Mata ini masih mengantuk.
Kau harusnya sadar
Mata ini masih terasa perih akibat torehan baris kata.
Tak cukup gurat hangat tertempa di muka menghapus timbangan rasa menggelegak yang muncul tiba-tiba setelah malam merangkak.
Hangat genggam jari sejiwa sebelah hanya menenangkan sesaat sebelum mengeram derit liuk besi.
Tak cukup gurat hangat tertempa di muka menghapus timbangan rasa menggelegak yang muncul tiba-tiba setelah malam merangkak.
Hangat genggam jari sejiwa sebelah hanya menenangkan sesaat sebelum mengeram derit liuk besi.
Sejuk pagi pun masih belum mampu menyingkirkan gelegak malam
bersisa.
Aku tak terbiasa dan enggan bertutur seperti kanak yang
terganggu rasa hatinya. Kemudian meringkuk melepas sesak dada sembari menuding
asal tersakiti. Kesombongan menderaku untuk mengatup dan membiarkan suara-suara
serta pekik-pekik penentangan tetap berada di tempatnya.
Aku tak mau menyeret para penguasa hatinya ikut bersekutu
denganku.
Tidak untuk sekadar mengiyakan hingga bahkan melebihi diriku
mengutuk.
Kau harusnya sadar
Peperanganmu di ladang gersang bukan perangku
Mantera sihirmu bukan pula tenaga raga mengayun pedangku.
Jangan engkau seret aku dalam perang ego mu pada para dewa
Melontar ketidakpuasan dengan mengorbankan prajurit yang
sudah sakit
Usahlah meminta minum dari piala emas yang diberi para dewa
Karena pedangmu saja belumlah cukup meminum darah
Aku berdiri di buritan kapalpun karena keingintahuan belaka
untuk berlabuh di tanah asing.
Maka ketika titah berbunyi, lembar lontar segera kuserahkan
sendiri pada para dewa.
Aku menolak nahkoda karena aku adalah laskar penunggang
kuda.
Namun titah tetaplah kuasa dewa, yang membuatku menjadi
nahkoda sembari menunggang kuda di buritan kapal.
Gagah memang.
Tapi tahukah kau betapa limbungnya ketika berombak.
Kudaku yang sudah terbebani diriku masih harus mengimbang
kaki.
Tahukah kau?
Aku nahkoda tanpa peta dan tanpa pundi emas dari para
dewa.
Aku hanya berbekal pundi perunggu yang berlubang tengahnya.
Tak ingatkah engkau pundi perakku yang dibawakan bangau saat
mengarungi samudera, adapula kau rasa?
Pundi itu kusisih karena kita masih di laut bebas.
Kusimpanpun mungkin hilang kala ombak menerjang buritan.
Aku menyisih pundi agar isi kepala mu tahu, kita berperang
tanpa tombak panjang.
Aku hanya mau kau mengerti, dengan pedang usangmu, sudah
cukup baik jika kita mampu menahan musuh.
Itu saja dulu.
Jangan kau harap tameng baja berlukis.
Jangan kau harap lembing bermata tajam.
Jangan kau harap anak panah berbusur terik.
Karena tak ada semua itu sampai sang dewa melihat kita
menjejak kaki bukit.
Pakai saja dulu pedang dan perisai usangmu.
Jangan dengki melihat kilauan pedangku.
Toh kau menggunakan penutup dada yang lebih mengkilat
dariku yang kau dapat dari perang lainnya.
Pakai juga isi kepalamu dan timbang rasamu
Karena itu lebih dari segala perangkat perang
Dungu hanya milik keledai malas yang mesti diseret-seret
Dan segeralah sadar
Aku nahkoda yang tetap menunggang kuda di buritan kapal,
tanpa pundi emas dari para dewa



0 komentar:
Post a Comment