Saturday, July 25, 2015

Sang Penafkah dari Pelanggan Lahat

Jejeran rumah masa depan itu rapi dan teratur.
Warna sama, putih keabu-abuan, menyiratkan keheningan tersendiri.
Villa bagi mereka yang sudah bermigrasi ke dunia lain itu merupakan lakon harian sang arsitek yang tak pernah menyentuh bangku strata.

Kau berdiri di terik matahari siang sambil mengamati satu persatu segi dibentuk.
Peluh itu memang aku lihat perlahan menetes di bilahan pelipis.
Sebandinglah dengan hasil yang akan didapat nanti.
Begitu usai, berlanjutlah nafas hidup hari-harimu dari kedukaan sebuah keluarga dari nafas yang dihembus terakhir kali.
Begitu juga mungkin dari kedukaanku yang akan membuat nafas hidup hari-harimu berlanjut.

Dapat dikata mulia jika bukan disebut penafkah lahat.
Mulia bukan sekadar melakoni jubah penafkah dari satu kematian ke kematian lain.
Mungkin saja senyuman tersungging di sudut bibir ketika pelanggan lahat memesan tempat. Tapi jauh di lubuk terdalam, terbersit pun engkau enggan berharap datangnya pengisi lahat. “Kualat kalau berniat atau berharap...,” katamu.

Mungkin juga kau sangat jarang melihat pelanggan lahat yang terbaring.
Entah balita, muda remaja atau telah merenta.
Yang ditemukan adalah deretan angka penanda lama hidup yang dipesan cetak.
Sampai pada akhirnya sang penafkah satu hari diuji. Pelanggan lahatnya adalah pemasadepannya.
Muda pemasadepan itu harus mengikuti jejak pelanggan lahat sang penafkah terdahulu.
Belum cukuplah merasai indah dunia, atau bahkan menyerap hasil dari keringat sang penafkah.
Pemasadepan itu mungkin jadi harapan penafkah lahat untuk tak lagi bergumul dengan keindahan bentuk dari sebuah kedukaan di masa tuanya. Pemasadepan harus menjejal tanah sebelum sang penafkah menuai bangga.
Ratap tak cukup sehari dua. Hitungan jari tak tercukup kau gambarkan rasa duka dengan menyambangi lahat pemasadepanmu.
“Saat itu bukan lagi sedih, tetapi sempat kesal....dia masih kecil,” katamu.

Waktu berlalu, sang penafkah dan insan hatinya merela.
Meski pernah tergerus batinnya, sang penafkah menetap hati melayani pelanggan-pelanggan lahat berikutnya. Sang penafkah dari pelanggan lahat menjadi panggilan hidup. Kelak, jika saatnya tiba, entah siapakah yang melayani sang penafkah melepas jubah, menjati diri pelanggan lahat.



0 komentar: