Matahari telah lama mengangkat cahayanya saat itu
Bukan lagi sekadar cukup hingga hangatnya pun tak bersisa
Bulan yang malu-malu muncul mengganti
Tidak bulan maupun matahari yang hilang sebagai penanda
Hiruk pikuk dibawah cahaya buatan juga seperti lonceng
bermula
Embun memulai memacu nafas
Embun memulai memeras peluh
Embun memulai cekatan pada karya
Wahai Embun
Beningmu tak sebanding orang-orang pada keranjang
Beningmu tak sebanding orang-orang pada lapak
Beningmu tak sebanding orang-orang pada basah beton
Apalagi
Beningmu tak sebanding orang-orang yang terbiasa cipratan lumpur
bau
Wahai Embun
Wangimu memang tak pernah melintasi inderaku
Wangimu memang tak pernah membuatku menoleh padamu
Wangimu memang tak pernah kutahu seperti apa
Tapi yang pasti, engkau punya itu sebagai pelengkap beningmu
Wahai Embun
Ingin aku melontar kata dan tanya
Tapi sudahlah
Orang pada keranjang, lapak, beton basah dan yang terbiasa
cipratan lumpur bau tentu sudah lebih dahulu
Dan
Mungkin saja engkau tak benar-benar ingin menjawabnya
Wahai Embun
Beningmu membuatku menoleh
Beningmu membuatku bertanya-tanya
Beningmu yang kusebut, adalah pertanda kekaguman
Atas pacu nafasmu
Atas peras peluhmu
Atas cekatanmu
Atas kehendakmu mengumpulkan rupiah
(Pontianak 2015)



0 komentar:
Post a Comment