Melayang tak berisik menjejak petang
Bayang-bayang tak tergambar kala merapat pandang
Alur tersusun layaknya hari berpindah pindah
Dijalani pada bekal hati menyimpan pesona memberkahi diri
Sekali itu adalah sekali adanya, tak kira singgah, mustahil berulang
Bayang-bayang tak tergambar kala merapat pandang
Alur tersusun layaknya hari berpindah pindah
Dijalani pada bekal hati menyimpan pesona memberkahi diri
Sekali itu adalah sekali adanya, tak kira singgah, mustahil berulang
Alur melompat-lompat mengisah cerita biasa terekam kepala
Tapi ketika genggam penghuni langit menjemari, adanya mematri hati tersengal-sengal
Tapi ketika genggam penghuni langit menjemari, adanya mematri hati tersengal-sengal
Muasalnya pada bersisian menapak bumi
Kata terlontar pada kalimat-kalimat tak makna
Demikianpun, mencipta tarikan bibir seperti tulus tunduk tengadah
Tak sadar bungsu jari menyapa, memanggil kerabatnya untuk bersekutu
Sekali dua mengira jarak penyebab sapa tak dihirau
Ayunan berikutnya mencoba ditaut sejenak
Tak dinyana, persekutuan jari dapatkan jawaban mengait
Rasa hati coba meyakin diri pada sekali ayunan kembali
Mengait sengaja, menyentak dada, menghentikan laju ayunan
Persekutuan jari sigap menyerta
Mulanya satu saling menekuk, kemudian kerabat lainnya menyerbu sisi
Kata terlontar pada kalimat-kalimat tak makna
Demikianpun, mencipta tarikan bibir seperti tulus tunduk tengadah
Tak sadar bungsu jari menyapa, memanggil kerabatnya untuk bersekutu
Sekali dua mengira jarak penyebab sapa tak dihirau
Ayunan berikutnya mencoba ditaut sejenak
Tak dinyana, persekutuan jari dapatkan jawaban mengait
Rasa hati coba meyakin diri pada sekali ayunan kembali
Mengait sengaja, menyentak dada, menghentikan laju ayunan
Persekutuan jari sigap menyerta
Mulanya satu saling menekuk, kemudian kerabat lainnya menyerbu sisi
Genggam penghuni langit pupuskan ragu hati dari persekutuan
jari
Ianya menerbit tarikan tulus berpura di wajah
Tapi genggam memberi isyarat
Sudi menyerta membentuk sekutu pula
Rasa tak bergambar
Yang ada kesukaan menebas batas kagum
Memompa alir darah bukan pada tempatnya
Ianya menerbit tarikan tulus berpura di wajah
Tapi genggam memberi isyarat
Sudi menyerta membentuk sekutu pula
Rasa tak bergambar
Yang ada kesukaan menebas batas kagum
Memompa alir darah bukan pada tempatnya
Genggam penghuni langit menjawab tak mau lepas
Apalagi sekutu jari
Lama berlaku
Membentuk alur baru dari satu cerita
Berakhir kala pandang membuka
Menyisa dada memompa nafas
Apalagi sekutu jari
Lama berlaku
Membentuk alur baru dari satu cerita
Berakhir kala pandang membuka
Menyisa dada memompa nafas



0 komentar:
Post a Comment