Senyum tuan tidaklah menawan.
Bagiku meski mungkin tulus tapi itu sebuah
diplomasi mendapatkan pengakuan.
Panggung yang tuan duduki tak membuat tulus itu
benar adanya kecuali terdekat tuan.
Meski sekilas aku akui tuan berwajah mulus dengan
atribut rapi lainnya.
Tapi camkanlah, wahai sang Tuan mulus yang tak
tulus disudut mataku, mungkin dirimu hanya cerdas karena deraan panggung
tahunan.
Semakin tuan perbanyak bicara, semakin ruang
kepala tuan terlihat tak dalam.
Wahai Tuan mulus dengan ruang kepala sempit.
Pernahkah tuan mulus mencerna panggung yang
tuan lontarkan lewat bibir yang terkesan tertarik ke bawah.
Binar mata tuan yang menyala meminta
pengesahan akan cerdasnya ruang kepala sempit yang bergaung.
Bijaklah meski bermaksud lelucon yang
dilontar. Karena tuan bukan berada di panggung komedi hiburan dengan
benang-benang anyaman mulus didera besi pemanas.
Berhentilah tuan pada satu titik meninggi diri
seakan lebih mengenal bumi ini dengan segala hiruk pikuknya.
Toh tuan hanyalah berada dalam kandang sebagai
satu jago yang bakal tergerus jaman.
Apalah arti tuan melontar kata tak bermakna
yang justru mengkotak-kotak.
Tak sadarkah adanya tuan karena kami ada.
Nafas tuan dengan dada membusung dan dagu
tengadah pun adalah berkat kami.
Tak elok rasanya mencoba menggerus damai yang
memang sudah terkikis lewat lelucon murahan.
Bukan.
Itu bukanlah lelucon murahan dari tuan.
Tapi rasa hati tuan yang kalah dari panggung
yang menopang tuan.
Cuiihh...tuan menyumpah primordial yang
nyatanya tak sadar tuan juga berlaku.
Lihat saja, tuan bakal membalik ujung meriam
ketika biduk tak lagi muat menampung prajurit.
Jangankan menemui biduk berlayar lebar, yang
tak bertiang pun mungkin ditumpangi hanya karena disitulah tuan menggantungkan
saku dan gengsi.
Di saat itulah, aku akan menertawai tuan atas
mulusnya wajah tuan yang memulas diri tulus.
Sadarlah, saat itu tak lagi lama.
Tengoklah sejarah pada panggung tuan yang tak
pernah abadi sosok terpatri pada massa.
Mati tuan, hanyalah jadi cerita orang
terdekat.



0 komentar:
Post a Comment