Benarkan langkah
itu menjadi.
Ibarat tanah
tergerus dalam merupa yang menelaah ribuan makna dimuka. Antardiri pun tak
menyapa.
Saat temu dalam
maya menyapa yang ada enggan rasa mula mengiya tawaran. Bawa ini sekali putus,
tautan muka berhadap-hadap mengiringi menari jari di papan menyulam kata. Ya..seperti menemukan satu yang pupus
lama, angan berharap mampu
merusak lagi, kata.
Tapi apalah
terjadi dalam hitungan waktu mengikuti sorak-sorak di rongga yang mulai meleleh
asam. Kaku jari tak berkehendak menuruti isi kepala yang berkeinginan menuang
untai kata.
Entah apa yang
terpikirkan.



0 komentar:
Post a Comment