Sang peramal menarik sungging di balik jubah berpotongan setengah
Telapak kanannya terjulur menunjuk lempeng kayu dingin
Sejurus jemarinya mulai mengeluarkan gerakan mantra
Dia tengadah, kemudian membawa setengah jiwaku menghadap langit
Kerut di keningnya menaik
Kehampaan ruang diperlihatkannya sembari memainkan alat mantra ketika itu
Sorot matanya tampak seperti kebingungan
Tak lama, setengah jiwaku pun kembali dengan sang peramal masih mengoceh
Kutangkap sang peramal seperti salah tingkah
Mungkin..belum pernah dia gagal dan meramu mantra sebelumnya sehingga yang keluar dari mulutnya pun tak begitu mampu menepis raguku
Sang peramal hanya dapat memberikan pilihan bergantung karena untuk mengajakku kembali mengunjunginya pun dia tak berani
Sang peramal keyakinannya tergerus?
Sang peramal mantranya tak kuat lagi?
Sang peramal menyesali diri?
Sang peramal mencatat gagal?
Sang peramal tak ambil pusing?
Setengah jiwaku kubawa lagi setelah bulan tak lagi datang
Raut sang peramal masih sama seperti saat kutinggal lama
Tersentak sedikit ketika tahu setengah jiwaku tak dijemput bulan
Lalulah, mantra pun mulai dirapal
Kembali setengah jiwaku menghadap langit
Sang peramal berubah mimik muka
Sepertinya dia senang
Mantra yang dilepasnya lama ada juga hasilnya
Namun tetap saja kelihatan ia salah tingkah
Biarlah..
Biarlah sang peramal merasa mantranya mumpuni
Aku tak hirau
Aku berharap mantra lain
Meski harus kutebus pundi berat
Telapak kanannya terjulur menunjuk lempeng kayu dingin
Sejurus jemarinya mulai mengeluarkan gerakan mantra
Dia tengadah, kemudian membawa setengah jiwaku menghadap langit
Kerut di keningnya menaik
Kehampaan ruang diperlihatkannya sembari memainkan alat mantra ketika itu
Sorot matanya tampak seperti kebingungan
Tak lama, setengah jiwaku pun kembali dengan sang peramal masih mengoceh
Kutangkap sang peramal seperti salah tingkah
Mungkin..belum pernah dia gagal dan meramu mantra sebelumnya sehingga yang keluar dari mulutnya pun tak begitu mampu menepis raguku
Sang peramal hanya dapat memberikan pilihan bergantung karena untuk mengajakku kembali mengunjunginya pun dia tak berani
Sang peramal keyakinannya tergerus?
Sang peramal mantranya tak kuat lagi?
Sang peramal menyesali diri?
Sang peramal mencatat gagal?
Sang peramal tak ambil pusing?
Setengah jiwaku kubawa lagi setelah bulan tak lagi datang
Raut sang peramal masih sama seperti saat kutinggal lama
Tersentak sedikit ketika tahu setengah jiwaku tak dijemput bulan
Lalulah, mantra pun mulai dirapal
Kembali setengah jiwaku menghadap langit
Sang peramal berubah mimik muka
Sepertinya dia senang
Mantra yang dilepasnya lama ada juga hasilnya
Namun tetap saja kelihatan ia salah tingkah
Biarlah..
Biarlah sang peramal merasa mantranya mumpuni
Aku tak hirau
Aku berharap mantra lain
Meski harus kutebus pundi berat



0 komentar:
Post a Comment