Saturday, August 15, 2015

Gadis Pelayan Resto


Salju tak lagi turun
Salju masih memutih luas hampar daratan
Salju kujamah malu ujung kuku
Ini kali lihat, pertama rasa, enggan pula mencecap

Kali itu, mungkin pertama, juga tak dua melebih
Gadis pelayan resto menyerupa salju
Anak cucu dari pangkat sekian 1800-an lalu, menderajat diri pada kelas bangsa yang tinggi
Membudak leluhur sekehendak hati hingga jajah, namun sejenak membalik
Seperti sama pada gaya leluhurku pada leluhurnya yang kini dilakoninya


Aku memandang bukan sekadar mengagum
Menanya hati, meninggi diri, bahwasannya keturunan itu melayanku
Menyelempang tangan merapat badan sekaligus membungkuk hormat dengan suara pelan
Dingin tak mampu usir congkak dada mendongak dagu
Aku pun berperilaku seperti leluhurnya dahulu pada leluhurku
Pun, ingin aku menjajah dan perilakunya membasuh mungkin luka hati

(Amsterdam, 2010)

0 komentar: