Saturday, July 25, 2015

Nahkoda Penunggang Kuda (Episode 2)


Kabar mengejutkan datang dari juru hitung
Para dewa ternyata telah lama menanggalkan berkatnya pada para pasukan
Aku tercengang
Bukan hanya menanggalkan berkatnya, tapi juga para dewa tetap menghitung jumlah saji sembah yang harus kami bakar dalam pemujaan
Padahal, dari atas sana mereka tahu pasukan berperang pada kondisi apa adanya
Dan kalau sudah tahu, mengapa pula pasukan itu tak diputuskan untuk ditarik
Kemudian ditempatkan pada pertempuran lain yang lebih memadai perangkat perangnya.

Kabar itu kuterima ketika sebagai laskar penunggang kuda, aku mendapatkan jatah pampasan perang darat.
Tak hanya itu, satu panglimaku pun kebagian, karena dia dulunya panglima yang juga berjasa di peperangan darat itu.
Sampai pada satu saat, dia mendapat tugas memimpin pasukan untuk pertempuran laut. Sebuah pertempuran yang dijanjikan hal muluk
Tapi ternyata belakangan dibiarkan mengarungi samudera sendirian
Memang tak sepenuhnya sendirian, karena para dewa masih mengulur tangan tapi muka berpaling ke kawasan lain.

Aku tergamam memegang daun lontar yang diberikan juru hitung.
Galau juga melanda ketika menerima hasil pampasan perang.
Perang musim sebelumnya, aku tak galau menerimanya
Ya..perang dimana tempatku sebagai laskar penunggang kuda kerap menuai gemilang Meski sedikit, namun  pertempuran itu selalu membuatku bergairah melakoninya.
Tak peduli kudaku lelah.
Dia pun tetap bersemangat, meski kami berdua kadang jenuh melihat dan menginjak darah berceceran.
Demikian pula ketika kudaku kubawa dalam perang darat dan laut sekaligus.
Dia masih mampu meski lelah mendera.

Aku dan satu panglimaku bersepakat.
Galau dihalau menjauh
Kata diguna memapar
Menyibak resah pasukan perang laut
Pampasan perang darat harus dirasa di laut jua
Berdua mencoba merajut rasa

Sejenak, cukuplah mereda resah pasukan laut.
Tapi itu belumlah cukup.
Kabar juru hitung kusampaikan
Mereka juga terperangah
Mereka juga membayang nasib di medan perang
Kalah, tenggelamlah raga
Menang, masih belumpun para dewa berbijak
Entah pertempuran apa yang dilaga
Menggantung asa dari nahkoda yang masih menunggang kuda diburitan?
Seberapa kuatlah aku?

Perang laut yang kupunya buta peta
Perang laut yang kuingin lepaskan memainkan pedang usang
Perang laut yang kupimpin dari atas kuda menebas ombak berbalik
Perang laut..bukan tidak menjanjikan
Ia hanya butuh uluran berkat lagi daripara dewa

0 komentar: