Saturday, July 25, 2015

Tuan Mulus

Senyum tuan tidaklah menawan.
Bagiku meski mungkin tulus tapi itu sebuah diplomasi mendapatkan pengakuan.
Panggung yang tuan duduki tak membuat tulus itu benar adanya kecuali terdekat tuan.
Meski sekilas aku akui tuan berwajah mulus dengan atribut rapi lainnya.
Tapi camkanlah, wahai sang Tuan mulus yang tak tulus disudut mataku, mungkin dirimu hanya cerdas karena deraan panggung tahunan.
Semakin tuan perbanyak bicara, semakin ruang kepala tuan terlihat tak dalam.

Wahai Tuan mulus dengan ruang kepala sempit.
Pernahkah tuan mulus mencerna panggung yang tuan lontarkan lewat bibir yang terkesan tertarik ke bawah.
Binar mata tuan yang menyala meminta pengesahan akan cerdasnya ruang kepala sempit yang bergaung.
Bijaklah meski bermaksud lelucon yang dilontar. Karena tuan bukan berada di panggung komedi hiburan dengan benang-benang anyaman mulus didera besi pemanas.
Berhentilah tuan pada satu titik meninggi diri seakan lebih mengenal bumi ini dengan segala hiruk pikuknya.
Toh tuan hanyalah berada dalam kandang sebagai satu jago yang bakal tergerus jaman.

Apalah arti tuan melontar kata tak bermakna yang justru mengkotak-kotak.
Tak sadarkah adanya tuan karena kami ada.
Nafas tuan dengan dada membusung dan dagu tengadah pun adalah berkat kami.
Tak elok rasanya mencoba menggerus damai yang memang sudah terkikis lewat lelucon murahan.
Bukan.
Itu bukanlah lelucon murahan dari tuan.
Tapi rasa hati tuan yang kalah dari panggung yang menopang tuan.
Cuiihh...tuan menyumpah primordial yang nyatanya tak sadar tuan  juga berlaku.
Lihat saja, tuan bakal membalik ujung meriam ketika biduk tak lagi muat menampung prajurit.
Jangankan menemui biduk berlayar lebar, yang tak bertiang pun mungkin ditumpangi hanya karena disitulah tuan menggantungkan saku dan gengsi.
Di saat itulah, aku akan menertawai tuan atas mulusnya wajah tuan yang memulas diri tulus.

Sadarlah, saat itu tak lagi lama.
Tengoklah sejarah pada panggung tuan yang tak pernah abadi sosok terpatri pada massa.
Mati tuan, hanyalah jadi cerita orang terdekat.

0 komentar: