Thursday, November 02, 2017

Cerita Satu Beranda


Kawan
Aku melihatmu lewat beranda di jendela
Kau seperti menggerutu
Menampakkan urat kening
Lalu lalang isi kepala dan hatimu siap beradu

Kawan
Aku pernah juga sepertimu
Sampai aku melontar tanya
Apakah benar dari hati
Kepada diri
Kepadanya-kepadanya

Aku tak mencelamu
Cemooh pun aku tak ingin
Tapi kawan
Mari kita menyeberang ke sana
Sejenak merasa
Sejenak pikir seperti mereka

Kawan
Terbanglah, kau tentu akan menyingkirkan awan gelap
Berenanglah, kau tentu akan meredakan gelombang badai
Berjalanlah, kau tentu akan memadamkan api gunung

Aku juga pasti sepertimu
Tapi kawan
Aku mengajakmu sejenak menyeberang
Supaya tak ada kata-kata busuk ketika kita tak lagi seperti sekarang

Bukan ku tak mencintainya kawan
Aku mengaguminya karna ku tak tahu dimana batas cinta
Ya.
Sebatas mengagumi
Entahlah bisakah
Sebatas cinta
Dimana batas cinta
Bisakah cinta berbatas
Apa yang lebih dari cinta
Karna di situ mungkin batas cinta
Dan bisa menjadi
Sebatas cinta saja
Tidak lebih dari cinta

Kawan
Aku tak ingin ada sebatas kawan, karna kuingin sodara
Aku tak ingin sebatas suka, karna kuingin memujamu
Kuingin seperjuangan di garis depan ini tetap berlaku
Tak lekang dibeda seberang karna urat kening beda lekuk

Maka
Sejenak saja, sejenak kita menyeberang
Sedikit kita mengisahkan mereka untuk menghapus kecamuk hati dan pikir

Kawan
Aku melihatmu lewat beranda di jendela
Izinkan aku menghapus gerutumu
Izinkan aku mengusap urat keningmu
Izinkan aku meringankan kepala dan hatimu yang siap beradu

(basnov17)

0 komentar: