Jejeran rumah masa depan itu rapi dan teratur.
Warna sama, putih keabu-abuan, menyiratkan
keheningan tersendiri.
Villa bagi mereka yang sudah bermigrasi ke
dunia lain itu merupakan lakon harian sang arsitek yang tak pernah menyentuh
bangku strata.
Kau berdiri di terik matahari siang sambil
mengamati satu persatu segi dibentuk.
Peluh itu memang aku lihat perlahan menetes di
bilahan pelipis.
Sebandinglah dengan hasil yang akan didapat
nanti.
Begitu usai, berlanjutlah nafas hidup
hari-harimu dari kedukaan sebuah keluarga dari nafas yang dihembus terakhir kali.
Begitu juga mungkin dari kedukaanku yang akan
membuat nafas hidup hari-harimu berlanjut.
Dapat dikata mulia jika bukan disebut penafkah
lahat.
Mulia bukan sekadar melakoni jubah penafkah
dari satu kematian ke kematian lain.
Mungkin saja senyuman tersungging di sudut
bibir ketika pelanggan lahat memesan tempat. Tapi jauh di lubuk terdalam,
terbersit pun engkau enggan berharap datangnya pengisi lahat. “Kualat kalau
berniat atau berharap...,” katamu.
Mungkin juga kau sangat jarang melihat
pelanggan lahat yang terbaring.
Entah balita, muda remaja atau telah merenta.
Yang ditemukan adalah deretan angka penanda
lama hidup yang dipesan cetak.
Sampai pada akhirnya sang penafkah satu hari diuji.
Pelanggan lahatnya adalah pemasadepannya.
Muda pemasadepan itu harus mengikuti jejak
pelanggan lahat sang penafkah terdahulu.
Belum cukuplah merasai indah dunia, atau
bahkan menyerap hasil dari keringat sang penafkah.
Pemasadepan itu mungkin jadi harapan penafkah
lahat untuk tak lagi bergumul dengan keindahan bentuk dari sebuah kedukaan di
masa tuanya. Pemasadepan harus menjejal tanah sebelum sang penafkah menuai
bangga.
Ratap tak cukup sehari dua. Hitungan jari tak
tercukup kau gambarkan rasa duka dengan menyambangi lahat pemasadepanmu.
“Saat itu bukan lagi sedih, tetapi sempat
kesal....dia masih kecil,” katamu.
Waktu berlalu, sang penafkah dan insan hatinya
merela.
Meski pernah tergerus batinnya, sang penafkah
menetap hati melayani pelanggan-pelanggan lahat berikutnya. Sang penafkah dari
pelanggan lahat menjadi panggilan hidup. Kelak, jika saatnya tiba, entah siapakah
yang melayani sang penafkah melepas jubah, menjati diri pelanggan lahat.



0 komentar:
Post a Comment