benar-benarlah dalam menyatu


(290405)

Wednesday, October 06, 2010

Kecil dalam Hidup





Muka yang tertatap lewat satu sapuan
Inginkan terekam dalam sebuah masa
Cerca lebih seribu pun tak dihirau
Ratap sendiri pun tak didengarkan
Orang pelontar kata pun tak digubris
Sampai menjadi kalimat-kalimat tak berarti
Onggokkannya yang tertiup angin
Fana ketika dirasa
Tabu untuk dikata

Ohh
Firasat itu bukan sebuah isyarat
Fana itu, bukan sebuah lambang
Ia hanya ingin bercerita
Cerita tentang langkah kaki
Enyahkan semua yang membebani hati