Mata putri malam menjingga dari putih setengah di separoh
keriuhan tersisa
Tak sampai tengah malam, terkatup sepalingan kepala
Tak sempat nahkoda penunggang kuda menikmati mesranya tatap putri malam
Deretan pembilang hitung
Mencipta banjir hidung
Tiada peka pada malam kidung
Antar nahkoda di pintu bingung
Ooo...malam pantai tak debur ombak
Nahkoda habis akal melontar tombak
Bukan karena dibekal legiun untuk merompak
Tapi belum terasah pada perang tak berotak
Nahkoda mau maju perang
Tak lagi sambil menunggang kuda
Tapi ragu apakah laut medannya
Atau mungkin juga takut pada yang tak patut
(Manado, 2011)
Tak sampai tengah malam, terkatup sepalingan kepala
Tak sempat nahkoda penunggang kuda menikmati mesranya tatap putri malam
Deretan pembilang hitung
Mencipta banjir hidung
Tiada peka pada malam kidung
Antar nahkoda di pintu bingung
Ooo...malam pantai tak debur ombak
Nahkoda habis akal melontar tombak
Bukan karena dibekal legiun untuk merompak
Tapi belum terasah pada perang tak berotak
Nahkoda mau maju perang
Tak lagi sambil menunggang kuda
Tapi ragu apakah laut medannya
Atau mungkin juga takut pada yang tak patut
(Manado, 2011)



0 komentar:
Post a Comment